Walimah Story #3

1/13/2014 08:33:00 AM

Alhamdulillah its Friday ~~~
Its time for free :P

In sha Allah di postingan masih akan dibahas tentang walimah story, setelah di postingan sebelumnya bahas undangan dan pakaian pengantin, next mari kita ngobrol-ngobrol tentang rangkaian acara pas hari H. Beda kebun, beda hewannya. Beda daerah, beda juga adatnya. Tapi kalau ngikutin sunnah Rasululloh SAW seharusnya jadi lebih mudah, karena kedua mempelai mengerti bukan adat yang diutamakan tetapi sunnah-sunnah tersebut. Pada intinya kita harus menghindari hal-hal yang berbau syirik dan maksiat. 

simple yet adorable, :D
 Memang ada praktiknya di dalam pernikahan mengandung kesyirikan dan maksiat? FYI yah, Lis pernah liat tuh di salah satu pernikahan temen, ada sebuah tampah yang diisi ingkung, bebungaan dan entah apa yang rencananya bakal diletakkan di langit-langit rumah sang mempelai perempuan. Dalam pikiranku saat itu, i wow, daripada mubazir gitu ingkungnya bukannya lebih baik dimakan sama manusia ya? Akhirnya aku laporin aja tuh praktik aneh ke sang mempelai perempuan, dan setelah itu kakak sang mempelai perempuan bergegas menasihati si oknum atas perbuatannya yang tidak seijin orang rumah sekaligus sama sekali bukan tuntunan Islam. Tampah diisi bebungaan sama ingkung ga mungkin dimakan manusia kan? Jelas-jelas itu praktik pembuatan sesajen. Dan itu dilarang. So, hati-hati ya, kita mungkin ga kepikiran buat bikin sesajen, tetapi keluarga kita mungkin loh~ Nah, yang hubungannya sama maksiat ? Ada banyak kemungkinan, mulai dari kemubaziran, ikhtilat (campur antara lelaki dan perempuan), hiburan yang berlebihan Nanti kita bahas satu-satu yah :3

Dalam menentukan susunan acara resepsi, biasanya kita dibingungkan dengan pengen pakai kebiasaan setempat, modifikasi atau bener-bener bikin konsep baru. Walimah Lis kemarin siy standar, pagi jam 8 akad, jam 10 resepsi sampai selesai skitar jam 2. Lama sebentarnya akad biasanya dipengaruhi dua hal : lokasi resepsi dan banyaknya tamu yang diundang. Lokasi resepsi bisa berpengaruh besar terhadap durasi terutama kalau kita nyewa gedung, pengelola gedung membatasi pemakaian dengan nominal biaya penyewaan tertentu serta sangat tergantung dengan jadwal pemakaian gedung. Biasanya di gedung itu mepet dan kalau ada yang telat ga bisa ketemu kedua mempelai. Tapi gedung memang jadi solusi kalau rumah si mempelai wanita ga memungkinkan u dijadikan  lokasi resepsi. Kalau rumah si mempelai wanita bisa dijadikan lokasi, aku siy lebih menyarankan untuk resepsi di rumah. 

