Selamat Berhijrah, Saudariku

  • 7/28/2013 10:37:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 0 Comments

Hidayah adalah hak prerogratif Allah, tetapi usaha untuk mendapatkan dan mempertahankannya adalah kewajiban kita.

Malam tadi saya dikagetkan oleh chat dari seorang kawan, tidak terlalu dekat sebenarnya, karena pertemanan kami belum berlangsung begit lama, pun hanya sesekali bertemu. Ya ampuunn, dia saja masih salah panggil nama, hehehe. Awalnya hanya ngobrol masalah akademis, sampai akhirnya bliau bertanya tentang resep dapat jodoh. Waduh, saya sendiri excited dengan pertanyaan ini tapi sekaligus takut. Tertarik karena ini saranan u syiar, takut kalau kalau dalam jawaban saya nanti ada rasa sombong. Maka saya memilih menjawab dengan enteng 'Resepnya lengkap kok dalam Al Qur'an dan Al Hadist'. Ini jawaban siy bener, tapi kok normatif banget yak? Akhirnya saya beranikan menyitir beberapa pernyataan dari Ust @felixsiauw dalam beberapa twit beliau " Jodoh kita siapa itu sudah ditentukan, yang membedakan rasanya adalah bagaimana cara kita menjemput jodoh tersebut".

Semisal nih ya, di Lauh Mahfudz sudah tertulis bahwa jodoh kita si Fulan/ah, mau kita ketemu si Y, jatuh cinta sama si K, kepengen sama si O, tetep aja takdirnya kita sama si Fulan/ah, ya nikahnya sama dia. Nah, yang bakal membedakan itu adalah bagaimana cara kita meminang si Fulan/ah, dengan cara yang dituntunkan nabi atau cara-cara yang dimurkai Allah dan Nabi? Yang dituntunkan itu artinya prosesnya suci, no maksiat, no pacaran, langsung datangi ortu/wali atau taaruf lewat orang yang dipercaya (guru ngaji, teman). Dan ga lama setelah melalui istikhoroh, dan menemui kemantapan hati langsung diputuskan untuk dilanjut ke pelaminan atau berhenti. So, yg dituntunkan nabi itu nyari jodoh kudu pakai cara yang halal. Cara menjemput jodoh yang halal dijanjikan Allah sebagai sarana u memperoleh keberkahan dalam pernikahan. Sebaliknya, jika kita memilih cara haram, ex pacaran, yang sebenarnya belum tentu berujung pada pernikahan tapi jelas maksiatnya, Allah tidak menjanjikan keberkahan dalam hubungan seperti ini. Kecuali mereka segera bertaubat dan memilih putus atau segera menikah.

Seselesainya saya menjelaskan hal tersebut, sanh kawan bercerita bahwa dia sendiri baru saja putus dengan pacarnya. Malah sekarang sedang dalam proses memperbaiki diri, utamanya mulai berjilbab. Syukur alhamdulillah, saya senanh sekali mendengarnya. Ia juga bercerita bahwa kesadaran dirinya muncul karena suatu peristiwa. Kawan kosnya berpindah keyakinan, dari Muslim menjadi non, na'udzubillahimindzalik. Perubahan keyakinan tersebut ternyata diikuti dengan perubahan sikap. Termasuk diantaranya mengajak diskusi kawan saya ini, tentang keyakinannya terhadap Islam. Alhamdulillah, bukannya terbawa dengan cara pikir orang yang mengajaknya diskusi, kawan saya malah jadi terpikir untuk lebih mendekat kepada Allah. Ia berkata "Ditanya sama temen aja keder apalagi kalau ditanya sama malaikat ya, Lis". Thats it, ilham yang sebenarnya adalah hidayah. Allah swt membuka hati beliau dengan sebuah peristiwa, yang kwmusian menjadi titik balik kesadaran bliau tentang hakikat hidup. Tujuan akhir dari hidup di dunia, yaitu kehidupan akhirat.

Saya terkesan sekaligus bersyukur, terkesan dengan sikap yang diambil oleh teman saya sejak peristiwa itu, serta bersyukur karena saya ditakdirkan untuk mengetahui titik balik yang akhirnya -semoga- menjadi jalan hijrah teman saya ini. Saya bukan ingin menjadi sok suci atau sok tahu tentang apa yang disebut hijrah bagi masing masing orang. Setiap kita mungkin pernah mengalami kehidupan yang tidak nyaman, tidak ada arah, tidak ada pegangan, mengalir saja. Tidak merasa berbuat sesuatu yang istimewa tidak pula merasa sudah hidup dengan benar. Hijrah adalah titik ketika kita tersadar, bahwa kita tidak ingin selamanya menjadi orang yang seperti itu. Kita ingin punya arti dalam hidup. Dan kita menemukannya di jalan yang Allah tunjukkan. Saat kita mulai membandingkan diri kita dengan diri yang didambakan Allah. Saat kita merasakan kenyamanan dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Saat kita merasa kuat, karena kita yakin Allah selalu berada di sisi kita, ada untuk kita, menjaga kita.

Saya bersyukur berhijrah di masa muda. Dan saya berdoa semoga banyak di antara pembaca dan keluarga mulai mencari jalan hijrah. Jalan menjemput hidayah. Mungkin Allah sudah pernah mendatangkan momen momen hijrah itu pada kehidupan kita, entah saat kita sakit, saat kita terhimpit, saat kita sedih, saat kiya kesepian atau bahkan di saat ada keajaiban tak terduga. Tapi apakah pada saat itu kita menyambut jalan hijrah itu? Ayo, jangan siasiakan lagi waktu yang tersisa, jangan tunggu Allah mendatangkan kesusahan baru kita tersadar untuk berhijrah. Ayo kita buka jalan hijrah kita sendiri, kiya tapaki jalan orang orang yang dicintai Allah, orang-orang sholih. Mari berhijrah ~

Untuk temanku, saudariku, semoga Allah karuniakan keistiqomahan dalam jalan hijrah ini. Semoga akhirnya, Allah pun mengaruniakan Imam nan sholih dan penyayang, ia yang dalam doa dan perilakunya menunjukkan kecintaan padamu. Ia yang kasih sayangnya menenangkan, karena kasih sayangnya mengantarkannu ke syurgaNya. Aamiin. Selamat berhijrah Saudariku, kami semua mendoakanmu~

Depok, 19 Ramadhan 1434 H

You Might Also Like

0 comments

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)