Haruskah Wanita yang Meminang?

2/05/2015 02:52:00 PM

Sebuah chat masuk ke salah satu akun sosial media saya beberapa waktu terakhir ini. Isinya cukup mengagetkan. Seseorang yang tidak bisa saya sebut sebagai teman dekat menanyakan tentang "Bagaimana si proses taaruf dan tukar cv itu?", dengan diakhiri kalimat "Aku sudah siap menikah, tetapi belum punya calon". Dan temenku ini, perempuan. 

Usia memang salah satu tuntutan bagi seorang perempuan untuk bisa menargetkan kapan ia menikah. Bukan hanya urusan kesehatan fisiknya, di negara kita, Indonesia, perempuan yang menikah pada usia di atas usia rata-rata seringkali juga mendapat tekanan sosial. Mulai dari ditanya "kapan menikah", "sudah ada calon?", "Awas loh, nanti jadi perawan tua", dan sederet kalimat-kalimat lain yang tidak ada dampaknya kecuali menambah kegalauan. Rejeki bernama suami itu jelas sudah Allah atur, tetapi tentu kita juga harus berikhtiar. Maka saya merasa salut kepada para wanita yang dengan besar hati menyatakan diri siap menikah dan mulai mencari jalan untuk mewujudkannya.

Bagi seorang perempuan 'timur', meminang lelaki terlebih dahulu dianggap tabu. Ora ilok bahasa Jawanya. Kayak ga tau malu gitu. Padahal ya, dulunya itu istri Rasululloh SAW, Khodijah RA dulu loh yang 'ada rasa' sama Rasululloh SAW. Tapi cara beliau super keren, ga langsung nembak gitu, tapi lewat perantara. Perantara tersebutlah yang mengatakan apakah Rasululloh SAW bersedia menjadi suami Khadijah RA. Kira-kira kalau di jaman kita sekarang, bisa ga ya cara kayak gini ? Secara ya, aku belum melihat tanda-tanda ada lelaki yang menyatakan diri siap menikah, apa iya, kudu sang wanita yang meminang terlebih dahulu?

Tapi cara Ummu Khadijah RA itu inspiratif, asalkan perantara kita amanah, begitu juga orang yang kita anggap ideal untuk menjadi suami amanah, cara seperti ini sama sekali ga buruk. Sistem ini bakal rusak kalau mulai ada yang ga amanah, misal ya, si perantara malah jadi ngegosip sana-sini kalau si Melati (bukan nama sebenarnya) menawarkan diri untuk diperistri si Kumbang (bukan nama sebenarnya juga). Bukannya lancar malah si Melati kena malu segedhe gaban. Begitu juga kalau yang ga amanah si Kumbang, udah ga mau nerima malah dengan sengaknya koar-koar di socmed kalau si Melati minta nikah, rrr. Jadi, meski cara ini inspiratif, risikonya cukup besar, terutama risiko malu. Tapi beneran loh, cara ini sama sekali ga haram. Halal. Alias boleh dan sah saja.

Kemarin juga baru baca ada seorang wanita yang akhirnya bertemu jodoh setelah 28 kali taaruf, Ya Allah, keren dan salut sekali saayaa >,< Hampir-hampir ya itu si mba off ikhtiar cari jodoh dan pasrah aja dan masyaAllah tetiba Allah kirimkan lelaki yang akhirnya menikahinya. Kadang kepikiran di luar sana banyak bener yak yang bikin hubungan di luar ketentuan Allah. Padahal di sisi lain ada orang-orang yang saking menjaga dirinya sampai melampaui 28 kali taaruf untuk bisa menikah (dan ini kebanyakan berhenti bukan dari sisi si mbaknya, melainkan si masnya loh).

Lika liku menikah memang menarik. Bagi sebagian orang, begitu mudahnya dapat jodoh, bagi sebagian yang lain sampai menguras air mata dan kesabaran. Tapi yang harus kita percayai, bahwa menikah bukanlah sekedar untuk status. Menikah adalah sarana mendapat ridhonya Allah, serta meraih surganya Allah. Sarana membangun peradaban. Sarana memperbaiki kondisi umat. Tantangan seseorang tidak berhenti saat akhirnya terucap ijab qobul. Malah disitulah mulanya perjuangan itu.

Jadi Saudariku,
bersabarlah,
Semoga Allah tunjuki jodoh terbaik di waktu yang tepat.



You Might Also Like

0 comments