Study in Japan

  • 10/09/2011 09:18:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 10 Comments

Kyoto Daigaku - google.com

Berawal dari dorama Jepang, saya jadi menggebu-gebu pengen segera kuliah di sana. Pengen tahu dengan mata kepala saya sendiri Tokyo Tower kaya apa, pengen ngrasain dengan badan sendiri main ayunan di koen yang bertebaran dimana-mana, makan ramen, nonton festival dan gowes dengan nyaman.

Well, cita-cita yang sudah tidak ingin saya bendung itu memaksa diri saya untuk memilihnya sebagai bagian dari impian yang ingin saya capai. Maka, saya pun melakukan segala cara untuk bisa mewujudkannya. Alhamdulillah sudah pernah ngrasain belajar bahasa Jepang walaupun nggak bersama native speaker, kalau cuma berkenalan standar saya taulah, hehe ~somboong~

Selanjutnya, saya melakukan ritual mencari info di web, sekolah mana ya yang pengen saya masuki, yang terkenal si Todai (aka tokyo Daigaku), tapi saya gak muluk-muluklah, pengennya memperdalam ekonomi atau Manajemen SDM, dan akhirnya secara tidak kebetulan (*di dunia ini tidak ada yang kebetulan bukan?) saya memilih Kyoto Daigaku sebagai kampus impian. Kyoto Daigaku dapat diibarakan sabagai UGM-nya Indonesia, udah ada sejak bertahun-tahun lalu. Kampus yang sudah tua. Beberapa gambarnya saya print, potong dan tempel di dreambook. Tulis : "aku kuliah di kampus ini tahun 2015". Ja jang ~ program memasukkan ke otak bawah sadar selesai. Tinggal gimana caranya supaya semestakung (semesta mendukung) bekerja. So, I spread this dream to everyone, tentu saja hanya kepada orang-orang yang selalu support saya, biar saya didoain yang terbaik, kalau saya ceritakan sama orang yang gak suka sama saya malah jadinya nanti disumpahin, wkwkwk.

Sebenarnya, saya sendiri masih bingung, karena saya belum lulus S1, dan minat saya pada sebuah study pun belum mengerucut, tapi bagi saya ada dua hal yang menarik : ekonomi atau pendidikan. Keduanya saya harapkan bisa membantu saya untuk bisa jadi sebaik-baik manusia versi Rasululloh saw, yaitu orang yang paling bermanfaat. Negeri yang saya tinggali saya sekarang cukup carut marut dalam kedua bidang tersebut, banyak pengangguran nyata dan terselubung, perekonomian dimonopoli oleh 0,2% (pebisnis di Indonesia cuma segitu) dan pendapatan pun belum merata. Gak usah ngomongin GDP deh, soalnya sering bikin nyesek, diliat dari segi konsumsi negara kita itu gedhe bener, sayangnya banyak yang suka ngutangnya lebih besar dari pasak. So, kesimpulan sederhananya, pengetahuan soal ekonomi masih belum dimiliki oleh masyarakat Indonesia, kenapa? karena pendidikan mereka tidak mencakup hal tersebut. Yeah, komplek deuhh ~

Hari ini, saya merasa juga tidak kebetulan untuk datang ke Japan Education Fair. Sehabis kondangan dari tempat Mas Sigit, saya dan Farida capcus ke JCC (*merelakan kaki berhigh heels ria sampai sore). Sampai di sana, wiyy, rameee ~ Mau tau siapa yang hadir? Sebagaian besar si usia kurang dari 30, tapi banyak juga yang sudah usia 40 ke atas. Usia di bawah 30 adalah mereka calon lulusan SMA, atau fresh graduate S1. Dan yang 40 tahun ke atas adalah para orang tua yang cari info buat nyekolahin anak-anaknya (*kereeen)

Di fair ini hadir perwakilan dari 19 Universitas ( dan salah satunya adalah Kyoto Daigaku impian saya), 8 lembaga bahasa Jepang dan ada 4 lembaga pendukung lain. Di tempat registrasi, saya dapat leaflet susunan acara, The Daily Jakarta Shinbun dan Buku Panduan Belajar ke Jepang. Wuhuu~ senaaang.

