Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Part 1 : Kayuh, Kayuh, Kayuh

Gambar
pasarkreasi.com Kayuh. Aku harus terus mengayuh pedal ini, jika tidak. Aku akan kehilangan mukaku di depan anak-anak. Aku sudah berjanji membelikan mereka susu untuk minggu ini. Mereka sudah mulai bosan dengan tajin yang kubuat banyak-banyak saat menanak nasi. “ibu, aku ingin minum susu”, begitu rengek Dinda. “Sabar ya Nak, seminggu ini ibu akan cari rejeki. Doain ya, supaya kita punya uang untuk beli susu”, kata-kataku sendiri tak bisa lenyap dari benakku. Terus berdering, deringnya senyaring bunyi bel sepeda miniku.   *** “Ibu, hari ini kita makan lauk apa ?”, tanya Jaka, anakku yang paling besar. Dia bertanya begitu bukan karena dia manja, dia hanya memastikan bahwa adik-adiknya makan dengan lauk-pauk yang wajar, lauk-pauk yang normal. “Emm, seperti biasa Jaka, ibu baru bisa menggoreng tahu. Jaka suka kan?” Aku yakin betul dia akan mengatakan suka. Ekspresi nya saat makan selalu membuatku tiba-tiba kenyang. Dia makan dengan lahap. Setiap makanan dimakannya dengan antusias, bahkan ji

Menanam Biji Kebaikan

Gambar
weheartit.com Hidup adalah bertani, kita menanam biji kebaikan satu demi satu. Kita rawat biji kebaikan itu, kita pupuki, kita siangi. Hingga ia tumbuh. Tak selalu kita petik hasilnya di dunia. Tapi setiap kebaikan yang tulus, pasti akan kita petik hasilnya di akhirat ~Athiah Sulthon Setiap orang punya caranya sendiri dalam menebar biji kebaikan. Jutaan buku dan kisah memberi kita milyaran inspirasi tentang arti 'menanam biji kebaikan'. Saya masih ingat kisah Ustadz M.Fadlan di pedalaman Irian, yang memulai dakwah Ilallah nya dari mengajarkan orang-orang di Irian mandi dengan menggunakan sabun. Hihi, keliatannya hal yang kecil ya? " Ngajarin mandi mah, saya juga bisa" . Mungkin begitu celetuk kita. Tapi, untuk bisa memulai sesuatu yang baru. Tidak semuanya bisa dibilang mudah. Saya yakin, Ustadz itu telah ditolak berkali-kali sampai akhirnya berhasil membuat mereka merasakan betapa asyiknya mandi dengan sabun. Di sana, di saat menaman biji kebajikan, kita perlu memula

{Surat untuk Langit} 02 Desember 2011

Gambar
Hai langit, Pagi ini ceria sekali sepertinya. Lihat, birumu sampai meresap ke hatiku. Hihihiy, Mari berterima kasih pada Pembuat hujan, oksigen diproduksi besar-besaran, paru paru pun rasanya ikut senang hari ini. Langit, Tolong sapa ayah bundaku juga ya, mereka masih di kelas pagi ini. Mengajar murid-muridnya tentu. Aku membayangkan mereka sedang di kelas dan mungkin agak kewalahan menghadapi murid-murid macam aku, yang kalau udah bosen akhirnya nggambar atau twitteran (what a bad girl *rrr). Hehe, jadi inget, dulu temen sebangkuku bilang begini : Lis, kamu tidur sambil ndengerin ya? Kalau Bapaknya nerangin kamu tidur, pas Bapaknya selese kamu nanya . Haha, entahlah, kadang aku setengah tidur, setengah ndengerin. Kadang-kadang juga nanya supaya afdhol aja #eaaa (merasa bersalah udah bobo di kelas, minimal aku nunjukkin kalau aku ngerti, :P). Semoga murid-murid ayah bundaku gak begitu, mereka seharusnya murid-murid yang baik. Langit, Kemarin siang salah satu murid ayah yang sudah lulu