Menanam Biji Kebaikan

  • 12/22/2011 01:22:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments

weheartit.com

Hidup adalah bertani, kita menanam biji kebaikan satu demi satu. Kita rawat biji kebaikan itu, kita pupuki, kita siangi. Hingga ia tumbuh. Tak selalu kita petik hasilnya di dunia. Tapi setiap kebaikan yang tulus, pasti akan kita petik hasilnya di akhirat ~Athiah Sulthon
Setiap orang punya caranya sendiri dalam menebar biji kebaikan. Jutaan buku dan kisah memberi kita milyaran inspirasi tentang arti 'menanam biji kebaikan'. Saya masih ingat kisah Ustadz M.Fadlan di pedalaman Irian, yang memulai dakwah Ilallah nya dari mengajarkan orang-orang di Irian mandi dengan menggunakan sabun. Hihi, keliatannya hal yang kecil ya? "Ngajarin mandi mah, saya juga bisa". Mungkin begitu celetuk kita. Tapi, untuk bisa memulai sesuatu yang baru. Tidak semuanya bisa dibilang mudah. Saya yakin, Ustadz itu telah ditolak berkali-kali sampai akhirnya berhasil membuat mereka merasakan betapa asyiknya mandi dengan sabun. Di sana, di saat menaman biji kebajikan, kita perlu memulainya dari hal terkecil yang bisa kita tanam, terus rawat, sampai ia tumbuh. Ulangi terus dan terus, lahan yang ini mungkin tidak menumbuhkan biji kebajikan kita, mungkin di lahan sebelah. Begitu seterusnya, tanpa henti.

Ada juga kisah seorang Ibu yang saat ini telah berhasil mendirikan sebuah yayasan yang mengkoordinir majelis ta'lim di Jakarta. Ia adalah Hj.Sri Vira Chandra. Saat ini, biji kebaikan beliau memang sudah dapat dikatakan tumbuh. Tapi, kalau kita flashback, beliau juga memulainya dari hal kecil. Ia hadir di majelis ta'lim di daerah sekitar rumahnya, duduk dan mendengarkan, mencoba mengenal anggota majelis satu-satu, menghormati ustadzahnya, baru kemudian memberikan pendekatan terkait kurikulum majelis ta'lim yang seharusnya, supaya tidak sekedar membaca Yasiin tetapi juga belajar islam lebih mendalam. Ustadzah Sri melihat kesempatan sebagai sarana untuk menanam biji kebaikan. Tidak sembarangan menanam, ia menggunakan strategi. Menanam kedelai tentu tidak sama dengan menanam jagung, keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda.

Kisah terakhir hadir dari seorang Helvy Tiana Rosa, yang dengan novelnya yang berjudul Ketika Mas gagah Pergi telah menggugah ribuan pembacanya untuk mengingat kembali hakikat diri mereka, siapa mereka, untuk apa mereka diciptakan. Ribuan wanita akhirnya memutuskan untuk berjilbab, sesaat setelah berderai air mata membaca cerpen beliau itu.

Yak, biji kebaikan itu tidak selalu ditanam di mimbar, ia bisa ditanam di mana saja kita punya kesempatan untuk menanam. Bahkan melalui tulisan di blog atau social media. Saat membacakan dongeng tentang para sahabat untuk anak-anak kita sebelum mereka tidur. Saat mengajak teman sebangku kita sholat dhuha. Seorang jurnalis bisa memulai kebaikan dengan menjadi jurnalis yang tidak hanya independen menyampaikan berita, namun juga bisa mengambil pelajaran dari peristiwa yang ia beritakan. Seorang guru, tidak sekedar menyampaikan materi tetapi juga memberi motivasi agar anak didiknya senantiasa bersemangat mencari ilmu. Seorang dokter menanam biji kebaikan bersama anjuran-anjurannya yang memotivasi pasien untuk sehat kembali. Biji tanaman yang kita punya membutuhkan jenis tanah yang berbeda-beda bukan? Begitu juga biji kebaikan. 

Ya, biji kebaikan itu sudah kita miliki. Allah telah membekali biji-biji itu sejak kita dilahirkan. Kita tinggal memilih lahan mana yang paling cocok untuk menumbuhkan biji kebaikan itu. Pemerintahan. Pendidikan. Ekonomi. Agama. dan lahan-lahan lain, terbentang luas untuk kita tanami. Kita bisa menjadi petani kebaikan yang sukses dimanapun.

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. 
QS Al Zalzalah : 7-9


You Might Also Like

4 comments

  1. wah, jadi pengen baca novel KMGPnya bunda Helvy. penasaran kok banyak yg berderai air mata.
    Sayang di sini, ga ada novel2 berbahasa indonesia :(

    BalasHapus
  2. Iyaa, Lis juga nyoba cari, yang 'new'.. tapi kok gak nemu ya, nyesel juga waktu itu gak pesen lewat twitter mb helvy :'(

    BalasHapus
  3. ada yg jual kok...

    di http://fatahillahstan.com/products/6/0/Asma-Nadia-Publishing-House/

    BalasHapus
  4. Honto? Wahh~ boleh boleh untuk bacaan bulan ini :D

    BalasHapus