Akhirnya Nutup Asuransi (Juga)

3/29/2018 05:01:00 AM

Kalau ngomongin asuransi pasti banyak pro and kontra, pasti. Apalagi isu asuransi itu riba sekarang juga banyak di-counter oleh para ulama yang ahli ekonomi syariah, bahwa asuransi berbasis syariah itu ada dan boleh digunakan. Dr. Oni Syahroni (Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia) menjawab sebuah pertanyaan di rubrik Konsultasi Syariah di Koran Republika, 26 Maret lalu, di mana beliau mensyaratkan dua hal agar asuransi syariah benar-benar menunjukkan konsep sesuai syariah.   

Pertama, transaksi yang dilakukan dengan metode tabarru' atau hibah atau tanahud. Dengan akad ini,maka nasabah menyatakan setuju bahwa setiap premi atau kontribusi yang dibayarkan peserta asuransi bukan lagi jual beli/transfer of risk melainkan hibah pada peserta kolektif. Pada mekanisme ini, maka disepakati bahwa premi yang dibayarkan peserta asuransi syariah adalah milik peserta secara kolektif. Jadi, kalau kita tidak sakit dan tidak klaim, kita menganggap bahwa kita merelakan premi yang sudah masuk ke asuransi syariah kita untuk membantu orang lain. Nah, akad ini ditetapkan agar tidak ada pemegang premi yang merasa rugi. 

Syarat kedua, penempatan premi harus di instrumen yang sesuai syariah. Di antaranya ditempatkan di deposito bank syariah atau instrumen sukuk yang sudah sesuai syariah. Fatwa Dewan Syariah Nasional terkait hal ini dapat dibaca detailnya pada Fatwa DSN MUI Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito dan Fatwa DSN MUI Nomor 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah. 

Berdasarkan fatwa DSN, sebenarnya ada dalil yang memungkinkan seseorang untuk mengambil premi di asuransi syariah asalkan ia telah memastikan bahwa asuransi tersebut benar-benar menggunakan konsep syariah, tidak hanya namanya saja yang syariah. Namun detil yang ditawarkan pun demikian. 

Nah, saya belum membaca lebih banyak niy terkait asuransi yang tidak murni asuransi kesehatan. Seperti Prudential yang akhirnya saya tutup. Asuransi nya itu gabung sama investasi (unit link). Nah, memang kan mekanisme unit link itu bagi hasilnya belum ada di 5 tahun pertama, benar-benar full untuk iuran asuransi kesehatannya (kalaupun ada, premi investasi-nya kecil). Jadi kalau dari segi kesehatan, ya memang kita akadnya tabarru, direlakan untuk dipakai orang lain yang membutuhkan kalau kita sendiri tidak menggunakan. 

Sekarang logikanya siapa siy yang mau sakit? Kadang, kadang niy ya, dengan adanya asuransi kayak gini saya terbersit pikiran, gakpapa deh kalau sakit mah, kan ada asuransi. Nah loh! Kok jadi kayak menggantungkan sesuatu bukan pada zat yang seharusnya kita boleh bergantung. Sebagai seorang Muslim, saya wajib mengimani bahwa ada sumber sebab dan ada media sebab. Dokter itu membantu Allah menjadi media sebab sembuhnya seseorang. Jangan sampai kita salah mengartikan dan memahami bahwa dokter atau obat sebagai sebab sembuhnya penyakit yang kita alami. Sakit datangnya dari Allah, memohon pertolongannya kepada Allah. Ke dokter adalah ikhtiar untuk memperoleh kesembuhan dari Allah. Allah bisa kabulkan sembuh melalui dokter tersebut, bisa tidak. Jika kita akhirnya sembuh, kita boleh berterima kasih kepada dokter tersebut tetapi tetap yakin bahwa hal terebut terjadi dengan seijin Allah. 

Back to topic, karena asuransi itu sifatnya proteksi, maka sebenarnya ada berbagai cara lain yang juga sifatnya sama dengan asuransi. Khususnya asuransi kesehatan. Allah pun telah mengajarkan kita untuk menjadi Muslim yang kuat bukan? Muslim yang menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada yang menitipkan anggota tubuh ini. Makan yang berizi seimbang, cukup istirahat, no stress dan olah raga. More than that, jaga segala hal yang masuk ke dalam tubuh kita dari zat-zat yang diharamkan, baik sumber mendapatkannya maupun zatnya. 

Keputusan saya menutup asuransi syariah unit link ini setelah saya pikirkan matang-matang dengan beberapa pertimbangan. Namun yang paling besar dorongannya adalah ketenangan hati. Saya fakir ilmu, saya belum memiliki basic dasar pengambilan keputusan mengambil asuransi ini, karena dulu saat mengambilnya pun ilmu saya masih cekak. Sehingga saya masih merasa ada yang mengganjal di dalam hati saya. Asuransi yang saya ambil khusus 40 penyakit kritis, kalau dipikir-pikir mau bagaimanapun saya ga pernah terpikir untuk sakit kritis. Tapi jika Allah sudah berkehendak, kan memang tidak ada satupun dari kita yang bakal bisa menolak ya? 

Jadi penutupan ini lebih ke ketenangan saya siy, saya pengen mengembalikan 100% ketergantungan saya hanya kepada Allah. Merasa ayem bukan kerena punya asuransi, merasa ayem karena saya yakin jaminan Allah itu nyata dan lebih pasti.
  

  

You Might Also Like

0 comments