Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

  • 10/23/2014 09:32:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 2 Comments



Kemarin siang-siang ada teman kenal karena sering jajan di Lemarikamila nge-Gtalk. Dia bilang mau cerita tentang masalah pribadi, aku ga nebak masalahnya apa sampai akhirnya dia nanya "dulu mba nikahnya taaruf kan?" Hihihi, ngikiklah aku dalam hati, "Iya, kenapa?" Intinya percakapan ini berlanjut dengan bagaimana proses taarufku berjalan dan apakah aku bisa membantunya mencarikan seorang pendamping idaman *kibasCV

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, di tengah derasnya arus 'kalau ga pacaran ga gahul' masih ada beberapa orang yang berpegang teguh dengan prinsip 'no date before marriage' alias ga ada yang namanya pacaran sebelum nikah. Lah, bukannya pacaran itu proses awal sebelum nikah?Apa bisa sih ga pacaran tapi bisa langgeng dan bahagian nikahnya? Lha itu kok yang disyariatkan sama Allah, kenapa kita musti khawatir? 

Yaudah, utuk membuat kalian percaya bahwa aku telah merasakan betapa prinsip ini benar adanya, akan kuceritakan sedikit bagaimana rasanya menikah tanpa diawali pacaran. Siap?

Dulu, di awal November tahun 2011, sebagai doa atas bertambahnya umurku, Ibunda tercinta mengatakan, "Semoga segera bertemu jodoh yang sholih ya Mba". Doa Ibu memang paling manjur ya? beberapa hari kemudian Mba yang menjadi guru ngajiku mengirim SMS, "Lilis, ini ada data ikhwan, saya kirim kemana?". Kalian ga usah tanya waktu itu rasanya kayak apa, begini-begini saya juga pernah baca surat yang isinya 'aku suka sama kamu'. Tapi rasanya beratus ratus kali lipat lebih mendebarkan isi SMS Mba guru ngajiku daripada surat menye menye pas jaman sekolah dulu. Padahal aku belum tau siapa dan bagaimana orangnya. Apakah aku akan menerimanya atau tidak. Tapi, Allah jawab doa Ibu secepat ini bikin aku lebih merinding. "Apakah ia yang Engkau siapkan untukku Ya Allah", begitu gumamku. 

Singkat cerita, aku dan Bapak Ibu setuju untuk melanjutkan proses ini ke tahap berikutnya. Maka dijadwalkanlah pertemuan antara saya dan mas yang sekarang jadi suami saya di rumah Mba Guru Ngaji. Kami tidak berdua, ada Mba Guru Ngaji dan suaminya yang mendampingi proses ini. Dalam proses ini kami melihat langsung calon suami/istri yang awalnya hanya kami lihat di foto CV atau di tempat-tempat lain *seperti Google, Facebook, buku angkatan, (~ ̄▽ ̄)~ Di forum ini, kami bisa dengan bebas bertanya apa saja, mengkonfirmasi apa saja tentang segala kemungkinan jika kami benar-benar menikah. Kalau bingung mau bertanya apa, beberapa buku panduan pernikahan sudah memberikan contoh-contoh pertanyaannya. Tapi intinya, tanyakanlah apa yang menurut kalian penting untuk diketahui dari pihak pria/wanita. Misal, apakah jika sudah menikah, saya selaku istri, masih diperbolehkan bekerja ataukah harus di rumah? , Bagaimana pandangan Mas/Mba jika saya masih membiayai adik-adik dan ortu saya?, Bagaimana opini Mas/Mba tentang keluarga?, Dengan aktivitas yang banyak selama ini, apakah nanti Mas/Mba bisa memanage waktu dengan baik agar keluarga tidak terabaikan? dst yang teknis teknis, beberapa menanyakan juga siy tentang Apakah pernah memiliki mentee (binaan)? Apakah terbiasa sholat di masjid (*untuk laki-laki)? dst yang berhubungan dengan kondisi ibadah harian. Kalau pacaran, kira-kira sampai sedalem ini gak ya bertanyanya? Maksud saya, bertanya dengan serius dan dipikirkan matang-matang jawabannya  (◡‿◡✿)

Oiya, dalam forum ini biasanya guru ngaji atau siapapun yang mendampingi proses ini, juga akan menyampaikan opininya tentang kita kepada Mas/Mba yang sedang berproses dengan kita. Gimana keseharian kita, gimana pandangannya tentang kita selama ini, dst. Hal ini diharapkan sebagai check and balance supaya ga satu arah dari kita sendiri aja. Takutnya kita melebih-lebihkan atau merendah-rendahkan ∩(︶▽︶)∩ alias ga fair dalam memandang diri kita.

