Endurance

3/27/2018 04:58:00 AM

Menyelesaikan apa yang sudah dimulai hingga titik finish, serta mampu melalui up and down-nya mood, motivasi, semangat, mampu menemukan solusi atas permasalahan serta bersabar melewati prosesnya, stay focus sampai tamat. Itu adalah pemahaman bebas saya tentang endurance. Kenapa tiba-tiba ngomongin endurance sik? 

Karena saya sedang perlu pengingat diri di kala lelah.



Yeah, siapa dong disini yang ga pernah merasa lelah? Saya kok merasa yakin, meskipun semangatnya ON terus, lelah itu tetep ada. Nah, bedanya, orang yang endurance yang baik bakal mampu mengatasi lelah itu dan melanjutkan perjalanan. Nanti pas udah jalan beberapa kilo ketemu lagi tuh sama si lelah, istirahat lagi dan lanjut jalan lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya sampai ke puncak. Sebaliknya, orang yang endurance-nya rendah, boro-boro melanjutkan perjalanan, baru lelah sedikit saja sudah mengeluh, ini ga salah niy gunungnya setinggi ini (yeaah salahin deh gunungnya :p), terus ngeluh lagi  harusnya gue ga mengambil keputusan ini (menyesal yang sangat mungkin sudah tak ada guna), atau yang paling parah udah ya, gue ga sanggup. 

Loh emang ga boleh ya mengeluh? 

Bagi saya, mengeluh itu kayak api yang menggerogoti sekam. Ga keliatan besar tapi lama lama sekamnya habis. Begitu juga dengan mengeluh,bukannya ketemu solusi malah malah habis energi untuk menemukan solusi. So, saya punya beberapa cara supaya ga kebablasan mengeluh niy, na'udzubillah deh jangan sampai ((punya kebiasaan)) mengeluh. 

Pertama, syukuri setiap pencapaian yang sudah kita lalui. Sependek atau sekecil apapun itu, syukur alhamdulillah. Kalau syukur itu yang dipuji Allah ya, bukan diri sendiri :p I mean, sometime kita itu misleading  antara syukur sama berpuas diri ((dengan terburu-buru)). Misal gini, kita punya tujuan untuk bikin blog yang biasanya kita nulis tanpa tujuan, sekarang jadi nulis bertujuan. Nah, kita bikin tuh strateginya kan, ikutan komunitas blogger, latihan bikin review produk, belajar motret, konsisten nulis sesuai niche blog, dan banyak lagi stepnya sampai akhirnya blog kita cukup oke reputasinya di kalangan penikmat blog. Pasti dong untuk melalui semua step itu ga selamanya mulus. Biasanya yang susah itu komitmen buat selalu update blog. Baru aja penuhin target 1 blogpost/minggu udah hebring sendiri. Tapi habis itu buat ngadein kegalauan akhirnya bikin statement alhamdulillah udah konsisten posting, dulu kan boro-boro. Eh habis itu malah terlena. Niatnya siy pengen pageviews-nya jadi sejuta per hari, ga mungkin dong ya kalau posting-nya hanya 1 blogpost per minggu? Hihi, jangan ketuker ya, buru buru puas sama syukur atas pencapaian kecil.

Kedua, selalu fokus pada solusi. Kebiasaan mengeluh itu sebenernya semacam kamuflase ga siy menurut kalian? Kita tuh ga mampu mengelola permasalahan yang kita hadapi, jadinya keluarnya mengeluh. Mengeluh kan cenderung menyalahkan ya? Kok gini siy, kok gitu siy. Dan biasanya ada kambing hitamnya :p Contohnya lanjut yang tadi ya. Pas minggu ke empat tetiba males nge-blog muncul karena pageviews ga nambah signifikan plus kok kayanya ga ada komen yah di blogpost-nya. Mulai lah keluhan kok susah ya mau jadi blogger ternama(heyy, hati-hati niy disini ada percikan mental blocking). Apalagi ditambah keluhan lain keknya aku ga bisa deh jadi blogger (ini namanya limiting belief). Padahal kalau fokus sama solusi kira kira bakal ada secercah cahaya ga?Ada. 

Belajar fokus pada solusi merupakan salah satu hal yang bakal meningkatkan endurance kita dalam hal apapun. Kalau permasalahannya pageviews, paling gampang kan kita tinggal promote ya ga siy?Ke temen-temen kita, ke sosmed yang kita udah miliki, bahkan kartu nama juga bisa :p Atau bikin giveaway deh buat softlaunching blog kita. Fokus sama solusi bikin logika berpikir jadi clear. Ga kebawa emosi.



Terakhir supaya ga mengeluh, milikilah alasan kuat mengapa kita melakukannya. Kalau kita ga punya alasan kuat untuk melakukan suatu hal, maka kita akan mudah mengeluh dan mudah menyerah. Itu artinya, dengan level motivasi rendah, maka dapat dipastikan rendah pula level endurance kita. Ada banyak alasan untuk memulai suatu pencapaian, namun demikian, pastikan alasan itu adalah alasan kuat. Alasan kuat itu kalau saya cirinya adalah (1) diridhoi Allah. Kalau Allah saya ga ridho, saya ga akan memulai sebuah pencapaian itu, walaupun orang lain terlihat sangat bahagia mencapainya. 

Kedua, alasan itu (2)harus diridhoi pasangan saya (suami). Karena bagi seorang istri, ridho suami itu segalanya (setelah ridho Allah). Sebagus apapun sebuah pencapaian seorang istri, jika itu tidak diridhoi suami, no, it will not make you happy,honey. Entah kenapa kalau suami ridho semua mua jadi lebih lancar, betul gak?

Dan yang terakhir, alasan kuat itu harus (3) berupa panggilan hati. Artinya apa si Mak? Artinya, sebelum memulai sebuah perjalanan panjang menyelesaikan sebuah misi, pastikan memang misi itu adalah hasrat kuat yang ada dalam diri, yang selalu memanggil untuk dipenuhi dalam kondisi apapun kita dan dimanapun kita. Biasanya panggilan hati itu tidak akan pernah lekang, sayangnya tidak semua orang paham yang mana panggilan hatinya. Karena tidak difasilitasi siy biasanya. Atau sudah terbangun mental block bahkan sebelum memulai sehingga ga terasah. 

Panggilan hati biasanya ada hubungannya sama passion Mak. Love what you do, and do what you love itu bakal bener banget kalau what memang sesuatu yang selaras dengan passion. Saya suka mengecek apakah suatu hal itu passion saya atau bukan dengan 4 E, easy, enjoy, excellent dan earn. Saya merasa mudah dalam melakukannya, saya tidak bosan dan malah menikmati, hasilnya istimewa (di atas rata-rata) dan kalau bisa saya juga menghasilkan uang dari situ. 

Kalau sekarang siy sejujurnya pekerjaan saya bukan 100% passion saya ya (bukan mengeluh, ini fakta, hihihi), passion  saya persis seperti tulisan kali ini, tentang pengembangan diri, tentang motivasi, tentang spread positive vibe lewat tulisan maupun lecture. Nah, sebenernya blogging ini niy yang bikin daily life  saya ga garing amat jadi PNS. Ada pencapaian yang sesuai panggilan hati. Ada secercah harapa kelak bakal menyelesaikan tantangan mencapai 10.000 jam terbang saya dalam menulis, sehingga kelak apa yang saya mudah melakukannya kini serta saya nikmati prosesnya, akan menjadikan hasilnya lebih excellent dan menghasilkan. Kalau kata guru saya, Bu Septi Peni, be professional, rejeki will follow. 

So, siap untuk keep up your endurance?


You Might Also Like

0 comments