Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

#1Day1Dream : Perpustakaan Bintang Kecil

Gambar
Saya suka anak-anak. Dengan celotehan mereka. Dengan ekspresi mereka. Teriakan dan senyuman mereka. Juga tentu saja rasa penasaran mereka.  Buku. Buku banyak disebut sebagai jembatan untuk membangun bonding antara orang tua dan anak. Buku juga dikenal sebagai terapi. Buku disebut sebagai teman. Buku adalah inspirasi. Dari sejak kecil saya didoktrin untuk suka baca. Alhamdulillah waktu itu bapak ibu kasih saya fasilitas Majalah Bobo. Majalah Bobo datang mingguan. Inget ga cerita Bona dan Rong-Rong atau Paman Gembul? Nirmala? Hihi, dan tentu saja aneka cerpen ala anak-anak. Juga beberapa ulasan soal keunikan-keunikan di berbagai negara atau bagaimana gempa bumi terjadi? Ngumpulin hadiah-hadiahnya ga siy? Mulai dari jam, kalender, tempat pensil, banyaaakk >,< Kalau buku cerita anak-anak terus terang Lis ga punya banyak pas kecil. Karena tinggal di kota kecil, buku-buku seperti itu ga tersedia. Berbahagialah kalian yang sudah menyambangi Gramedia bahkan sejak baru lahir, ehehe. T

Cara Saya Merayu Pak Suami

Proposal Pembelian Mesin Jahit Assalamu’alaykumwrwb Dear Abah, Hihi, maafkan isterimu yang banyak maunya, semoga Mas mau bersabar membaca sampai selesai. Passion adek dari dulu memang tentang desain pakaian, termasuk menjahit segala craft. Beberapa di antaranya sudah Abah ketahui hasilnya, meskipun sederhana tetapi bermanfaat. Adek merasa keinginan membeli pakaian untuk diri sendiri maupun anak kita cukup impulsif, jika tidak mau disebut boros. Padahal jika Adek bisa menjahit, insyaAllah kebutuhan pakaian Yumna dan Uminya terpenuhi tanpa memerlukan banyak uang. Adek bisa saja minta dijahitkan ke Bang Agus, biaya yang keluar juga tidak sebesar jika membeli, namun pastinya terbatas. Selain itu, Bang Agus tidak akan bisa menjahit tas, selimut, atau tempat pensil. Sedangkan jika Adek membeli, pasti lebih banyak membutuhkan biaya. Kondisi bisnis Adek sedang sepi karena Adek belum melakukan produksi gamis baru. Itu dikarenakan saat ini Adek belum punya waktu untuk belanja dan seda

#1Day1Dream : Sekaliber Irna Mutiara

Gambar
Picture Source I looove beautiful dress, : ) Entah kenapa saya suka sekali pakaian-pakaian bagus, meski demikian alhamdulillah saya tidak impulsif dengan merek pakaian yang saya pakai. Apalagi setelah berhasil merintis brand sendiri (alhamdulillah), malah semakin ngerem mau beli baju ini itu. Biasanya kepikirannya "aku bisa bikin sendiri", ehehe, sok banget. Tapi kalau soal inspirasi saya selalu mencari berbagai sumber, salah satunya adalah Bunda Irna Mutiara. Saya mengenal karya beliau saat awal tahun 2012 ketika saya merencanakan pernikahan. Bunda Irna melekat dengan desain gaun yang mewah dan modest, namun tidak terkesan 'sombong', namun lebih ke arah pure dan wanita sekali, warma-warnanya lembut, banyak drappery dan detail sebagai wujud kesempurnaan dalam mendesain. Waktu itu saya pengen sekali bisa pakai baju pengantin ala-ala Irna La Perle (salah satu brand Irna Mutiara), namun apa daya dompet tak sampai *eh :DDD  Bunda Irna ternyata memulai kesuk

{Catatan Facebook} : Save Our Sholah

Gambar
Jika ada mukena berlebih, yuk ah bawa ke mushola-mushola yang ada di fasilitas publik, yang tadinya nganggur tuh mukena, insyaAllah tiba-tiba jadi ladang pahala buatmu karena bermanfaat buat saudari-saudari kita yang membutuhkannya. # Simple thing but great impact

Apakah Arti Romantisme Buatmu?

Gambar
sumber “Salah satu wujud romantisme seorang suami kepada istrinya adalah saat ia memasangkan helm ke kepala istrinya ketika hendak bepergian..” (Ustadz Syafiq Reza hafizhahullah) Kutipan nasehat Ustadz Syafiq Reza di atas muncul ketika saya membuka beranda Facebook beberapa waktu yang lalu. Istri manapun yang mendengar kalimat tersebut, biasanya langsung berusaha mengingat-ingat, “Pernah nggak ya suamiku memasangkan helm untukku ketika kami hendak pergi naik motor?” How do I know? Because I felt the same way too. Aha! Anybody agree? :D In our early years of marriage, berbagai bayangan tentang hal-hal serba romantis itu ya seputar bunga, lovely surprises, kirim-kiriman ungkapan mesra sesering mungkin, nge-date berdua, and all those typical romantic stuffs. Waktu berputar, tahun berlalu.. Pernah sih mikir gini, kenapa sekarang kami nggak se-romantis dulu di awal pernikahan ya? Tiap hari pasti sms-an saying I Love You, kadang sehari bisa beberapa kali. Kehadiran

