Manfaat Secara Emosional dari Melahirkan Pervaginam

4/15/2016 03:09:00 PM




Ini lanjutan dari beberapa cerita VBAC saya sebelumnya. Yang mau baca silahkan mampir ke wall FB saya ya (semoga mau ya :P)

Pagi ini saya membaca tulisan sahabat dan guru saya yang saya kenal semenjak saya ingin sekali melahirkan normal setelah sebelumnya SC (its called VBAC : vaginal birth after cesarean), ternyata bulan ini adalah "Cesarean Awareness Month", yaitu bulan yang menandai awareness kita terhadap proses kelahiran dengan cara operasi.

NO, saya sama sekali tidak anti SC. SC adalah anugerah. SC adalah pertolongan Allah yang diilhamkan pada dotker-dokter kita. SC memberi banyak kesempatan nyawa tertolong. SC penting!

Tapi, kita semua juga perlu tahu, bahwa SC bukan pilihan melainkan treatment khusus. Iya, treatment khusus yang hanya diberikan kepada ibu yang memerlukan. Treatment khusus pada kondisi khusus. Dan, karena kekhususannya, SC sebagai sarana kelahiran bayi diberi persentase hanya 5-10% dari keseluruhan proses melahirkan (bisa search ya). Jika ada 1000 kelahiran, maka hanya 50-100 orang saja yang diduga memerlukan bantuan operasi untuk melahirkan anaknya. Namun, saat ini angka itu sudah jauh terlampaui, tahun 2011, di US, tercatat 32% kelahiran dilakukan dengan operasi, tiga kali lipat lebih besar dari angka yang ideal. Why? *silahkan direnungkan


***

Kembali pada tujuan dan keinginan saya untuk bisa melahirkan normal setelah pernah SC, sejujurnya, SC saya sebelumnya karena anak saya sungsang, iya, Yumna sungsang selama dalam kandungan, ia tak pernah sekalipun dalam posisi yang seharusnya. Waktu itu, saya ternyata masih terbawa trauma. Trauma karena kakak saya yang juga sungsang, meninggal setelah 1 jam dilahirkan per vaginam, saya tidak mau anak saya mengalami hal yang sama, sehingga saya tidak satu kalipun berfikiran untuk melahirkan pervaginam. Jadi, saya secara sadar memilih untuk melahirkan dengan operasi.

SC saya sendiri tidak meninggalkan trauma setelahnya. Alhamdulillah tidak ada komplikasi pada Yumna, maupun pada saya. Meskipun pasca SC saya pendarahan, itu murni karena HB saya rendah dan kurang baik menjaga nutrisi pasca melahirkan. Luka operasi juga sembuh dalam waktu yang cukup singkat. Tapi ada satu hal yang membuat saya trauma,yaitu menyusui. Ya, saya gagal menyusui Yumna, Yumna hanya minum ASI perah, itupun hanya sampai 5 bulan. Ketidakmampuan saya menyusuinya berubah menjadi petaka bagi saya. Saya baby blues berkepanjangan, bahkan pernah terlintas ingin mati saat pendarahan itu terjadi. Selama lebih dari 3 bulan saya merasa minder. Saya ketakutan kalau kalau Yumna sakit karena tidak cukup ASI. Saya takut  Yumna tumbuh jauh dari Uminya, Dan seterusnya, Dan seterusnya. Hidup saya kelam. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi ibu bahagia agar saya mampu mendidik anak menjadi orang yang bahagia. Siapa lagi yang akan menjadi ibunya jika bukan saya? Siapa lagi yang akan lebih bahagia selain saya saat ia lahir? Saya memberanikan diri untuk menerima kenyataan dan bangkit. Akhirnya saya berhasil bangkit. Saya maafkan apa yang telah terjadi. Saya cintai diri saya dan anak saya, apapun adanya. Dengan segala kekurangannya.

Hingga suatu hari saya tau saya hamil lagi. Ya, saat itu ketakutan saya mengalami hal yang sama seperti kelahiran sebelumnya terngiang kembali. Dan buru buru saya menepisnya, menggantinya dengan doa agar dimudahkan dan dilancarkan dalam kehamilan ini. Entah mengapa saya percaya, jika saya bisa melahirkan per vaginam, maka saya tidak akan mengalami baby blues lagi dan saya akan berhasil menyusui.