Forum ini biasanya berakhir dengan pertanyaan "Apakah proses ini akan dilanjutkan?" bahkan yang lebih ekstrim "Apakah Mas/Mba sudah mantap untuk lanjut ?" yang diajukan oleh siapapun yang mendampingi forum, kalau sudah siap monggo dijawab, kalau belum alias pengen berpikir dulu juga gakpapa. Kemarin Lis minta waktu seminggu untuk nanya ortu lagi, istikhoroh dan memantapkan hati. Selama masa menunggu keputusan, baik dari aku maupun Mas, aku coba cari link ke orang-orang terdekat Mas waktu itu. Dari rekan kerjanya, dari rekan ngajinya, dst. Meskipun mungkin ada bias karena bisa saja mereka tau temenku bertanya untuk alasan apakah akan menikahi Mas atau tidak sehingga memberi bumbu-bumbu, tapi Lis ngerasa lebih lega saja sudah nyoba cari tau. Emm, sebenernya agak lucu alasan aku mantep dengan Mas ini, kalau dari CV, Lis melihat beliau orangnya sederhana saja, bukan tipe yang menonjolkan dirinya kayak apa, pas aja gitu nyampaiinnya, dari fotonya siy kayaknya orang baik-baik, ga ada tampang jahil atau urakan, penyayang gitu. Persepsiku ini ternyata terbukti juga waktu di forum taaruf beliau menanyakan tentang kebiasaannya mengirimi Ibu di kampung. Selanjutnya, entah kebetulan atau bukan, karena nama Mas pas banget ada di Al Qur'an, kayaknya merinding aja gitu kalau lagi ngaji tiba-tiba ketemu barisan kalimat nama Mas, ★~(◡ω◡✿) 

Foto wisuda ala ala di LN :P

 Tapi, beside that all, aku mantep karena Bapak Ibu juga mantep dengan Mas ini. Beliau ridho anaknya menikah dengan lelaki yang akhirnya datang ini. Apalagi momennya juga pas banget dengan harapan mereka pada anak sulungnya ini. Yap, lebih dari semua alasan di atas, aku mantap memilih Mas nya karena Bapak Ibu sama sekali ga menunjukkan kecenderungan untuk menolak. Syarat Bapak Ibu juga gampang siy, sholih, dari keluarga baik-baik, mampu menafkahi anak istri. Itu saja. Ga kudu super kaya, apalagi super ganteng. Yang penting ga pelit sama keluarga, trus punya unggah ungguh, akhlaknya baik. Udah deh, ganteng doang mah kalah sama yang tipe begini :p

Setelah seminggu berlalu, SMS masuk dari Mba Guru Ngaji. beliau bilang si Mas mau lanjut. Alhamdulillah sujud syukur. Keinginan kami ga bertepuk sebelah tangan. Sama sama ingin melanjutkan ke tahap selanjutnya. Setelah ini, beberapa kali kami saling berbalas email dan sms, mengatur jadwal kunjungan Mas yang pertama kalinya ke rumah, kapan khitbah (aka lamaran) dan kapan tanggal pernikahannya. Allohuakbar! Rasanya waktu itu segalanya mudah alhamdulillah. Ga ada rasa berat atau halangan besar. Semuanya lancar sesuai rencana alhamdulillah. Jika dihitung dari pertama kali aku membaca CV Mas sampai akhirnya menikah, waktunya kurang lebih 5 bulan. Dan selama 5 bulan itu kami bertemu hanya sebanyak 4 kali, pas taaruf, pas kasih undangan pernikahan untuk dibagikan, pas khitbah dan pas Mas ambil barang untuk dibawa ke kontrakan, LOL. Bagaimana dengan persiapan pernikahan, seserahan, seragam dan ubo rampenya? Ya seperti tadi aku bilang, kalau gak email ya sms. Bisa gitu ga ketemuan? Mungkin karena kita berangkat dari niat sama-sama mensukseskan proses yang disunahkan agama ini, maka kami mencukupkan diri dengan saling percaya pada calon suami/istri. Percaya bahwa yang menjadi tugas masing-masing akan diselesaikan sebaik mungkin sesuai kemampuan. Misalnya, karena aku yang ada di pihak perempuan, maka aku yang bertugas menyiapkan acara akad dan resepsi. Mulai dari mempersiapkan dokumen, mengundang Penghulu, mempersiapkan panitia, meyiapkan katering, undangan, tenda dan perlengkapannya, juga menyiapkan perias.Dari sisi Mas, beliau aku minta bertanggung jawab untuk mempersiapkan dimana kami akan tinggal setelah menikah. Lis hanya memberikan saran dimana lokasi yang diinginkan tetapi pas beneran nyarinya itu aku serahkan sepenuhnya ke Mas. Jadilah Mas usaha nyari sampai nemu yang menurut beliau nyaman, baik di kantong maupun di hati, LOL Oiya, kalau tentang detil persiapan pernikahannya, sudah pernah lis post ya, silahkan cek ke older Post.

Sekarang,setelah memasuki usia pernikahan yang ketiga, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, semuanya masih sesuai trek. Betul banget awal-awalnya kami canggung, ketemuan baru 4 kali sebelumnya, itupun bukan untuk pedekate. Kirim email dan sms isinya bukan sayang-sayangan. Tapi rasanya pas udah akad ya lega aja. Gak ada perasaan ngerasa dia orang asing atau gimana, malah bahagia dan bersyukur banget, Allah SWT kirimkan jodoh dengan cara yang Allah SWT syariatkan. Mudah dan berkah insyaAllah. Nah, sebenarnya keberkahan hubungan itulah yang kita cari Saudara, Saudariku. Bahwa kita menikah bukan sekedar karena kita ngerasa cocok, atau kita ngerasa sayang, atau kita ngerasa suka, lebih dari itu karena kita yakin bersama dengannyalah kehidupan dunia dan akhirat kita berkah. 

