Bijak Berkomunitas

3/25/2018 10:35:00 PM

Dengan menjamurnya berbagai komunitas jaman now, penting sekali bagi kita untuk mengetahui bagaimana supaya kita mampu berkomunitas dengan sebaik-baik attitude,seterusnya saya menyebutnya bijak berkomunitas. Bagi saya hal ini menarik sekali mengingat saat ini sayapun tergabung dalam beberapa komunitas yang sesuai dengan bakat, minat dan panggilan hidup saya. Dari berbagai komunitas yang saya ikuti itu, ada sebagian yang luar biasa ketat code of conduct (CoC) -nya, namun ada pula yang hampir sama sekali tidak memiliki CoC yang menjadi kesepakatan bersama.



Berkomunitas digadang-gadang menjadi salah satu sarana sukses yang wajib dilalui jika seseorang sedang memulai karir-nya (di bidang apapun -terutama untuk entrepreneurship), tidak hanya itu berkomunitas juga bisa menjadi sarana belajar yang bisa dibilang tidak berbayar untuk berbagai cabang ilmu-seperti komunitas AIMI, GESAMUN, VBAC Tanya Saya, Indonesia Menggendong, etc. Jika seseorang yang ingin memiliki kesukaan menulis, maka biasanya ia akan bergabung dengan komunitas menulis. Jika seseorang yang menyukai kegiatan sosial, maka ia akan bergabung pada komunitas yang mewadahi kegiatan-kegiatan sosial, begitu seterusnya. Ada komunitas yang dibangun oleh perseorangan (misalnya -yang saya tahu- Komunitas Emak Blogger, yang didirikan oleh Mak Mira Sahid, Ibu Profesional oleh Ibu Septi Peni Wulandani), duo (misalnya Solidaritas Peduli Jilbab  yang didirikan oleh Amalia Dian dan Angel -tadinya merupakan teman satu kamar kos) atau bahkan kelompok (misalnya, mak emak sesama pedagang onlineshop :p)

Berkomunitas artinya kita berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi misi sama. Namun demikian, saya rasa, visi misi sama tidak cukup apabila tidak dibatasi dengan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam suatu komunitas, yang biasa kita sebut dengan, CoC. CoC ini menjadi ukuran yang memastikan bahwa setiap orang yang berada dalam komunitas menggunakan aturan tersebut dalam bertindak di bawah payung komunitas. Salah satu ancaman terberat jika seseorang melanggar CoC ini tentu saja harus keluar dari komunitas. 

Ketaatan kita pada CoC sebuah komunitas yang kita ikuti adalah bukti bahwa kita telah mampu bijak berkomunitas. Karena setiap kata dan tindak tanduk yang kita lakukan atas nama komunitas akan sangat berdampak pada nama baik komunitas, citra komunitas dan image komunitas. Sebagai sebuah komunitas yang bertujuan untuk mewadahi anak anak tidak mampu, jelas jika komunitas tersebut tidak membolehkan anggotanya untuk memberikan bantuan pada orang tanpa diseleksi dulu latar belakang finansialnya, bahkan meskipun orang tersebut merupakan orang dekat (bahkan orang dalam komunitas). Jika ada salah satu anggota komunitas yang melanggar CoC tersebut, saya yakin citra komunitas menjadi rusak dan kepercayaan pihak luar terhadap komunitas menjadi turun. 

Itulah mengapa sebelum masuk dan mendaftar menjadi anggota sebuah komunitas, pastikan kita telah meahami lebih dulu ruh komunitas itu, bagaimana komunitas itu dijalankan dan apa yang boleh serta tidak boleh dilakukan selama masih menjadi anggota komunitas. Tanpa adanya sikap bijak berkomunitas maka tidak mungkin kita akan diterima dalam komunitas tersebut. Taat terhadap CoC adalah harga mati.

Selain taat pada CoC, ciri bijak berkomunitas yang kedua yaitu bersosialisasi dengan seluruh anggota komunitas. Mana mungkin kita masuk ke dalam komunitas namun bersikap individualis. Jejaing apa yang bisa kita bangun tanpa menyambung jaringan tersebut dengan jaringan orang lain ? Maka berjejaringlah dengan seluruh anggota komunitas bahkan meluas ke komunitas lain yang sejenis. 

Setelah membangun jaringan, dalam bijak berkomunitas juga perlu keseimbangan antara menerima dan memberi (take and give principt). Jangan hanya mau enaknya saja kalau bahasa gampangnya. Setelah secara sukarela kita masuk pada sebuah komunitas, maka penting sekali untuk BERKONTRIBUSI NYATA. Tanpa sebuah kontribusi nyata, maka kita lagi-lagi belum bisa dibilang mampu bijak berkomunitas. Banyak menerima namun tidak mau memberi adalah ciri-ciri free rider yang harus segera hilang dari kebiasaan kita dalam berkomunitas. Saat ada orang lain bagi bagi ilmu gratis kita buru-buru datang, namun saat komunitas membutuhkan tenaga untuk keberlangsungan kegiatan tetiba saja menutupi batang hidung dengan berbagai alasan, A BIG NO NO! Percayalah sikap seperti ini tidak akan mengantarkan kita mendapatkan kebermanfaatan tertinggi dari berkomunitas. Hanya dengan totalitas berkomunitaslah maka kita akan merasakan manfaat dari komunitas yang kita ikuti. 

Dengan semakin menjamurnya komunitas online kini, penting juga kiranya bijak berkomunitas diiringi dengan pemahaman berselancar di dunia maya yang etis. Kemampuan menulis pesan yang minim singkatan, tetap menggunakan EYD (hyoo siapa yang masih suka bersingkat-singkat ria apalagi menulis dengan tulisan alay? Stop it, dan mulailah belajar untuk menulis pesan dengan EYD yang baik) yang baik, meminimalisir tanda baca tidak perlu (seperti ini : kenapa ya????) , menjaga supaya apa yang diposting tidak menyangkut pornografi dan SARA, serta menomorsatukan prasangka baik di atas prasangka buruk adalah kunci kesuksesan lain agar mampu bijak berkomunitas, khususnya komunitas berbasis online. 

Komunitas adalah tempat yang bisa menempa kita menjadi emas, maka tempalah emas itu dengan sebaik baik cara agar emas yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik pula. Mari mulai bijak berkomunitas :)





You Might Also Like

0 comments