Strategi Mengatasi Waktu Nge-Date Minimalis

3/24/2018 10:08:00 PM

Heyhoo!
Tahun ini aku memasuki masa 6 tahun pernikahan. Kita punya anak pertama di tahun ke-2 pernikahan dan anak ke-2 lahir di tahun 3 (yep, kalau dilihat tahunnya si Kakak sama Adek cuma kepaut setahun, tapi kalau diliat bulannya si kepaut 21 bulan kok >,<). Jadi semenjak tahun 2013 s.d. 2017 ini apakah aku pernah nge-date khusus sama suami? Emm, GAK PERNAH! Seinget saya ga pernah beneran niat untuk nge-date.

Jadi semenjak saya lairan dan punya dua anak, kita kalau memilih untuk keluar rumah memang bener-bener untuk nyenengin anak. Selalu cari tempat yang children friendly pokoknya mah. Momong anak adalah alasan pertama. Kalau ternyata kita (as a couple) juga enjoy, ya berarti BONUS. 




Menghadai kondisi kayak gini menurut saya memang ga mudah, namun demikian bukan berarti tidak ada solusinya sama sekali. Solusi tu bakal ketemu kalau kita sama-sama cari dan sesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang ya kan?

Nah kalau dipikirpikir, sebagai keluarga yang suami istri kerja luar rumah, saya dan mas suami memang sering ketemu waktu bareng itu ya pas pergi atau pulang kerja bareng ((langsung nyanyiin soundtrack Dilan : aku selalu suka denganmu, di atas motor berdua :p)). Kita usahain untuk talk about our daily live disini. Biar ga ketinggalan satu sama lain, kapan si Mas Suami ngajar pas weekend, anak-anak lagi ada perkembangan apa, kerjaan saya lagi sibuk apaan, lumayan banget deh bisa bahas-bahas kayak gini selama 30 menitan di pagi hari, dan bahkan sekitar 60 menitan kalau pas pulang.

So, solusi pertama dari saya untuk yang ga punya waktu nge-date khusus, carilah momen yang aktivitas kita dan si dia bisa bersama dalam satu waktu. Mungkin ada yang ketemunya pas pagi hari sambil si dia siap-siap berangkat dan kitanya lagi masak, coba deh kasih jeda sedikit untuk ngobrol bareng di meja makan sambil si dia sarapan. Atau yang waktu barengnya pas sore hari karena anak-anak kalau pagi kudu dibantu siapin sekolahnya, juga bisa loh sambil nemenin anak anak main/baca buku.

Strategi kedua saya adalah pillow talk. Yaitu ngobrol santai sebelum bobok. Penting banget sodara-sodara, kondisi kayak gini kan biasanya sama-sama rileks ya? Jadi harapannya komunikasinya efektif, ga mubazir atau misleading ((eaa)). Asal jangan tetiba salah satunya bobok duluan, rrr. Selanjutnya terserah Anda deh kalau udah begini :p

Nah, nge-date sendiri itu kan kalau menurut saya hanya beda di tempat ya? Maksudnya, kalau ita sama suami ngobrol santai di motorsambil berangkat kerja bagi sebagian orang dimaknai sebagai itu mah bukan ngedate kali. Padahal sangat mungkin loh tetep ada hasilnya dari komunikasi sederhana di waktu yang sempit dan dalam kondisi macet. Yang penting keduanya- si komunikan dan komunikator- memang menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya, Jadi, meurut saya, untuk bisa berkomunikasi dengan baik kepada pasangan  kita ga perlu nunggu nge-date. Kuncinya tadi, ada yang dikomunikasikan, serta komunikator dan komunikan mampu menjalankan perannya dengan baik. 

Sekarang bagaimana caranya supaya ngobrol di rumah rasa nge-date? Make your own signature dish! Dan dandan yang cantik :p Udah dua itu aja insyaAllah aman deh proposal belanja kita *eh

So, jangan pernah khawatir ya ga pernah nge-date lagi setelah anak banyaakk,gakpapa Mak, itu bukan akhir dari segalanya, Yang penting kita usahakan komunikasi kita efekti sama pasangan. Jangan kalau ngobrol isinya pasti keluhan, tuntutan apalagi amarah. Talk to him everything that made you happy. Karena emosi itu MENULAR. Termasuk emosi bahagia. Sebaliknya juga keluhan dan amaah itu menular. Mungkin di awal awal pernikahan pasangan kita menerima saja segala amarah dan keluhan, bahkan sesegera itu ia memenuhi apa yang tuntut/keluhkan. Tapi apa iya kita selamanya bakal jadi istri yang seperti itu Mak? Suami pasti juga bakal bosen (bahkan menolak) kalau kita ajakin ngobrol (even judulnya nge-date) kalau ujung-ujungnya ga happy.

