Berpikir Sebelum Berkata

  • 10/30/2012 09:51:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 6 Comments

Dalam semua hubungan, baik itu hubungan pertemanan, hubungan orang tua dengan anak, hubungan kakak dengan adik, hubungan mentor dengan mentee, juga tentu hubungan antara suami dengan istri, komunikasi adalah hal yang crucial bin penting pakai banget. Oleh karena itu, dalam banyak hadist, Rasululloh SAW menyebutkan pentingnya menjaga lisan, menjaga perkataan, menjaga isi teko yang kita keluarkan. Seperti dilarang menggunjing, dilarang berkata hal-hal yang sia-sia, dilarang berbohong, sunah untuk mengucapkan salam, dan hanya berkata yang baik.



Saat ini komunikasi telah menjadi kunci sukses orang-orang besar, baik lewat pidato, cara komunikasi sehari-hari, atau twit bahkan status. Its all about communication. Bahkan dalam hal mendidik anak, kata-kata menjadi salah satu poin penting untuk mendidik mereka. Kalimat yang kita keluarkan bisa menjadi pemicu keburukan atau kesuksesan mereka di masa depan.

Di kantor, di sekolah, di lingkungan rumah, dimanapun, bahasa menjadi muka kita. Bahasa yang kita pakai menjadi sarana untuk menilai diri kita. Pernah nggak, lihat orang yang bajunya dan tampangnya oke, tetapi gaya bicaranya ~emm yeah~ kurang terkontrol ? Bahkan sinis dan penuh emosi.  Masih ingin berteman dengan orang seperti itu? Atau seorang bos yang punya jabatan tinggi dengan titel panjang tapi tidak bisa menahan amarah dan cacian ke staffnya? Atau Ibu yang dengan teganya memarahi anak tanpa pilih-pilih kata dan situasi? Ternyata apa yang keluar dari mulut kita, kontrolnya ada di hati. Bukan pada seberapa banyak titel yang sudah kita raih, bukan juga pada seberapa bagus baju yang kita pakai dan bukan pada seberapa tinggi jabatan kita. Kata-kata berasal dari hati dan akan diterima oleh hati yang seirama, sefrekuensi.

Menyampaikan nasihat dengan hikmah pun menjadi contoh bagaimana Rasululloh SAW meluluhkan orang-orang yang membenci dia dan agama yang dibawanya. Begitu juga dengan Khadijah yang menggunakan kata-kata yang baik untuk menenangkan diri Rasululloh SAW saat pertama kali Rasululloh SAW menerima wahyu. Kata-kata menjadi hal yang penting saat ia membawa misi nikah atau perceraian. Kata 'cerai' yang bahkan berupa satu kata yang tak disengaja dinilai sengaja oleh Allah dan dianggap talak 1. Kata-kata menjadi awal mitsaqan galidza, ialah ijab qabul. Dan dengan kata-kata pula kita dibukakan pintu syurga apabila kita menutup mata untuk yang terakhir kalinya dengan terlebih dahulu mengucapkan 'laillahailallah'.

Itulah mengapa tazkiyatun nafs (pensucian diri) menjadi bagian yang penting dari kehidupan kita. Agar supaya kata-kata yang mengalir dari mulut kita hanyalah yang baik, komunikasi kita menenangkan orang yang kita ajak bicara, agar saran kita menjadi solusi bagi mereka gelisah. Tak ada kata-kata baik pada hati yang rusak. Jikapun ada, rasanya akan berbeda dibandingkan dengan yang hatiya bersih. 

Tentu saja, tidak ada kata-kata yang baik melainkan dilengkapi dengan kekonsistenan kita dengan kata-kata yang kita keluarkan. Haruslah sama, apa yang kita sampaikan dengan apa yang kita perbuat. Kekuranghati-hatian dalam berkata-kata bisa berubah menjadi petaka, dalam bahasa jawa ada peribahasa jarkoni, alias iso ngajar ra iso nglakoni. Artinya, mengatakan (mengajarkan) sesuatu yang tidak dilakukan oleh dirinya sendiri, bahasa gaulnya omdo, omong doang. Orang-orang seperti ini lama kelamaan akan ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya, karena hanya pandai berbicara namun kosong teladan.

Alangkah pentingnya memngeluarkan kata-kata positif. Dalam banyak penelitian, kemampuan untuk berpikir positif mampu mendukung seseorang agar tetap tegak berdiri dan terus berjuang. Dengan kata-kata pula kita dapat mensugesti orang lain untuk bangkit dari keterpurukan dan menghadapi masa depan. Lihat bagaimana kata-kata Bapak Mario Teguh mampu menginspirasi banyak orang, begitu juga kata-kata dari para ulama besar. Syair yang indah dan powerful juga diisi oleh kata-kata. Kristal-kristal air terbentuk indah saat diberi kata-kata yang menyenangkan.

Jadi, masih asyik dengan gosip dan jelek-jelekin tetangga? Plis, saatnya untuk cuci mulut (bukan makanan :DD), alias perbanyak istighfar. Latihan sedikit demi sedikit untuk menjaga kata-kata yang akan kita pakai bicara. Perbanyak berpikir positif, jaga ibadah dan kedekatan kepada Allah, supaya kata-kata baik yang mengalir dari mulut kita menjadi pencerahan untuk orang lain.

Selamat memperbaiki kata-kata. Mari berhenti jadi pencaci, ingat, setiap kata terekam dalam hati orang-orang yang kita ajak bicara. Jaga hati mereka agar senantiasa bersih dan gembira, dengan kata-kata pilihan  - hanya kata-kata yang terbaik :')

Save word, save world.





You Might Also Like

6 comments

  1. tentu harus senantiasa belajar berkata-kata dengan baik... walau ya lidah ini emang licinnya puooooool mbak, sering2 yang seharusnya ditahan untuk diucapkan dulu eh keluar gitu aja

    BalasHapus
  2. hihihi, manusiawi Nas, makanya kita harus sering latihan :')

    BalasHapus
  3. salah satu tujuan mengatur kata ialah menghindari fitnah ya mbak Lis. tapi mungkin memang manusia (baca: saya) itu ndableg, suka ga mikir dulu sebelum ngomong. memang kudu terus latihan. dan alangkah lebih baik kalo ada temen latihan yang ga cuma bisa ditemui di luar, tapi juga di dalam rumah #eh

    BalasHapus
  4. salah satunya begitu Lok, supaya kita ga menyampaikan yang rahasia, atau menyampaikan sesuatu tidak pada tempatnya (dibumbui, atau dikurangi porsinya), insyaAllah jika waktunya tiba Elok akan menemukan teman latihan di rumah, saya doakan selalu insyaAllah :')

    BalasHapus
  5. BIsmillah :)
    mencoba merealisasikanx..

    BalasHapus
  6. InsyaAllah kita belajar bersama :')

    BalasHapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)