Manajemen Keluarga Ibu Bekerja

  • 2/24/2015 09:51:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 2 Comments

baby at office?
Mengawali pembahasan tentang bagaimana manajemen keluarga yang baik bagi ibu bekerja, kita mundur dulu ke titik awal tujuan sebuah pernikahan. Pembahasan ini penting untuk mendasari pemahaman kita bersama mengenai mengelola keluarga.

Seseorang menikah memiliki 3 tujuan utama yang dibagi menjadi tiga masa, jangka oendek, jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan pernikahan dalam jangka pendek adalah menjaga kesucian, melepaskan hasrat seks kepada orang yang sah, dengan cara yang halal. Jika tujuan menikah hanya karena ini, maka kita sama sekali tidak perlu memikirkan apakah orang yang kita nikahi sholih atau tidak, baik atau tidak, selama ia lelaki dan wanita normal, maka ia bisa-bisa saja kita pilih. Namun, pada jangka menengah, tujuan pernikahan adalah melahirkan keturunan yang sholih dan sholihah. Karena tujuan inilah, maka kita jadi perlu dan penting memperhatikan bobot bibit bebet dan yang pasti kesholihan calon pasangan kita. Karena kita pengen bersama-sama mendidik anak-anak jadi sholih dan sholihah. Dan yang terakhir, tujuan menikah jangka panjang adalah tujuan menikah yang paling dahsyat. Allah SWT telah menyebutkan tujuan ini di dalam Al Quran surat At Thur : 21, yang artinya : 

Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Dalam buku tasfirnya, Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT memberitahukan tentang karunia, pemberian, anugrah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya serta kebaikan Allah SWT kepada mereka: Apabila orang-orang yang beriman diikuti oleh keluarga-keluarga mereka dengan keimanan maka mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka dalam tingkatan surga, sekalipun amal-amal mereka tidak sampai pada tingkatan tersebut agar bapak-bapak mereka merasa senang dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka pada tingkatan yang sama, Allah SWT akan mengumpulkan mereka dengan wajah yang paling baik, Allah SWT mengangkat orang yang kurang amal shalehnya dengan mereka yang amalanya sempurna dan tidak mengurangi dari jumlah amal mereka sedikitpun dan tidak pula tingkatan mereka, agar tingkatan mereka menjadi sama antara dirinya dengan yang lain”1.

Ya, tujuan menikah yang paling hakiki adalah bersama-sama berkumpul di surganya Allah SWT. MasyaAllah~ Jika kita memahami visi besar yang Allah embankan bagi setiap keluarga Muslim ini, niscaya kita tidak akan memiliki keinginan untuk menjalankannya dengan sesuka hati melainkan memilih yang terbaik untuk terwujudnya visi keluarga kita.

Setelah kita memahami tujuan utama pernikahan, kita diingatkan kembali bahwa seorang istri adalah seorang wanita Muslimah yang memiliki beberapa tanggung jawab selain sebagai istri dan ibu. Ia adalah hamba Allah. Karena perannya ini, ia bertanggung jawab untuk memenuhi tujuan penciptaanya yaitu beribadah dan menuntut ilmu. Selanjutnya ia juga berperan sebgai seorang anak, maka ia wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia pun seorang istri, dalam perannya ini, tanggung jawabnya hanyalah melayani suami dalam hal seks. Apabila isteri membantu suami dalam kebaikan-kebaikan lain (memasak, membersihkan rumah, menyiapkan pakaian), maka itu amal kebaikan tambahan yang hukumnya tidak wajib. Setelah menjadi istri, ia juga berperan sebagai Ibu. Atas perannya ini, ia bertanggung jawab menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. 

Nah, setelah memahami tujuan pernikahan dan peran seorang wanita, maka selanjutnya kita bisa memahami bahwa wanita bekerja mendapat satu tanggung jawab baru yaitu sebagai karyawati atau bahkan CEO. Namun demikian, tanggung jawab barunya ini tidak boleh mengakibatkan tanggung jawab lain terbengkalai dan tujuan utama pernikahan terlupakan. Bagi istri yang bekerja, pertama-tama ia haruslah mendapat ridho dari suami. Tanpa keridhoan suami, maka hukum bekerja bagi istri berubah menjadi haram hukumnya. Selain itu, bekerjanyapun harus tetap memilih pekerjaan yang dihalalkan dan memungkinkan sang istri untuk menjaga diri dan melaksanakan ibadah wajib. 

Selanjutnya, untuk mampu menyeimbangkan seluruh peran, maka seorang istri harus pandai mengelola diri dan keluarganya. Ust Sri Vira Chandra membagikan tips-tips yang sangat aplikatif untuk mendukung manajemen keluarga.


