Garam dan Air

4/10/2012 05:10:00 PM

pernahkah kalian mendengar cerita tentang segelas garam? 
masalah yang kita hadapi diibaratkan seperti segelas garam, sedangkan bagaimana cara kita menghadapinya diibaratkan dengan air.
segelas garam akan menjadi sangat asin jika dituangkan pada sepuluh liter air, tapi asinnya garam tidak akan terasa jika dituangkan pada air yang seluas samudera. 

begitulah hakikat menghadapi problema kehidupan.
seberapa banyak air yang kita punya untuk menetralkan garam, sebanyak itu pula kemampuan kita untuk tetap enjoy menghadapi masalah dan hidup bahagia.
kira-kira apa yang membedakan banyaknya air yang dimiliki oleh setiap orang?
saya kira yang bermasalah adalah mata airnya.
alias sumber air.

orang-orang yang dekat dengan Tuhannya (*Allah Tuhan saya) adalah orang-orang yang memiliki mata air anti kering, ia terus mengalir dan menyejukkan, 
berbeda dengan mereka yang buruk keyakinannya pada pertolongan Tuhan, mata airnya mungkin saja mengalir, tetapi sumbernya tidak kuat, mata airnya mudah kering.


mengapa kita harus merelakan diri menjadi penderita jika kita sebenarnya bisa jadi orang bahagia?
kadang-kadang orang memang salah mengerti arti bahagia,
banyak di antra kita menempelkan atribut bahagia pada sesuatu yang fana dan fisikis, padahal bahagia bukan sekedar kenyang atau nyaman, tapi bahagia adalah soal rasa, soal hati.


garam yang ada di hadapan kita mungkin saja bukan hanya segelas, ada ribuan, bahkan jutaan,
tapi, usaha untuk menghidupkan mata air kita agar tetap mengalirbersama rasa optimis, syukur dan sabar adalah adalah kunci yang wajib kita miliki.


selamat menyicip garam, semoga mata airmu dan mata airku tidak pernah kering~

You Might Also Like

2 comments

  1. Yey, nice note Mbak :)
    Benar banget. Masalah yang diibaratkan garam itu pasti rasanya asin. dan kebanyakan dari kita mendefinisikan rasa asin sebagai sebuah rasa superfisial yang dianggap sebagai rasa yang negatif. Padahal, tanpa rasa asin, ga mungkin ada yang namanya rasa makanan, makanan pasti akan terasa hambar, dan di sinilah letak positif dari garam. Begitupun pemikiran manusia yang pada umumnya ketika dihadapkan pada semua masalah, cenderung untuk berpikir negatif, tapi kalo kebanyakan manusia tadi memiliki waktu sedikit saja untuk merenung, mereka pasti akan mendapatkan hikmah di balik masalah tersebut, sehingga dengan begitu pikiran positif ttp ada di benak setiap manusia. Kembali lagi, seperti ya Mbak bilang, rasa positif itu hanya berawal dari si Empunya pemilik rasa itu, kalo kita jauh dari-Nya, maka wajar semakin banyak pikiran negatif di dalamnya :)

    BalasHapus
  2. Hehe, selamat anda telah membuat komen terpanjang di blog saya :DD

    Betul Mi, positif thinking itu mudah diucapkan sulit dilakukan~

    Like our prophet said, setelah perang Badar, perang yang paling sulit adalah perang melawan nafsu diri.

    BalasHapus