Momen Spesial : Melengketkan Anak dengan Orang Tua

  • 11/28/2017 02:39:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments


Alhamdulillah, Ahad kemarin saya dan keluarga berkesempatan hadir kembali ke majelis kesayangan kami. Salah satu majelis keayahan yang "paling mudah" kami akses karena lokasi di Masjid UI dan dilaksanakan pada saat weekend. Cukup kaget juga karena minggu kemarin masjid benar-benar dengan jamaah, kebanyakan masih berusia muda dengan anak-anak seusia Una dan Ali. Sebenernya sudah telat ya. Karena majelis dimulai jam 7 tapi kami baru saja tiba jam 8 T,T Akhirnya saya memilih duduk di selasar agar Una dan Ali masih bisa main. Maklum, seusia mereka belum paham duduk diam di majelis, daripada dipaksa nanti malah nangis kan? Terus jadi ga mau kalau diajak ngaji, lebih berabe lah dampaknya dibanding ngaji tapi membagi mata dan kuping :p Mata merhatiin kemana anak lari, kuping ndengerin ustadz :p 

Nah, bahasan kali ini tentang momen-momen spesial yang bisa melengketkan hubungan anak dan ortu. Hubungan yang lengket antara ortu dan anak itu ibarat EMAS! Harganya ga lekang oleh waktu. Jadi pas ketemu momen-momen yang bakal menambah erat hubungan kita dengan anak, jangan sampai terlewat >,< Apalagi buat mak emak cem saya ini, mak emak yang ngantor, yang pagi sudah caw dari rumah, menuju malam baru kembali, momen-momen yang datangnya jarang-jarang harus bener-bener saya manfaatin.

1# SAAT ANAK SAKIT 
Anak sakit adalah momen tepat untuk membuktikan bahwa kita selalu ada untuknya. Bahkan ketika sehari-hari kita kerja, pas anak sakit usahakan di rumah aja sama anak. Kalaupun ortu jauh sama anak, usahakan video call. Misalnya, ayah harus merantau sehingga 3 bulan sekali baru bisa ketemu, jarak bukan halangan karena sekarang teknologi udah bisa memfasilitasi. Berdasarkan penuturan Ustadz Bendri, pas sakit ini kita bisa mengajarkan ketauhidan. Ajak anak berdoa memohon pertolongan Allah agar diberi kesembuhan. Dengan doa bersama, anak paham ortu menggantungkan pertolongan hanya dari Allah, bahwa sakit itu takdir Allah, dan Allah-lah yang Maha Menyembuhkan. Beberapa momen pas saya sakit dan bapak ibu saya ada di samping meski harus jauh-jauh dari kampung, bener bener saya inget sampai sekarang.

2# SAAT ANAK UNJUK GIGI
Entah itu lomba, entah itu tampil di acara perpisahan sekolah, usahakan salah satu diantara ayah atau ibu hadir mendampingi. Event kalau anak kita "cuma" tampil 5 menit bahkan kurang, tetep komitmen untuk hadiri. Ustadz Bendri pernah banget udah sampai ke lokasi dimana beliau bakal jadi pembicara, tetiba istrinya nelpon, kalau besok pagi anaknya bakal tasmi' di acara TPA-nya. Apa yang beliau putuskan? Beliau mengatakan mohon maaf kepada Panitia pengundang dan mohon ijin mengganti dirinya dengan yang lain, jika panitia mennaggung kerugian karena ketidakhadiran beliau sebagai Pembicara, beliau bersedia mengganti kerugian mereka 100%. Its commitment! Jangan sampai anak merasa pekerjaan ayahnya -apalagi kalau cuma hobi ayahnya- lebih penting daripada dirinya. Whatever semua penonton kala itu berdiri dan bertepuk tangan kalau saat itu ortunya sendiri ga ada yang menonton penampilannya T,T Beberapa kali saya tampil, biasanya Bapak Ibu saya nonton. Kalaupun kepepet mereka sedang kerja, saya tetep merasa mereka ada karena seluruh keperluan saya untuk lomba atau tampil bener-bener diperhatikan oleh Ibu saya *huhuhu jadi inget Ibu Bahkan terakhir kali saya wisuda S1 saat sudah menikah dan tinggal tidak bersama orang tua pun beliau tetap hadir menemani, masyaAllah

3# SAAT AYAH PULANG DARI PERJALANAN JAUH
Rasululloh SAW mencontohkan bahwa sekembalinya beliau dari perjalanan jauh/ke luar kota yang memkaan waktu lama, maka beliau akan menumpahkan kerinduan kepada anak-anaknya dengan mengajak bermain dan tentu saja "membawa buah tangan" alias oleh oleh. Siapa siy yang ga suka dibawain oleh oleh? Saya siy suka banget. Sampai sekarang sudah emak emakpun suka banget sama oleh oleh, apalagi anak anak kan? Masih keinget bener dalam benak saya, waktu itu Bapak saya baru saja diangkat menjadi PNS sehingga beliau harus mengikuti diklat Prajabatan. Tidak seperti diklat biasa, diklat ini bersifat semi militer sehingga Bapak saya harus tinggal di barak dan tidak pulang ke rumah selama hampir 3 bulan. Sepulang dari diklat saya dapat oleh-oleh, remeh deh kalau dirupiahin, tapi saya bener-bener inget sampai hari ini, sebungkus Taro yang Bapak saya bawa setelah beliau  pergi diklat cukup lama. 

Itulah 3 momen yang sempat saya catat dari materi Ustadz Bendri Ahad kemarin, sepertinya lebih dari 3 poin ini, sayang sekali saya datang terlambat. InsyaAllah akan saya lengkapi jika saya menemukan materi beliau terkait momen spesial ini. Sebagai penutup, momen baik dan perilaku baik akan membentuk anak menjadi pribadi yang baik. Bagaimana sebaliknya, apakah momen buruk yang dialami anak akan membentuk anak menjadi pribadi yang buruk? Sangat mungkin, begitu jawab Ustadz. Namun beliau menyatakan bahwa belum terlambat untuk memperbaiki, meskipun mungkin membutuhkan waktu lama (tergantung banyaknya momen buruk yang dialami anak). Seperti disampaikan Rasululloh SAW.

“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dihasankan pula oleh asy-Syaikh al-Albani)

Yuk mulai dari sekarang bangun lagi momen momen spesial yang melengketkan kita dengan anak anak ~

You Might Also Like

4 comments

  1. Kalau momen spesialku kadang malah sebelum bobo malam itu mbak, bisa cerita2 sama anak ttg apa aja, mereka jg gtu, trus pelukan sampai ketiduran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama jugaa, itu bonding yang paling gampang ya?

      Pulang kerja pasti anak anak nunggu momen kruntelan >,<

      Hapus