Kita bisa belajar dari salah satu Shohabiyah kita yang mulia, contoh nyata istri sholihah, Ummu Summayah namanya. Suaminya sedang pergi saat qodarulloh anaknya yang saat itu masih kecil Allah panggil ke sisi-Nya. Ummu Summayah yang sungguh bijak pemikirannya, tidak seperti wanita kebanyakan, ia tidak langsung menyampaikan berita sedih (bahkan mengguncang) kepada sang suami. Bahkan di saat suaminya pulang ke rumah, Ummu Sumayyah menjamu suaminya dengan sangat baik. Setelah suaminya nyaman dan merasa tentram, barulah ia menyampaikan berita menyedihkan itu dengan kalimat yang sangat cerdas.

"Bagaimana menurutmu wahai suamiku? Jika engkau dititipi sesuatu oleh orang lain dan yang menitipkan itu mengambil kembali apa yang ia titipkan kepadamu?", begitu tanyanya pada sang suami. Maka sang suamipun dengan sangat tenang menjawab, "Tentu saja akan aku kembalikan". Klik! Poin utama komunikasi telah sampai kepada komunikan. Ummu Sumayyah pun menyampaikan ini pesannya dengan sangat mudah, "Anakmu telah kembali kepada Allah kemarin". Laa hawla wala kuwaata illa billah. Kisah yang amat sarat pesan -menurut saya- untuk seluruh pasangan suami-istri, tentang pentingnya mengkondisikan pasangan sebelum mengkomunikasikan apapun kepadanya.

Sesekali ngedate tentu boleh, namun jangan jadikan frekuensi nge-date bersama suami sebagai tolak ukur kualitas komunikasi dengan pasangan. Ada banyak cara lain yang sangat kita bisa fungsikan sebagai momen komunikasi yang baik dengan pasangan. Dan saya yakin, Emak semua tau caranya 😎






You Might Also Like

6 comments

  1. Aku juga nih setelah punya anak jarang banget ngedate berdua aja sama suami. Biasanya bawa anak melulu. Heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, mari kita menikmatinyaaa Mak, kelak kita bakal kangen gembol gembol tas segedhe gaban (bukannya pouch yang cantik :p) saat makan di resto kesayangan :)

      Hapus
  2. Cerita ttg ummu sumayah nya bikin sedih. Ntahlah apa aku bisa seperti itu tenangnya kalo menyampaikan berita buruk

    Aku ama suami sbnrnya kerja di perusahaan yg sama, cuma beda cabang dan departmen. Tp kita pergi dan pulang kantor sendiri2 krn memang arahnya bertolak belakang mba. Jd kita komitmen dari awal, ttp akan selalu nge date walo anak2 lahir. Setahun sekali kita pasti ada liburan berdua dan anak2 dititip ama babysitter. Buatku sih penting bgt bisa liburan berdua seminggu-dua minggu tanpa diganggu anak :) . Bersyukur suami jg setuju..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Ummu Sumayyah memang {{kelasnya}} para sohabiyah Mak, yang ingin saya sampakan bahwa ternyata begitu loh cara para istri sekelas shabiyah mengajarkan kita tentang metode komunikasi dengan pasangan. Soalnya ga yakin juga pasangan bakal setenang suaminya Ummu Sumayyah ya Mak? :p

      Semoga bisa segera berhoneymoon (lagi) ya sama mas suami tercintahh ~

      Hapus
  3. Aku dan suami suka pillow talk. Emang efektif bgt menjaga komunikasi dan keharmonisan di saat gak ada waktu buat ngedate berduaan karena udah punya bocah. Hihihi. Nice sharing mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa,kalau lama ga pillow talk itu rasanya kayak ada yang kurang ((halah))

      Hapus