Masuk ke ruang pameran, langsung deh bingung mau ke stand mana. Oke, oke akhirnya mampir dulu ke yang terdekat, stand nya Jasso (si penyelenggara fair), di stand ini kita boleh nanya-nanya secara umum tentang how to study at Japan, how much fee of study,how much fee of life, dst, pokoknya yang umum-umum. Karena masih ruaamaii, jadilah saya jalan lagi ke arah dalam, eh ada EJU, ujian untuk masuk universitas di Jepang untuk mahasiswa yang berasal dari luar negei, kayak SPMB gitu, jadi khusus untuk mereka yang mau daftar program undergraduate. Jadi saya gak perlu dong? Nggaaakk ! Hehe,

Jalan lagi dan mampir ke Nihongo Center, pusat belajar bahasa Jepang di Osaka sana, wew, seru siy, bisa pilih program untuk persiapan ujian atau untuk komunikasi, tapi e tapi, biayanya bikin jantung copot, 63 jeti setahun, duit darimane aye? Haha, okelah, cuma bisa tarin napas panjang ajah ~

Oh iya, kan mau liat stand Kyoto Daigaku, sipp, gak terlalu rame. Setelah dipersilakan,
Lilis : Mba (kebetulan yg jaga dari embassy) di Kyoto Daigaku paling bagus fakultas apa ya?
Mbaknya : wah, bentar ya, saya tanya dulu (say in Japanese to Kyoto's people), emm, masing-masing kampus pasti punya yang dijagoin si mba, Kyoto siy engineering..
Lilis : (krik krik, maunya saya pan ekonomi atau pendidikan) Emm, gitu ya mba, ada bea siswa dari kampus gak mba?
Mbaknya : Kalau bea siswa full si adanya Mambuso, di kampus ada, tapi setelah masuk, biasanya khusus untuk mahasiswa luar negeri banyak kok, kalau gak, bisa juga cari bea siswa dari perusahaan jepang.
Lilis : Oo gitu ya mba, baiklah makasih ya  mba..

Yang paling seru adalah di Kedutaan Besarnya Jepang, ibu-ibu penjaganya galak benerr, gak sabaran kali ya,dikerubutin penanya-penanya, hahaha. Di stand ini dapet brosur Bea Siswa Manbuso (MEXT), untuk bisa dapet bea siswa S2, persyaratannya sbb.

1. Usia di bawah 35 tahun (abis lulus S1 tambah 2 tahun masih berumur 27 th lah ya :DD)
2. Lulusan D4/S1/S2 (insyaAllah S1)
3. IPK di atas 3.0 (amiin Ya Rabb)
4. TOEFL di atas 550 (insyaAllah bisa) atau JLPT di atas level 2 (kanji minimal 1000 bo~)

Tapi, yang paling krusial di antara ke empat syarat tersebut adalah bagian di salah satu dokumen yang mensyaratkan kita membuat esai tentang rencana study, jika rencana study kita keren, bermanfaat, dan brilliant, insyaAllah bea siswa pun mudah didapat. Nah, selamat mencari ide ya, kira-kira pengen bikin thesis tentang apa nantinya, semakin banyak manfaat untuk ilmu pengetahuan dan pembangunan masyarakat, itu makin baik :D

Sehabis dari stand kedutaan, Lis mampir ke Kwensei Gakuin (Institute of Business and Management), sekolahnya ada yang full bahasa Inggris, liat brosurnya si seru juga, mahasiswa dari berbagai negara dan sistem pengajarannya lumayan asyik, field of study dari professor2nya juga menarik. Intinya, seru juga kalau bisa kuliah disitu, well, as usual, biayanya bikin jantungan, rasanya cari bea siswa adalah satu-satunya cara untuk kuliah di Jepang.