Saya memutuskan untuk memotong mata rantai trauma saya dengan MEMBERDAYAKAN DIRI. Membekali diri saya yang tidak tau apa-apa tentang kehamilan, kelahiran dan menyusui dengan ilmu. Saya melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan impian saya, melahirkan pervaginam dan sukses menyusui,


Sembilan bulan berlalu, dan hari yang dinantikan tiba. Alhamdulillah impian saya melahirkan pervaginam terwujud. Saya pun sampai hari ini masih menyusui. Saya sangat bersyukur, Allah memberi kesempatan kepada saya merasakan nikmatnya menjadi ibu, Iya, ternyata ketika saya berusaha, saya bisa biidznillah. Saya merasa puas. Saya merasa bahagia, Saya bersemangat. Saya 'terisi'. Inilah emotional benefits yang saya dapatkan dari melahirkan pervaginam.


Dan di bulan "Cesarean Awareness"ini, saya, mengajak semua ibu, untuk berani memberdayakan diri, berani berjuang, berani mengedukasi diri dan keluarga, berani menjaga apa yang menjadi prinsip, berani mengolah apa yang perlu dan apa yang tidak perlu, berani kritis terhadap opini dokter, berani menyaring info yang tidak benar, berani memimpikan kelahiran yang membahagiakan, yang menyehatkan, yang menyemangati, yang membuktikan bahwa setiap ibu mempunyai kekuatan tersembunyi yang sangat besar, yang Allah anugerahkan untuk setiap Ibu. Bila kita memberdayakan diri saat hamil, insyaAllah risiko komplikasi pada saat melahirkan berkurang. Sehingga kesempatan kita untuk bisa melahirkan pervaginam pun meningkat.


Ibu, dulu kita pernah melahirkan dengan cesar, tapi itu bisa kita cegah untuk kelahiran selanjutnya Bu. Sekali dua kali bahkan tiga kali SC, bukan berarti seterusnya harus SC juga. Saya, secara pribadi, mengajak Ibu untuk berani bercita-cita melahirkan per vaginam dan menikmati rasanya.


Saya yakin, dengan kesadaran serta edukasi secara dini, ibu dan bayi dapat memilih opsi yang paling aman dan paling sehat untuk keduanya.


Sehat-sehat ya Ibu :) 




You Might Also Like

11 comments

  1. saya juga lagi nunggu lahiran, jadi deg degan.. yang pertama alhamdulillah normal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, semoga lancer, sehat semuanya ya Mak :)

      Hapus
  2. Mbak lilis, terima kasih sudah berbagi. Aku juga baru caesar di persalinan kemarin, sedih hiks tapi insya Allah itu yang terbaik. Smoga aku bisa VBAC juga di kesempatan berikutnya. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin Ya Rabb, semoga Allah mudahkan persalinan yang kamu impikan untuk selanjutnya ya :)

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. ya, secara alami memang baik untuk melahirkan normal, tapi ada kendala yang harus dilakukan agar ibu dan anak selamat, itu saja. justru yang terpentng bagaimana kita sebagai ibu harus kuat sehingga kelak anak bisa terurus dg baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, jadi ibu harus kuat, begitupun ketika harus memilih yang terbaik untuk ibu dan anak, kec jika darurat :)

      Hapus
  5. Hi.. My name is Lusi, currently I am doing a research about beauty blogger's influence in cosmetic buying intention in Indonesia for my thesis, it would be great if you can help me to fill in the questionnaire.


    https://docs.google.com/forms/d/1RsfM-dO9rATuCB1hqCuY4j5Ktl09MoIGZyEvaz5Rfb8/viewform?c=0&w=1&usp=mail_form_link

    Thank you in advance

    BalasHapus
  6. Saya merasa termotivasi mba.. Saat ini saya sedang hamil ke 2, 13w.. Anak pertama sy usia 2y5m.. Lahiran peratama sc. Sedang memimpikan VBAC pula.. Bolehkan kita sharing mba Lis? :)

    BalasHapus