Prolonged Labor : Theory vs Experience

  • 4/27/2017 03:02:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 0 Comments

Secara teori, rata-rata proses seorang Ibu melahirkan akan berlangsung selama 8-24 jam setelah kontraksi berlangsung intens. Namun demikian, Simon Mehigan, Consultant Midwife dari babycentre.co.uk, menyatakan bahwa ada beberapa hal yang mempengaruhi lamanya proses melahirkan seorang Ibu. 
  • Apakah Ibu pernah melahirkan sebelumnya dan berapa lama rentang waktunya dengan kelahiran saat ini
  • Apakah Ibu tetap bergerak dan aktif selama proses melahirkan
  • Seberapa mudah bukaan serviks Ibu (dilates)
  • Kekuatan kontraksi
  • Apakah Ibu diberi epidural dan apa jenis epiduralnya
  • Posisi bayi di dalam rahim Ibu
  • Tingkat ketenangan Ibu -semakin tenang Ibu, semakin mudah pembukaan terjadi
Tahap pertama proses melahirkan dibagi dalam dua fase utama, yaitu masa laten (eary labour) dan masa aktif (active labour). Nah, terkait dengan fokus yang akan kita bahas, saya termasuk Ibu yang mengalami masa laten cukup lama. Hampir 1 minggu!

Saya mengetahui bukaan pertama saya pada hari Senin, 2 Nopember 2015. Tiga hari setelahnya, Kamis, 5 Nopember 2015 masih bukaan 3, dan alhamdulillah bukaan lengkap pada hari Minggu, 8 Nopember 2015. Apakah kondisi seperti itu normal? Bagaimana para ahli kandungan memandangnya? Apakah saya termasuk Ibu yang mengalami prolonged labour?



Setiap proses kelahiran adalah unik!
Minimal itu yang saya percaya. Jadi, meskipun teori menyatakan proses kelahiran rata-rata berlangsung selama 8-24 jam, itu adalah angka rata-rata. Namun demikian, apa yang dialami setiap Ibu adalah unik dan berbeda sehingga patokan normal tidaknya bahkan aman tidaknya untuk dilanjutkan -menurut saya- tidak boleh hanya berdasarkan durasi. 

Penetapan rata-rata lamanya proses melahirkan tersebut memunculkan istilah prolonged labour, sebutan bagi proses kelahiran yang melewati masa laten lebih dari 20 jam atau masa aktif lebih dari 16 jam dari saat kontraksi intens dimulai. Beberapa literatur menyebut prolonged labour sebagai "failure to progress". Unch, mengerikan! Atau berlebihan?

Well, sejujurnya saya sangat patut bersyukur- karena saya baru tau tentang prolonged labour malah setelah melewatinya 😅 FYI, saya melahirkan anak pertama via C-Sectio dengan indikasi sungsang/breech pada tahun 2014 (Februari). Dan pada bulan Februari 2015 saya positif hamil anak kedua, terdorong oleh keinginan menolak untuk mengulangi depresi yang saya alami pasca kelahiran pertama (kapan-kapan akan saya ceritakan insyaAllah), saya berniat untuk melahirkan pervaginam (VBAC).

Baca juga strategi saya untuk mewujudkan impian VBAC Pijat Bekas Luka Pasca Caesar dan Road To Due Date Diet
Karena niatan VBAC pula, saya mempelajari beberapa cara untuk memastikan proses melahirkan saya berlangsung aman dan normal. Awalnya saya berniat untuk melahirkan di rumah (o yeah, with midwife ya) sehingga saya pun sudah berkonsultasi dan memilih bidan yang akan saya minta menemani proses melahirkan anak kedua saya. Pada hari Kamis, saat kontraksi saya sudah intens per 5 menit, bidan saya datang ke rumah. Jujur waktu itu saya berharap anak saya lahir malam itu juga. Apalagi saya sudah mengalami kontraksi intens (meski frekuensinya masih panjang-panjang) sejak hari Senin. Namun ternyata malam itu bahkan hingga Sabtu, kontraksi saya on off. Kadang-kadang intens, tetiba menghilang, kemudian muncul intens lagi, begitu berlangsung hingga akhinya pecah ketuban di hari Minggu. 

Jangan tanya Mom apakah saya panik atau tidak. Sejujurnya jawaban saya adalah kadang panik, tapi lebih banyak tidak panik. Saya kira salah satunya karena saya sudah berkomitmen dengan diri sendiri untuk berdamai  atas apapun yang akan saya alami dalam rangka melahirkan Ali (alhamdulillah cita-cita VBAC saya terwujud).

saya ikhlaskan bagaimanapun prosesnya akan berlangsung dan berusaha tetap tenang 

Saya ingat pada Senin sd Sabtu, saya menggunakan gymball untuk membantu saya tetap aktif selama proses melahirkan. Selain itu, Bidan juga melakukan pijatan yang berfungsi untuk membuat saya rileks, membantu saya melakukan leaning inversion plus rebozo. Untuk apa? Untuk membantu bukaan!

