Yumna, Milad 1 Tahun

  • 2/23/2015 03:14:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 0 Comments

Cheers :3
Alhamdulillah,
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Yumna diberi umur panjang dan kesehatan memasuki usia 1 tahun. Tidak seperti Umi Ibu Bunda lain yang bisa dengan bangga menceritakan proses kelahiran anak mereka, Umi merasa tidak begitu hebat. Umi melahirkanmu dengan cara sectio cesaria (SC). Umi tidak merasakan kontraksi seperti Bunda-bunda teman Yumna. Umipun tidak dapat dikatakan memberdayakan diri seperti yang disebutkan dalam buku-buku tentang kehamilan. Umi hanya ingat saat itu kami mengusahakan yang terbaik untukmu dan Umi, Nak. Karena kami hanya manusia biasa, pengetahuan kami terbatas. Selama Umi kandung, Yumna suka sekali melintang. Apa karena ruang di sana tidak begitu besar Nak? Umi tidak menyalahkanmu menyukai posisi sungsang. Karena setelah kita usahakan untuk bisa dalam posisi siap lahir, Yumna tetap memilih posisi sungsang. Umi mungkin saja menunggumu hingga berusia 40w dalam kandungan, tapi apa mungkin Umi sanggup jika harus menemui kondisi pecah ketuban atau kontraksi saat posisimu belum siap? Umi terus terang tidak mampu Nak. Bukan Umi tidak percaya padamu, tetapi Umi hanya mengharap yang terbaik untukmu. Karena Yumna bukan kehamilan pertama Umi. Karena Yumna adalah karunia yang Umi tunggu-tunggu. 

Meski tidak melahirkanmu dengan heroik, Umi masih ingat saat perawat menunjukkanmu untuk pertama kalinya. Tubuhmu penuh lemak putih. Matamu pun masih mengatup. Umi mencium keningmu, Nak. Dan perawat meletakkanmu di dada Umi. Kamu pintar sekali, Nak. Kamu pintar sekali. 

Umi minta maaf tidak sempurna menjadi Umimu. Tidak sempurna menyusuimu. Demi kebaikan kita berdua, Umi memutuskan untuk sepenuhnya memberimu susu formula saat ASI Umi mengering. Umi siap untuk Yumna marahi kelak jika Yumna mengetahui kenyataan ini, tetapi jika nanti engkau jadi Ibu, susuilah anakmu dengan sempurna, Nak. Tetap susuilah anakmu, jangan pernah mencontoh Umimu yang tak sempurna ini. 

Kesedihan Umi memuncak setiap melihatmu pulas tertidur, Umi dibayangi rasa khawatir yang amat sangat akan kehidupan masa depanmu. Akankah kamu merasa kurang kasih sayang? Akankah kamu tumbuh menjadi anak yang jiwanya kosong? Maafkan Umi, Nak. Umi tak pantas dibanggakan. Tapi Umi selalu berdoa, semoga Allah menggenapkan jiwamu. Menjaga ragamu. Menggenggam kelak masa depanmu. Memberimu rahmat dan berkah, seperti namamu. Meski Umi tidak memberimu dekapan saat menyusu, tapi Umi mendekapmu di waktu-waktu yang lain. Cinta Umi padamu, mohon engkau terima Nak. Umi yang penuh kekurangan ini, tolong terima ia. 

Kini, sedikit demi sedikit, Yumna telah menjadi diri Yumna sendiri. Yumna memiliki kehendak, Yumna memiliki sikap dan karakter sendiri. Yumna telah tumbuh menjadi anak yang ceria. Tersenyum bahkan sejak bangun tidur. Mudah bersosialisasi dengan orang lain. Tidak mudah patah semangat. Yumna anak yang cerdas, senang belajar hal-hal baru. Yumna memahami banyak hal di usia semuda ini. MasyaAllah, alhamdulillah. 

Ijinkan Umi tetap membanggakanmu, Nak.
Ijinkan Umi tetap menjadi bagian hidupmu. 
Ijinkan Umi tetap menjadi Umi kesayanganmu.

Ya Allah, sayangi Yumna. Berkahilah ia dengan limpahan rahmatMu.
Jagalah ia wahai Maha Penjaga
Sayangailah ia wahai Maha Penyayang
Tuntunlah ia di jalan yang benar Wahai Maha Pemberi Petunjuk

Ya Allah, 
Dalam ketidakmampuan mendidik dan menyayangi ia sebaik yang Engkau tuntunkan, tetaplah beri hamba kekuatan, untuk melakukan yang terbaik yang hamba mampu untuk anak-anak hamba. Dan pertemukanlah kami kelak, di surgamu. Aamiin.

Barokallohu fi umriki, Yumna anakku.
Umi uhibbuki fillah.

You Might Also Like

0 comments