Terakhir, akhirnya balik lagi ke Jasso, minta brosur tentang daftar alamat website yang menyediakan informasi tentang kampus dan bea siswa. Fiuhh`, akhirnya beres juga mengelilingi stand-stand, walaupun belum semua saya samperin, tapi overall jadi kebuka pikiran, haha, mau ikut Mambuso atau via kntor. Kalau ikut Mambuso kemungkinan gak diijin atasan atau harus cuti diluar tanggungan negara muncul, kalau lewat kantor, boleh juga siy, tapi perjuangannya lebih puanjaang.

But, man jadda wa jada kan? Siapa yang berusaha akan mendapat, insyaAlloh. Jangan lupa juga bahwa Allah lebih suka Muslim yang optimis daripada Muslim yang lemah. Dan juga, di QS Ar Ra'du 11, bahwa Alloh SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika ia tak mau mengubahnya. Mau sukses? Usaha. Selain Usaha? Berdoa, rajin ibadah, dan tawakal :D

Jya, sepulang dari JEF, Lis bertekad satu hal, kalau orang lain bisa, maka Lis juga insyaAlloh bisa. Temans, selamat mengumpulkan kepingan takdir yang ingin kalian satukan. Impian apapun itu, pilihlah impian yang menyenangkan semua orang terutama menyenangkan Allah :3

See you on next chapter ~
(laper oey, mau maem trus ngerjain pe er, hag hag - satu chapter untuk kepingan takdir juga ini XDD )









You Might Also Like

10 comments

  1. Assalamu'alaikum, blogwalking, baca2 n salam kenal ^_^
    Saya follow Blognya, follow balik ya ke AndyOnline.Net
    jangan lupa buat yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)

    BalasHapus
  2. mba liiiiz,,, seru skali, rasanya menggebu-gebu juga ane...

    semoga kita bisa reuni disana ya... ^^

    BalasHapus
  3. Kak Andy : woyoo, okey Kak :), terima kasih sudah mampir ~

    Mb Tyas : Aamiin Ya Rabb, :3
    Semangat mb Yaz :)

    BalasHapus
  4. Jazakillah khaiir yak, Ririsuchan...

    jadi inget rencana studi yg keteteran, mesti ditata ulang nih rencananya :)

    Semoga yg ada di dreambooknya bs tercapai :D

    BalasHapus
  5. Mb Renchan : menikah bukan hambatan mba, harusnya itu strength, selamat merencanakan :3

    BalasHapus
  6. pungennn juga....tp males mikirnya lis..gimana dunk..hehehehe...misua planning S3..aq dsuruh nyoba S2..hehehe..man jadda wa jadda...dgn buntut 3...hehehe

    BalasHapus
  7. Uwaaaaaa... jadi ikutan menggebu juga :D
    Kyodai ya,, hm...
    Syarat manbusho-nya mantep ya. Mumet saya. Life cost di jepang emang gila2an. Andai bahasa pengantar perkuliahannya bahasa inggris, kan lumayan (pusing maksudnya #dor )

    Andai import mie indomie dari indonesia murah :D

    Lis, kalo ada info lagi kasih tau ya! :D

    BalasHapus
  8. Malah itu tantangannya Mba, bagaimana caranya membuktikan kepada anak-anak, bahwa mereka adalah support dan energi luar biasa yang selalu menjadi pengingat ketika kita malas, apalagi suami sudah mendukung,semoga mba bisa menjadi contoh saya nantinya, sukses keluarga, sukses akademis, sukses juga ibadahnya, Good Luck ~

    BalasHapus
  9. Wah, Kyoto memang kota yg indah dan asri. Kyodai juga kampus yg bagus. Salah satu alternatif kuliah di sini adalah lewat jalur MEXT U-to-U antara Kyodai & UI (coba dicek ada ato tidak kerjasama antar keduanya).
    Di Kyoto ada akh Sofwan Al Banna (alumnus HI UI) yg skarang hampir mnyelesaikan S3nya.
    Jika ga ada U-to-U, ya dicoba MEXT jalur G-to-G aja ke kedubes jepang di jakarta. Smoga mimpimu jadi kenyataan.

    BalasHapus
  10. Nur Ahmadi :
    Hai, senpai :)
    Arigatou ~

    BalasHapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)