Gagap Parenting

12/22/2017 10:59:00 AM



Setelah kemarin nulis tentang Mama dan Literasi, saya berpikir keras gimana caranya kita as mama bener-bener mampu mengemban amanah (aciyee bahasanya) dan menyelesaikan misi mengantarkan anak-anak kita kelak survive dan berguna di masanya. Saya yang lahir tahun 90an (sebenernya 80an lebih sik) saja merasakan perbedaan kondisi luar biasa antara masa saya tumbuh dibandingkan dengan masa sekarang saat sudah berkeluarga. 

Saat saya kecil dulu, mana ada fasilitas IT seperti sekarang ini. Untuk menelepon saja perlu usaha luar biasa, berkendara jauh sampai kota untuk menemukan wartel. Sedangkan di masa kini, para bayi sudah punya gawainya sendiri.  Dulu, guru saya mengajari a b c, ini ibu budi di kelas saat saya masih duduk di kelas 1 SD. Sekarang, anak TK sudah dituntut bisa baca tulis. Pekerjaan yang saya tau duluuu- ya hanya berkutat di profesi guru, dokter, polisi. Sedangkan sekarang, berbagai jenis profesi baru bermunculan dengan segala keunikan dan opportunity yang tidak kalah dengan profesi biasa orang kenal. Everything change

Untuk membersamai anak-anak tumbuh, mana mungkin kita ga bertumbuh kan? Makanya saya sering banget gedabrukan ya Allah, ikut grup ini grup itu, baca buku ini buku itu, follow praktisi parenting. Saya kadang merasa gagap parenting ☕ tapi more than that, bukankah saya tetap harus rasional dan waras?

Menemui anak-anak kok giginya ga pada bagus, sedih ~
Lihat anak anak lain sudah dapat banyak stimulasi sedangkan anak saya masih terbatas, galau~
Tetep kerja padahal ibu lain pada milih resin, galau lagi >,<
Ga selesai selesai.
Gimana siy biar anak ga sibling rivalry
Gimana niy anak lagi GTM
Kok dia belom bisa baca ya
Ini kenapa anak ga bisa dibilangin siy
Itu temen anaknya udah hafal juz 30, anak gue Al Fatihah baru mulai
Oh yang bener itu sapih ya 2 tahun
Montessory apa konven
Buku apa yang bener buat gua baca ke anak anak
Itu ART perlu diajak ke seminar parenting ga siy
Ga kelar kelar kalau didaftar semuanya

Di tengah kekhawatiran apakah saya mampu menjadi ortu yang baik, yang mampu mengantarkan anak anak saya sukses, akhirnya saya tersadar bahwa jalan mereka sudah ada yang mengatur. Dan Dia-lah sebaik baik pengatur. Bukan saya, bukan suami saya, bukan juga guru anak-anak saya. Jika Allah menakdirkan mereka menjadi anak-anak saya, maka saya harus optimis bahwa sayalah orang tua yang paling tepat untuk mereka. Tepat dalam arti Allah tidak akan salah pilih. Saya dan anak anak adalah dua komponen yang saling melengkapi. Untuk bisa menerjemahkan mind set ini dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak semudah itu. Karena itu berarti saya harus terus menyesuaikan diri dengan anak-anak, menerima tidak hanya kelebihannya, tetapi segala kekurangannya.

Belajar sepanjang masa untuk menjadi orang tua yang terbaik menurut tuntunan agama tentu penting, namun juga janganlah menghilangkan optimisme dan harapan, karena keseluruhan kehendak manusia barulah menjadi nyata ketika Allah mengijinkan. Mengasuh anak sejatinya tidak pernah lepas dari kemudahan kemudahan yang Allah berikan. 

You Might Also Like

0 comments