  1. Membuat jadwal kegiatan. Jadwal ini minimal dibuat mingguan, tetapi bisa juga bulanan, bahkan lebih baik jika bisa detil sampai kegiatan per hari. Dengan jadwal kegiatan, kita jadi belajar tentang manajemen waktu. Sebagai Ibu bekerja kita tak lagi bisa menyerahkan semuanya berjalan seperti air mengalir. Dengan membuat prioritas kita bisa membuat alokasi ibadah mahdhah (langsung berkaitan dengan Allah, seperti sholat, tilawah, etc) dan ghoiru mahdhah (membersihkan rumah, memasak, bersosialisasi, etc). Kedua ibadah tersebut harus selalu lengkap dan seimbang dalam keseharian kita loh ya, jangan mentang-mentang tidak ada pembantu atau sibuk mengurus rumah dan anak, tilawah ditinggalkan, sholat sunah ditinggalkan. Padahal, jika kita sadari, ibadah ghoiru mahdhah luar biasa menyerap energi kita, jika tidak dibarengi dengan ibadah mahdhah yang secara ajaib merecharge energi kita, niscaya kita akan merasa sangat kelelahan dan mudah naik pitam. 
  2. Berani mengatakan tidak untuk kegiatan yang tidak perlu atau tidak mendesak. Hal ini berlaku baik saat di kantor maupun saat libur. Sebagai ibu bekerja, waktu untuk jalan-jalan bersama teman memang tidak akan seleluasa saat masih bujangan. Anak-anak di rumah menanti kepulangan kita, begitupun saat weekend adalah hari yang mereka tunggu untuk bermain dan bercengkerama. Di sini kita juga belajar konsentrasi, konsentrasi membantu kita efektif menggunakan waktu.
  3. Set waktu untuk masing-masing kegiatan. Selain kegiatan yang terjadwal dan hanya memilih yang prioritas, kita juga harus mensetting lamanya waktu untuk masing-masing kegiatan. Lebih penting mendidik anak daripada menyetrika. Maka menyetrikalah dengan cara paling praktis, setrika hanya pakaian-pakaian ke kantor, pakaian di rumah cukup dilipat kemudia di setrika bagian depan dan belakang, usahakan menyetrika tidak lebih dari dua jam per 3 hari. Menata ulang ruangan atau lemari lakukan saat kita haid saja, sehingga tidak menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah mahdhah. 
  4. Istirahat yang cukup. Lebih baik tidur cepat namun bangun awal daripada tidur larut dan kesiangan. 
  5. Jangan segan untuk meminta bantuan orang lain. Segala hal yang wajib dilakukan dalam sebuah rumah tangga, maka wajib bagi suami untuk membantu. Untuk tugas-tugas lain seperti mengurus rumah, memasak, jika memang memerlukan bantuan asisten, maka tidak apa jika dibantu. 
  6. Buatlah Hari Memasak Nasional. Hari dimana Ibu-ibu bisa mengalokasikan 2-3 jam untuk mempersiapkan bahan-bahan siap masak untuk kurang lebih seminggu. Selain mempercepat proses memasak, kita pun jadi berkurang rasa malas untuk memasak. Keluarga terjamin makannya, selain itu pun rumah menjadi lebih hidup karena kita punya waktu makan bersama di rumah.
  7. Pakailah teknologi untuk mengoptimalkan waktu dan tenaga. Sebagai ibu bekerja, waktu kita untuk berbelanja atau mengurus ini itu tidak sebanyak ibu-ibu yang full di rumah. Untuk itu, gunakanalah teknologi secara bijak untuk menyelesaikan kewajiaban-kewajiban, seperti berbelanja kebutuhan anak via online, membayar listrik, membayar pulsa, dll. Begitu juga untuk berkomunikasi selama kita sedang di luar kota atau di kantor.
  8. Belajar multitasking. Wanita dikenal mampu mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu. Dan selama ini dilatih, maka kemampuan ini akan sangat membantu. Misal, mencuci (di mesin cuci) sambil menggoreng tempe sambil menanak nasi sambil menemani anak bermain. 
  9. Berdoa kepada Allah. Berdoalah semoga kita dikuatkan melaksanakan seluruh peran, berdoa semoga Allah berikan berkah dalam setiap langkah kita mengotimalkan diri untuk semua peran. Berdoa semoga ruhiyah tetap terjaga meski kesibukan begitu banyak.
  10. Evaluasi keperluan ibu bekerja. Setiap tahun, atau setiap saat ketika kondisi keluarga sudah memberikan warning tentang ketidakoptimalan peran utama bagi seorang Ibu, itulah saatnya bagi kita untuk memusyawarahkan kembali dengan suami apakah kita masih perlu bekerja. Karena dalam kondisi suami masih mampu mencari nafkah, istri sama sekali tidak wajib bekerja. Sehingga prioritas utamanya adalah anak-anak dan keluarga. 
Saya sendiri bersyukur di rumah masih ada yang membantu beres-beres, saya hanya terkait urusan menyiapkan makanan saja, kecuali pas weekend, saya mandikan anak, ngajak main dst selama tidak sedang ada keperluan mendesak yang tidak bisa bawa anak. Kunci utama kesuksesan ibu bekerja adalah keikhlasan dan kreativitas. Ikhlas mengoptimalkan energi, kreativitas membuat kita jadi tidak jenuh dan galau. Di sela-sela waktu senggang kantor, saya sesekali membuat baju kreasi untuk anak, atau membuatkan mainan untuk dimainkan dia di rumah nanti. 

Tidak setiap Ibu Allah takdirkan untuk bekerja, kita yang menjadi beberapa di antara yang bekerja itu, semoga Allah mudahkan untuk tetap dengan baik mengurus rumah dan anak-anak. Dan semoga anak-anak kita jauh dari marabahaya, baik jiwanya maupun raganya. Semoga lelah-lelah kita dalam mencari rizki halal, menjadi penggugur dosa-dosa yang tidak hilang dengan sedikitnya amal ibadah kita kepada Allah. Dan smeoga rizki kita menjadi rizki yang memakmurkan sekitar, membahagiakan yang membutuhkan. Aamiin~






You Might Also Like

2 comments

  1. Bermanfaat bgt mb lis...aku suka postingan yang memberikan ilmu tentang rumag tangga...mihihiii, mampir jg ke blog aku ya di www.gembulnita.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga bisa istiqomah share tentang hal-hal berbau rumah tangga :p

      Aku akan main~

      Hapus