Mencintai Senyuman, Mengagungkan Pengorbanan

  • 3/28/2014 03:24:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 2 Comments

Siapakah yang tidak termenung, menemui seseorang yang jika ia dipanggil, maka berbaliklah seluruh badannya. Tidak hanya kepada orang-orang yang dianggap layak untuk 'dihormati' tetapi kepada siapapun yang memanggilnya. Siapakah pula yang tidak gembira hatinya, mengetahui sebuah senyuman dinilai lebih oleh Tuhannya, dianjurkanNya setiap manusia untuk menggembirakan siapapun yang ditemuinya, dan Tuhan pun menyematkan pahala bagi siapapun yang membiasakannya. Di lain waktu, siapakah yang tidak tergetar hatinya, saat mendengar seorang budak menjaga keimanan hingga harus merasakan beratnya ditindih sebongkah batu besar di tengah gurunn pasir nan panas ? Kulitnya terbakar dan kerongkongannya mengering, tapi mulutnya berkata 'Ahad, Ahad, Ahad'? Allah tidak pernah lupa padanya, dan menghadiahinya surga. Bilal nama budak itu, dalam sebuah hadist, disebutkan bahwa Rasululloh SAW bermimpi sedang menaiki tangga Allah di surga dan mendengar langkah kaki Bilal di depannya.

Akan terbentang ribuan kilometer kertas untuk menulis seluruh kisah indah dalam memeluk Islam. agama yang disebut sebagai agama yang syamil, kamil dan mutakamil. Agama yang menyeluruh, sempurna, dan menyempurnakan. Tidak ada yang lepas dari aturan Allah, meski kitab agama ini dibuat lebih dari 1000 tahun lalu, tapi isinya tak  pernah menjadi kuno. Al Qur'an dirancang untuk menjadi pedoman hingga akhir jaman. Begitu pula kisah-kisah yang ada di dalamnya senantiasa menjadi inspirasi dan pelajaran bagi siapapun yang mau belajar. Di titik inilah Islam tak mungkin bisa dikalahkan oleh agama lain. Dan di titik ini pula ia menjadi keyakinan yang terus meninggikan keimanan. 

Saya sendiri belum banyak membaca kisah-kisah itu kecuali yang telah populer menjadi bagian dari kehidupan masa kecil saya, atau bagian dari buku-buku yang saya baca, atau bagian dari khutbah-khutbah yang saya dengar. Namun dari yang sedikit itu, kisah-kisah yang ada telah banyak memberikan inspirasi dan menjadikan saya jatuh cinta pada agama ini. Betapa indah dan sempurnanya Islam dan para penganutnya yang taat. 

Pada cuplikan kisah di atas, Rasululloh saw, manusia paling sempurna, yang dijaga dari dosa-dosa, menempatkan dirinya sebagai sosok yang amat merakyat, bahkan cenderung 'terlalu' baik pada semua orang yang ditemuinya. Kisah yang menceritakan budi perangai beliau tidak bisa tidak, pasti akan membuat air mata menitik. Bagaimana keramahan, ketulusan, dan kelembutan dilakoni dengan konsisten dan tidak dibuat-buat. Budi perangai yang amat sulit kita temui dalam diri orang-orang masa kini. Allah bahkan menegur Rasululloh saw yang pernah menilai lebih orang-orang terpandang dibandingkan seorang buta yang papa. Agama ini tidak memuliakan seseorang berdasarkan kedudukan, rupa, harta atau garis keturunan, melainkan ketakwaannya kepada Allah. Apa yang diajarkan Allah SWT melalui Rasululloh saw ini membuat saya berpikir bahwa Islam adalah agama yang adil dan penuh cinta. Kecintaan pada sesama Muslim sangat diutamakan, bahkan mereka yang memutus tali silaturahim akan dilaknat Allah. Tolong menolong menjadi bagian pengamalan agama. 

