Mengapa Kita Perlu Memperjuangkan Kebahagiaan?

2/26/2013 12:07:00 PM

Masih soal bagaimana menjadi lebih bahagia. Secara sengaja saya membaca buku berjudul The Happiness Project yang ditulis oleh Gretchen Rubbin -saya bersyukur ada perpus yang cukup lengkap di kantor-. Saya masih berada di halaman 15 dari buku setebal 300 halaman ini namun sudah merasa sangat senang karena menemukan banyak hal untuk direnungkan.

Sebagai latar belakang menulis buku ini, Rubbin menceritakan kembali bagaimana proses awal sehingga ia akhirnya mampu menyelesaikan 'proyek kebahagiaan'-nya. Mengapa ia memperjuangkan kebahagiaannya. Rubbin bukan orang yang dikelilingi dengan kesuraman, bahkan secara kasat mata tidak terlihat ada hal yang mungkin membuatnya bersedih. Maka itu, banyak orang-orang di sekitarnya yang menertawakan proyek 'aneh' nya ini. Tetapi Rubbin tetap bersikukuh ingin meneliti, what make us happy actually. Saya sangat setuju dengan Rubbin bahwa kita tidak harus pergi ke place of nowhere to feel happy, di sini, di rumah, di sekitar kita sekarang, tanpa harus melakukan perubahan yang ekstrim, kita bisa merasa 'lebih' bahagia, dan bagi yang 'belum bahagia' bisa merasa 'bahagia'. Artinya, jangan karena kita belum punya kesempatan dan terutama mungkin biaya untuk pergi ke tempat-tempat yang menjamin rasa bahagia mengakibatkan kita tetap dalam medium kesedihan. Stop it! Kita -ya, kita- bisa menemukan kebahagiaan di mana saja, bahkan di rumah kita sendiri. Saat ini.  Dan kita berhak mengusahakn kebahagiaan.

Beberapa hal yang mendorong Rubbin untuk meneliti tentang kebahagiaan ini diantaranya adalah sebuah research yang menunjukkan bahwa pada skala 1 sampai 10, penduduk dunia rata-rata berada di titik skala 7.  Selain itu, Rubbin juga mencoba mengisi kuesioner tentang kebahagiaan, Authentic Happiness Inventory. Dari skala 1 sampai 5, ia memperoleh 3,92. Saya penasaran, saya ketik di Google dan ketemu website yang menyediakan kuesioner itu dan hasilnya. Tarraaaa~ kebahagiaan saya selama seminggu ini 3.3 dari 5. Pretty happy, but not very happy *tepok jidat 
Rubbin ingin melakukan proyek ini karena "I am happy-but I'm not as happy as I should be. I have such a good life, I want to appreciate it more - and live up to it better." Jadi proyek ini lebih dari sekedar mencari kebahagiaan melainkan how to boost happiness. Feel happy more and more. 


Alasan selanjutnya adalah Rubbin merasa lebih mudah untuk menjadi 'baik' jika ia bahagia. Thats true, tidak banyak orang yang mampu tetap menjaga mood dan emosi yang baik saat sedang tidak-merasa-bahagia. Saya sendiri, saat sedang khawatir berlebihan, atau berpikir buruk berlebihan, saya tidak bisa tersenyum dengan baik. Its too hard to do. Sebaliknya, saat kita sedang dalam keadaan bahagia, semua terasa 'lebih mudah' untuk dilalui. Rubbin juga menuliskan hasil riset kontemporer yang menunjukkan bahwa orang yang bahagia lebih bisa bersimpati kepada orang lain, lebih produktif, lebih penolong, lebih disukai, lebih kreatif, lebih friendly dan lebih sehat. Yes, I agree (again), saat saya sedang bahagia, saya mampu meyakinkan diri saya bahwa 'everything gonna be okay', saya lebih optimis, dan saya lebih produktif. And I want it more. 

Terakhir, tentang preparation. Saat ini mungkin kita sedang berada dalam masa yang baik -istilahnya menjadi fortunate person- tetapi roda bakal berputar, kita gak pernah tau bagaimana keadaan di masa datang. Bagi Rubbin, proyek ini adalah persiapannya untuk menghadapi hal buruk, kapanpun itu terjadi, dengan cara membangun kedisiplinan diri dan kebiasaan mental untuk mampu merasakan kebahagiaan ~apapun dan bagaimanapun kondisinya. So, dengan terus merasakan kebahagiaan-kebahagiaan dan terus melatih diri untuk bisa membuat kebahagiaan, Rubbin berharap hidupnya baik tanpa harus diawali dengan krisis. Dia bilang, "I didn't want to wait for crisis to remake my life". Great preparation!

Saya menyetujui hampir setiap pemikiran Rubbin tentang mengapa harus menjalani kegiatan yang bisa meningkatkan level kebahagiaan. Satu lagi, sebagai seorang Muslim, tidak ada satupun kejadian yang terjadi tanpa kehendak Allah. Dan kehendak Allah selalu baik. Maka, segala hal yang terjadi dalam hidup, seharusnya menjadi asupan hikmah yang memperkaya kebijaksanaan kita dalam hidup. Kepositifan hati kita kepada Allah. Dan keinginan kita untuk menggunakan pengalaman sebagai pelajaran diri dan orang tersayang. Kesedihan pernah hadir untuk membuat kita berjuang lebih keras memperbaiki keadaan, saat itulah kita sedang mencari kebahagiaan. Jadi, kunci bahagia bagi Muslim adalah syukur dan sabar. Dua hal yang harus menjadi habit supaya kita prepare-siap menghadapi apapun insyaAllah :')


You Might Also Like

5 comments

  1. situsnya apa mba? menarik banget :D

    BalasHapus
  2. Iya lis,jadi pengen nyoba juga tuh ngisi kuisionernyaaa

    BalasHapus
  3. Hihihi, kemari ya : http://www.authentichappiness.sas.upenn.edu/Tests/SameOptionDifferentAnswers_t.aspx?id=258

    Mau ku link lupa tadi, maafkan :)

    BalasHapus
  4. nilai authentic happiness aku 2.95 mbak T__T haha harus mengurangi bad mood ini :D

    BalasHapus
  5. Icha : hah? Hihi, ayoo, jangan bad mood :)

    BalasHapus