Pertama, walaupun acara resminya udah selesai, tamu-tamu yang terpaksa datang terlambat masih bisa kita jamu dan ketemu mempelai. Kedua, biaya sewa gedung nol rupiah, alias ga perlu keluar uang untuk sewa gedung. Ketiga, mengeratkan rasa tolong menolong dengan tetangga, hehe, maksudnya, karena rame-ramenya dan sibuk-sibuknya di rumah, tetangga-tetangga jadi bisa dimintai tolong, beda sama di gedung, yang sibuk palingan cuma tukang dekor sama tukang catering. Kurang enaknya si kalau rumah kitaga deket jalan besar, jadi tamu-tamu yang belum pernah ke rumah kita kudu ekstra banget ngliatin peta dan nanya-nanya sebelum akhirnya sampai di lokasi. Trus kalau rumah kita ga ada space untuk parkir, harus dipikirkan kendaraan tamu akan ditaroh dimana. Dan yang terakhir ada kemungkinan kita bakalan ngeganggu tetangga karena suara-suara keras dari sound
Tapi ketiganya masih mungkin dicarikan solusi, misal, kita buat peta yang bener-bener jelas dan mudah dipahami, trus minta ijin ke tetangga atau ke pak lurah untuk makai jalan sebagai tempat resepsi dan parkir, terakhir, hanya membunyikan sound di waktu-waktu yang urgent (pas pra-acara sebaiknya hanya menyetel dengan suara seperlunya, lagu-lagunya tidak mengganggu -usahakan Islami-, dan disetel pas waktu-waktu non istirahat). Oiya, soal lagu yang disetel, aku juga nyiapin CD khusus nasyid-nasyid walimah, jadi tukang sound ga punya alasan untuk nolak. Sekalinya kedengeran lagu dangdut, beuhh, langsung aku protess XDD
Eh iya, lagi bahas susunan acara ya, jadi ngelantur kemana mana niy, mulai dari akad ya. Fakta di lapangan, ada orang yang ngelangsungin akad di hari pertama, trus hari keduanya resepsi, ada juga yang akad dan resepsi digabung, ada juga yang akadnya kapan, resepsinya beberapa minggu bahkan bulan kemudian. Masing-masing jelas punya alasan. Ketiganya sebenernya ga ada masalah, apalagi kalau ada alasan tertentu yang memang memicunya, tapi kalau ga ada halangan, Lis sendiri lebih seneng pagi nya akad, siangnya resepsi. Alasannya : capeknya sekalian, hahaha, alasan yang ga banget. Karena menikah biasanya melibatkan banyak orang, Lis lebih seneng supaya bisa enak buat semua. Jadi saudara atau teman yang jauh ga perlu repot datang dua kali ke rumah. Cukup satu waktu aja. Praktis dan ga membingungkan pengen dateng ke akad, atau pas resepsi. Paling risikonya ada kalau pas hari yang kita pilih itu hari favorit sebagai hari pernikahan, sehingga beberapa teman mungkin memutuskan untuk hadir ke pernikahan orang lain daripada ke pernikahan kita. Tapi ya ga masalah kan?

Akad itu krusial banget, jadi kita usahakan untuk membuatnya sekhidmat mungkin. Di dalamnya selain ijab qabul biasanya ada serah terima mempelai pria dari pihak keluarganya dan ucapan selamat datang dari keluarga mempelai wanita, pembacaan ayat-ayat suci Al Qur'an, selain itu juga ada khutbah nikah. Ijab qabul harus dilakukan di hadapan saksi dan penghulu. Jangan lupa menyiapkan wali bagi sang mempelai perempuan. Nah, kalau untuk saksi biasanya keluarga dan orang yang dituakan di wilayah kita (ulama atau tokoh masyarakat). Wali tentu saja orang yang secara fiqh dibolehkan, paling afdholnya tentu saja ayah kandung. Jadi, kalau ayah tiri atau ayah angkat, ga bisa ya jadi wali, alias ga sah perwaliannya. Selama ayah kandung masih hidup, usahakan untuk dinikahkan oleh ayah kandung. Oiya, ayah kandung itu tidak sekedar ayah biologis, tetapi juga ayah yang secara agama memang ayah yang kita boleh memperoleh nasabnya. Jadi ayah biologis yang menikah dengan ibu biologis kita. Jika ayah sudah tiada, atau tidak mampu menjadi wali, perwaliannya harus diserahkan kepada keluarga mempelai perempuan yang laki-laki (kakak kandung, adik kandung, pakdhe atau oom). Supaya lancar pas ijab qabulnya, gakpapa loh latian dulu antara wali dan calon mempelai pria, misal malam atau siang hari sebelum hari akad. 

Pas prosesi akad ini Lis masih di balik layar, :P
Oiya, pas ijab qabul belum dilaksanakan, berarti antara mempelai pria dan wanita belum ada hubungan yang sah ya, so, duduknya belum boleh deket-deketan. Mempelai wanita ngumpet dulu sampai proses ijab qabul selesai. Mempelai wanita hadir ke tengah-tengah majelis pernikahan pas setelahnya untuk tanda tangan buku paling laris sedunia -alias buku nikah- dan dokumen-dokumen KUA lain. Selanjutnya penyerahan mahar dari suami ke istri, trus cium tangan deh, ihiyy ~

Deg-degan ih, for the first time nyium tangan lelaki lain selain tangan bapakku >,<
Nah, selanjutnya mempelai pria dan wanita duduk bareng sambil mendengarkan khutbah nikah. Penting sekali memilih ustadz yang capable untuk menyampaikan khutbah nikah, soalnya nasihat-nasihatnya bakalan ngena, beda sama yang cuma dagelan aja ngisi khutbahnya. Setelah selesai khutbah, selesailah prosesi akad nikah. Sah deh jadi suami istri, alhamdulillah <3 *sujud sukur