Jadi, salah besar jika menilai agama ini hanya sekedar ritual ibadah semata. Itulah yang semakin memupuk kecintaan saya pada Islam. Jika agama sekedar ritual, maka ia akan lepas dari banyak sisi kehidupan. Padahal selain beribadah, kita juga bernegara, bermasyarakat, bekerja, serta berkeluarga. Ajaran-ajaran Islam mencakup keseluruhan lini hidup tersebut. Ibadah tak melulu di tempat ibadah. Ibadah ada pada sikap menyingkirkan duri di jalan, memberi makan nenek tua, mengerjakan ujian dengan jujur, bekerja dengan profesional, menyusui anak, membuang sampah pada tempatnya bahkan mandi. Adakah agama selain Islam yang begitu lengkap membersamai keseluruhan ritme hidup umatnya? Dan bahkan menilai sekecil apapun kebaikan ? 

Lain waktu, saya juga jatuh cinta pada Islam saat membaca keteguhan mereka yang mengaku mencintai Allah. Agama manakah yang begitu dicintai umatnya hingga ia tidak takut meregang nyawa demi pengakuan sebagai bagian dari umat agama tersebut?  Jika ada, apakah ia yang berkorban seorang yang berpangkat ataukah dari semua kalangan? Selain kisah Bilal, ada satu kisah pengorbanan yang begitu selesai membacanya saya tergugu. Ialah kisah tentang seseorang yang kehausan dalam sebuah peperangan. Saat ia begitu kehausan, tak dinyana tibalah seseorang yang mendengar erangannya dan datang membawakannya air. Namun, belum setitik air melegakan hausnya, tiba-tiba ia mendengar di sisi lain ada saudaranya yang juga kehausan. Bukannya melanjutkan minum, ia meminta sang pembawa air untuk menolong saudaranya itu terlebih dahulu. Pergilah sang pembawa air menemui orang kedua yang kehausan. Saat ia hendak meminum air yang diidamkannya, tiba-tiba ia mendengar ada saudaranya yang lain berbisik kehausan. Ia pun menolak air itu, dan meminta sang pembawa air menolong saudaranya yang lain terlebih dahulu. Apa yang terjadi kemudianlah yang membuat saya terisak, akibat mendahulukan saudara mereka, kedua orang tadi telah syahid saat ditemui oleh sang pembawa air sekembalinya dari orang ketiga -yang juga menolak untuk didahulukan-. MasyaAllah, betapa tinggi rasa ingin tolong menolong mereka, bahkan saat keadaan mereka sendiri membutuhkan pertolongan. Adakah kita termasuk dalam mereka yang dimuliakan Allah atas pengorbanannya itu?

sumber: google.com

Inilah Islam, agama yang saya cintai. Ia mencintai perilaku semudah tersenyum, dan mengagungkan sikap seperih pengorbanan. Semua yang dilakukan karena Allah, kebaikannya kembali padanya. Allah memberi aturan yang pasti bisa dilaksanakan, kebaikannya pun untuk umat manusia. Namun, kadangkala kitalah yang tidak mengerti bahkan tidak mau belajar dan berpikir tentang kebaikan-kebaikan perintah Allah. Di luar itu, Allah memberi pintu taubat selebar-lebarnya bagi mereka yang mau mensucikan diri dan kembali kepada Allah. Tak ada yang lepas dari perhitungan dan catatan Allah. Maka, satu lagi yang membuat saya jatuh cinta pada Islam adalah pengagungannya terhadap ilmu dan orang yang berilmu. Karena dengan ilmulah, Islam menjadi begitu menenangkan dan membahagiakan bagi siapapun pemeluknya. Seperti yang telah pahami, tak mungkin jatuh cinta bila tak kenal. Kenalilah Islam, maka saya pastikan kamu akan jatuh cinta :)




"Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway I Love Islam


You Might Also Like

2 comments

  1. Alhamdulillah.. semakin mau belajar Islam, semakin jatuh cinta :')

    BalasHapus
  2. alhamdulillah.. masyaallah.. keep istiqomah untuk kitaaa selamanyaa berislam...:)

    BalasHapus