Ilustrasi rebozo yang dilakukan bidanku persis seperti ini 
Seperti kita bahas di awal, ada beberapa hal yang mempengaruhi lama-cepatnya proses melahirkan. Mulai dari histori melahirkan sebelumnya hingga posisi janin. Mulailah untuk mengecek poin-poin tersebut satu per satu saat proses melahirkan tidak berjalan semulus yang kita harapkan. Jika saya reka ulang, maka saya termasuk Ibu yang dapat dikatakan baru melahirkan pertama kali (meski waktu itu kehamilan anak yang kedua), belum pernah merasakan kontraksi sebelumnya apalagi mengalami bukaan, jadi, normal jika proses kelahiran anak saya membutuhkan waktu lebih lama. Meski sudah masuk panggul, kemungkinan besar kepala bayi saya agak mendongak sehingga treatment nya adalah dengan leaning inversion dan rebozo. Dengan kedua treatmen tersebut, diharapkan gerakan bayi saya semakin luas dan memudahkannya untuk mengubah posisi menjadi lebih mudah untuk dilahirkan. Berhasil? Entahlah, saya melakukannya hanya sekali, setelah itu memang lebih banyak saya sabar saja 💆 Namun sangat memungkinkan Ibu mencoba treatment tersebut loh (keduanya sering diajarkan di kelas-kelas yoga prenatal, siapa tau Bunda mau mempelajari lebih lanjut)! Apalagi jika ada indikasi bukaan melambat. 

Sampai kapan siy kita boleh menunggu dan menganggap lambatnya bukaan masih dalam batas wajar? Asal janin sejahtera dan Ibu sehat, the show must and still can go on. Caranya? Keep calm dan keep rehidrate!

Keajaiban Proses Bukaan ala Ina May Gaskin
Salah satu inspirasi saya terkait bukaan dalam proses lairan berasal dari Ina May Gaskin, praktisi gentle birth yang mendunia dengan pemikiran dan apa yang dilakukannya. Salah satu teori yang dipopulerkan oleh Ina May Gaskin disebut dengan Spinchter Law. 

Menurut teori ini, kelahiran berproses dengan cepat ketika Ibu dijaga privasinya dan diberi support dengan kata-kata yang mendukung (bukan menyuruh apalagi menuntut atau memarahi) sehingga tumbuh rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan teori ini, Ibu yang mengalami terlalu banyak intervensi berpotensi memiliki bukaan lama atau mandeg. 

Nah, jika merefer pada teori ini, maka sebaiknya Ibu melahirkan diberi kesempatan untuk menjaga ruang privasinya, perminim intervensi (termasuk VT terlalu sering), dan dijaga tetap berenergi dengan mengasup makanan berenergi (kurma, madu) selama proses lahiran berlangsung. 

Satu tips lagi dari pengalaman saya melewati prolonged labor adalah deep breathing. Deep breathing sangat membantu mengelola rasa sakit dan menjaga agar hati tetep kalem. Saya belajar deep breathing bersama komunitas prenatal yoga GBUS (biasanya diselenggarakan di UI setiap Minggu loh!) dan itu berguna sekali bahkan setelah anak saya 1,5 tahun. 

Dan, last for not least, siapkan pendamping persalinanmu! Siapapun yang Ibu pilih untuk menemani persalinan, pastikan ia teredukasi dengan tahapan persalinan termasuk kemungkinan prolonged labor. 

Jika Ibu tetap kalem dan terhidrasi, insyaAllah bayi aman meski bukaan berjalan lambat. Namun demikian, jika Ibu merasa khawatir, Ibu bisa ke bidan terdekat untuk dicek dengan doppler. Kapan perlu ke RS? Saat kontraksi Ibu sudah masuk 4 menit sekali dengan durasi minimal 1 menit banyak direkomendasikan oleh praktisi gentle birth untuk mengurangi risiko terlalu dini menuju provider/RS.. 

Kapan prolonged labour harus berakhir SC? Jika bayi ibu stres (dibuktikan dengan DJJ terlalu lemah atau terlalu tinggi). Namun, selalu ingat bahwa bayi sejahtera jika Ibu kalem dan mengasup oksigen dengan baik.  Melahirkan adalah tentang waktu dan posisi. Keep in positive vibe ya Bu!





 

Source  :
http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/labor-and-delivery/in-depth/stages-of-labor/art-20046545
https://www.babycentre.co.uk/x1037967/how-long-will-my-labour-last

Pict :

You Might Also Like

0 comments

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)