Habis akad, biasanya pengantin masuk lagi buat ganti baju resepsi. Nah, di luar kan ga ada acara tu. Jadi sebaiknya jangan lama-lama dandannya, kasian tamunya dah pada nunggu, ihiiy~ Resepsi dimulai dengan masuknya mempelai ke pelaminan bersama ortu. Pilihlah MC yang mengerti adab walimah dalam Islam sehingga di sela-sela ia membawakan acara, MC akan mengingatkan tentang lokasi tempat duduk yang terpisah antara pria dan wanita, begitu juga lokasi prasamanannya. Alhamdulillah, kemarin sudah mengusakan untuk dipisah, baik tempat duduk maupun tempat ambil hidangan. Tapi keknya yang masih agak berantakan di bagian tempat duduk, masih ada yang belum paham. Sebenarnya ini bisa dibantu dengan arah dari among tamu, karena kemarin among tamuku itu saudaraku yang notabene pakdhe budheku semua, jadi ndak bisa memaksakan kudu mengarahkan tempat duduk tamu. Ada baiknya -jika tidak merepotkan- mengajak beberapa teman untuk jadi panitia walimah, minimal untuk jadi pengarah tempat duduk dan tempat makannya para tamu. 

Pas resepsi kemarin ga ada acara khusus, tamu datang, salaman, terus menikmati hidangan. Sambil ditemani hiburan nasyid. Alhamdulillah di Kebumen ada nasyid yang oke, adek kelasku sendiri pula di SMA N 1 Kebumen, dan yang ngampu juga temen sendiri, jadi bisa enakeun ngundangnya. Feenya juga terjangkau. Dan kualitasnya dijamin. Btw, hiburan pakai nasyid gini sempet diprotes, katanya ga memasyarakat, hahha, bahkan sampai dibilang ekstrim, tapi ya aku jalan terus aja, lha wong niatnya memang syiar kok, bukan ngikutin budaya yang udah ada. Lagu-lagunya juga bagus, lebih bagus liriknya daripada campur sari, apalagi dangdut. So, kalau sudah mulai ada suara-suara ga enakeun soal keputusanmu untuk menjaga syariat selama melaksanakan walimah (misal : minta hiburannya orgen tunggal yang penyanyinya sexoy), jangan mudah menyerah, sampaikan dengan sebaik-baiknya, kalau udah dibilangin masih ngeyel, bilang aja, Oki Setiana Dewi aja hiburannya nasyid loh, padahal dia artis, hehehe :P *ini mah jurus terakhir aja


Oiya, bagaimana kalau pas resepsi ini ortu minta pakai adat jawa yang pakai lempar suruh, mecah telur, dll ?? Apalagi sehari sebelumnya juga kudu siraman? Sampaikan bahwa agama kita tidak mengajarkan yang seperti itu. Sebenarnya arti dari masing-masing prosesi bagus, tapi tentu saja ga harus begitu cara menyampaikannya. Nasihat-nasihat yang ingin disampaikan kepada mempelai melalui prosesi itu saat ini bisa dimasukkan di bagian khutbah nikah. Jadi, esensi menasihati kedua mempelai sama sekali tidak hilang, malah lebih gamblang. Ga semua orang ngerti kan arti prosesi simbolik? Tapi kalau nasihat dalam khutbah, in sha Allah mempelai maupun tamu bisa memahami. 

Fiyuhh, akhirnya selesai juga ngomongin susunan acara walimah, intinya selama agama ga melarang, adat apapun boleh, tapi kalau sudah ada unsur-unsur musyrik (pakai kemenyan, pakai prosesi yang ga jelas artinya) sebaiknya dilobi untuk tidak dilaksanakan :)

See you on next post :)



.

You Might Also Like

1 comments

  1. Aaaaaaa Tengkyu Lis, muah muah...

    nyiapain gini2 bikin pusing juga ya, hahaha... apalagi aku >70% koleris jadi agak sebel kalo keinginanku ga terpenuhi :p

    hm... harus teges, jangan asal protes tapi ngasih solusi juga. oke deh :)

    BalasHapus