Aku percaya adanya kehidupan setelah mati. Dalam banyak dalil, Allah SWT memberitahu kita bahwa suami/istri adalah salah satu jalan kita menuju jannahNya, surga firdaus, taman yang keindahannya tidak terbetik sedikitpun oleh manusia. Istri yang menjaga sholat, harta suami dan kehormatannya, serta taat kepada suaminya,  dijanjikan surga. Suami yang menjaga istri dan anak dari apa neraka, menafkahi lahir dan batin mereka, dijanjikan surga. Lalu, apakah kita berani sembarangan dalam menjalin hubungan pernikahan jika yang kita jaminkan adalah kehidupan dunia dan akhirat kita? Beranikah kita melawan suami jika hal itu menurunkan murkanya Allah? Beranikah kita lalai menafkahi istri dan anak jika itu sangat dibenci Allah? Jadi, jika begitu pentingnya kita menemukan sesosok pasangan yang mengerti agama, yang mencintai Tuhannya, yang baik akhlaknya, adakah ia membuka diri untuk dipacari oleh orang yang bukan muhrimnya? yang belum ada ketetapan akan masa depannya apakah akan menjadi istri/suami nya? Aku rasa tidak.

Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman "dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang teramat buruk” (Q.S. Al-Isra’ : 32). Apakah zina itu? Zina artinya melakukan hubungan badan dengan orang yang bukan istri/suaminya. Namun, zina sendiri memiliki beberapa turunan lain seperti disebutkan dalam hadis berikut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang lain bersabda:
Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata dengan melihat (yang diharamkan), zina hati dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad)

Bukankah dalam berpacaran risiko semua jenis zina itu lebih besar? Meski yang akan membenarkan adalah kemaluan, tetapi mendekati saja Allah sudah larang. Dan adakah hubungan yang disandarkan pada apa yang dilarang Allah akan diberkahi Allah? 

Terus how kalau kita suka sama seseorang? Kita pengen dia aja yang jadi suami atau istri kita? Hihi, ada pembahasan bagus dan menghibur banget soal ini, banyak di blog favorit aku juga, nama pemiliknya Dhira, anak Pak Jamil Azzaini (motivator terkenal). Bisa baca di sini. Yang intinya, usaha boleh, tapi jangan sampai hati kita terlalu condong mencintai makhluk sampai-sampai kita lupa meminta pada Penciptanya :p

Buatlah diri kita menjadi kado terindah untuk pasangan kita

Well, akhirnya, di sisa sisa pembahasan tentang betapa prinsip ga pacaran dulu sebelum nikah itu beneran ada hikmahnya. Allah pengen kasih surprise ke pasangan suami istri, istri adalah kado buat suaminya, suami adalah kado buat istrinya. Keduanya masih disegel rapat. Dibungkus khusus oleh Allah hanya untuk keduanya. Cantiknya istri, romantisnya suami, hanya pernah dinikmati oleh mereka berdua. Tiada satupun orang di luar sana yang merindukan kecantikan maupun keromantisan itu. Karena mereka berdua tidak pernah membaginya kecuali kepada suami/istrinya, masyaAllah, indah bangett (n˘v˘•)¬ Negecess ga niy? :DD

Batu kerikil jelas banyak, batu yang besar juga sesekali ditemui. Itulah hakikat pernikahan. Tapi ketika kita menikmatinya seperti hangatnya cinta yang merekah (*ala ala FTV bahkan lebih lebih lebih). Kita jadi punya semangat dan keyakinan untuk melewati itu semua dengan tangan saling bergenggaman, doa saling dilantunkan. Pacaranlah semaumu, setelah kamu menikahinya. Itu halal. Itu berkah. Itu manis. 

Sebagai penutup, Lis akan tulis adegan romantis ala kami berdua.

Abah : Mi, jemput kan ? (saya biasa dijemput suami pulang kantor)
Umi  : Ya Babah ~

~detik detik berlalu si istri masih keasyikan ngeblog, padahal si mas suami sudah sampai di lokasi penjemputan~

Handphone si istri menyala, ada SMS masuk "Abah dah di depan", sambil bergegas menuju lokasi penjemputan si istri membalas SMS, "Umi dah di hati Abah". Ceilaahhh ~ヾ(●⌒∇⌒●)ノ(≧◡≦)(*・∀・*)人(*・∀・*)


You Might Also Like

2 comments

  1. *nyengir deh
    baca kalimat terakhir mbaa..barakallahu fiik ^^v

    BalasHapus
  2. Pacaran halal, nambah pahala, bahagia, romantis, duh. Bahagia selalu ya mbak dan keluarga <3

    Salam,
    Oca

    BalasHapus