{Catatan Facebook} : Revoluasi Memasak

Gambar
Pertama-tama, saya tidak bermaksud menceritakan aib, atau bahkan jika ada yang seperti saya, saya tidak menganggapnya sebagai aib. Setelah menikah, wajar bagi seorang istri bila bertambah kegiatan hariannya dalam rangka mengurus rumah tangga, salah satunya memasak. Di awal pernikahan, aktivitas memasak pasang surut karena alasan kuliah sampai malam. Pagi pagi sesekali berhasil memasak, sesekali ke kantor pun kejar kejaran dengan waktu. Ini pas masih dekat sama kantor, apalagi sekarang pas rumah agak jauh dari kantor. Pulang malam jadi alasan ogah bangun pagi-pagi banget untuk masak kecuali maemnya Yumna. Itupun bisanya baru yang praktis-praktis. First of all, kenapa Lis ga bilang ini aib karena memasak bukan kewajiban istri. Memasak hukumnya berpahala bila dilakukan (karena berbuat baik pada keluarga) dan tidak berdosa jika tidak dilakukan. Bahkan suamilah yang memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarga, termasuk detilnya menyiapkan makan, entah masak sendiri, entah beli, entah m

Manajemen Keluarga Ibu Bekerja

Gambar
baby at office? Mengawali pembahasan tentang bagaimana manajemen keluarga yang baik bagi ibu bekerja, kita mundur dulu ke titik awal tujuan sebuah pernikahan. Pembahasan ini penting untuk mendasari pemahaman kita bersama mengenai mengelola keluarga. Seseorang menikah memiliki 3 tujuan utama yang dibagi menjadi tiga masa, jangka oendek, jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan pernikahan dalam jangka pendek adalah menjaga kesucian, melepaskan hasrat seks kepada orang yang sah, dengan cara yang halal. Jika tujuan menikah hanya karena ini, maka kita sama sekali tidak perlu memikirkan apakah orang yang kita nikahi sholih atau tidak, baik atau tidak, selama ia lelaki dan wanita normal, maka ia bisa-bisa saja kita pilih. Namun, pada jangka menengah, tujuan pernikahan adalah melahirkan keturunan yang sholih dan sholihah. Karena tujuan inilah, maka kita jadi perlu dan penting memperhatikan bobot bibit bebet dan yang pasti kesholihan calon pasangan kita. Karena kita pengen bersama-sam

Yumna, Milad 1 Tahun

Gambar
Cheers :3 Alhamdulillah, Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Yumna diberi umur panjang dan kesehatan memasuki usia 1 tahun. Tidak seperti Umi Ibu Bunda lain yang bisa dengan bangga menceritakan proses kelahiran anak mereka, Umi merasa tidak begitu hebat. Umi melahirkanmu dengan cara sectio cesaria (SC). Umi tidak merasakan kontraksi seperti Bunda-bunda teman Yumna. Umipun tidak dapat dikatakan memberdayakan diri seperti yang disebutkan dalam buku-buku tentang kehamilan. Umi hanya ingat saat itu kami mengusahakan yang terbaik untukmu dan Umi, Nak. Karena kami hanya manusia biasa, pengetahuan kami terbatas. Selama Umi kandung, Yumna suka sekali melintang. Apa karena ruang di sana tidak begitu besar Nak? Umi tidak menyalahkanmu menyukai posisi sungsang. Karena setelah kita usahakan untuk bisa dalam posisi siap lahir, Yumna tetap memilih posisi sungsang. Umi mungkin saja menunggumu hingga berusia 40w dalam kandungan, tapi apa mungkin Umi sanggup jika harus menemui kondisi pecah ketub

Haruskah Wanita yang Meminang?

Sebuah chat masuk ke salah satu akun sosial media saya beberapa waktu terakhir ini. Isinya cukup mengagetkan. Seseorang yang tidak bisa saya sebut sebagai teman dekat menanyakan tentang "Bagaimana si proses taaruf dan tukar cv itu?", dengan diakhiri kalimat "Aku sudah siap menikah, tetapi belum punya calon". Dan temenku ini, perempuan.  Usia memang salah satu tuntutan bagi seorang perempuan untuk bisa menargetkan kapan ia menikah. Bukan hanya urusan kesehatan fisiknya, di negara kita, Indonesia, perempuan yang menikah pada usia di atas usia rata-rata seringkali juga mendapat tekanan sosial. Mulai dari ditanya "kapan menikah", "sudah ada calon?", "Awas loh, nanti jadi perawan tua", dan sederet kalimat-kalimat lain yang tidak ada dampaknya kecuali menambah kegalauan. Rejeki bernama suami itu jelas sudah Allah atur, tetapi tentu kita juga harus berikhtiar. Maka saya merasa salut kepada para wanita yang dengan besar hati menyatakan diri