Your Manner, Your Beauty

3/30/2018 11:06:00 PM


Suatu waktu, saya sedang di kereta, tetiba ada suara keras seseembak, sepertinya sedang berbicara dengan driver sebuah ojek online, pesan makanan. Normal saja siy pesan makanan via aplikasi online yang sekarang sudah populer. Namun ada satu hal yang mengganjal hati saya, yaitu cara seseembak berbicara dengan sang driver. 

"Pokoknya Bapak harus anter, macet gakpapa, nanti saya kasih 10.000 deh"
"Bapak ga baca ya di aplikasinya? Itu UNJ yang arah Halimun Pak"

OMG. Aku cuma bisa mbatin dalam hati. Apa ga bisa ya lebih sopan sedikit aja ~ Memang siy Lis ga bisa mendengarkan langsung intonasi sang driver -siapa tau jutek juga kan?- tapi tetep ga perlu merendahkan si Bapak dengan iming-iming tip bahkan mengatakan ga paham dengan lokasi pengantaran. Apalagi kalau kondisi macet, sangat wajar jika si Bapak tidak berkenan mengantar dan mengkonfirmasi apakah yang dimaksud adalah tujuan yang jalan menuju kesananya itu macet. Jika iya, kemungkinan beliau mau menolak pesanan. 

Pernah juga -masih di kereta- ada seseembak sewot karena mau lewat ke arah pintu keluar tapi penumpang di belakangnya tidak merespon. Nah saat itu kondisinya si embak yang mau keluar main tabrak saja sehingga mbak yang di belakangnya mengatakan "kalau mau keluar bilang dong" dan dijawab dengan ketus "Lho aja yang ga denger". Lalala ~ aku pun ternganga dalam hati. Mungkin mbaknya sedang banyak pikiran, sehingga ga bisa menanggapi dengan sikap yang lebih lembut. Misalnya, "Oh iya, maaf ya" atau mengulangi sekali lagi berbicara sehingga mbak yang di belakangnya memberi jalan dan bersiap ada yang mau lewat.

Btw, kenapa siy semua scene-nya di kereta? Iya, soalnya saya paling sering ketemu aneka mbak-mbak itu di gerbong wanita, pas berangkat dan pulang kantor. Jadi mohon maklum banyak ketemunya pas lagi di kereta. 

Tapi bisa dibilang -menurut saya- sikap orang di kereta itu cukup bisa menggambarkan diri seseorang cukup dekat dengan aslinya. Pertama, biasanya mereka dalam kondisi yang sudah tidak fit (jika sore atau malam hari) atau buru-buru (utamanya jika pagi hari). Kedua, kemungkinan bertemu kembali dengan penumpang yang sama sangat kecil, kalaupun ketemu lagi, toh tidak kenal, jadi kalau bersikap "tidak sebagaimana seharusnya" hampir dapat dikatakan tidak akan berdampak apa-apa pada kehidupannya.

Sayang sekali jika pada hal-hal yang kecil saja kita tidak bisa menjaga adab/manner/behaviour kita bukan? Baru baru ini viral video perbandingan kondisi toilet di Amerika dengan kondisi toilet di Jepang. Mulai dari perbedaan baunya, kebersihannya, teknologinya, namun yang paling membuat saya berpikir adalah perbedaan reaksi masyarakatnya terhadap fasilitas umum. Menyebut sebuah fasilitas sebagai fasilitas umum artinya menyatakan bahwa fasilitas tesebut kepemilikannya adalah bersama. Miliki bersama artinya setiap orang yang menggunakan harus memahami betul apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Jika ada 1 saja pengguna fasilitas umum yang melanggar, maka pengguna fasilitas umum lain dapat menyampaikan keberatannya.

Namun, hidup di masyarakat yang kadangkala keterlaluan unggah-ungguhnya -sehingga cenderung tidak mau ikut ikut urusan orang lain- berakibat pada rendahnya budaya saling mengingatkan dalam merawat dan menggunakan fasilitas umum.Tidak hanya itu, saya juga melihat, bahwa kebiasaan itu diturunkan. Jika anda adalah orang tua, ajarkanlah kepada anak-anak anda bagaimana bersikap terhadap fasilitas umum. Karena bukan baju, pangkat, jabatan apalagi keturunan yang menunjukkan betapa cantiknya diri kita  melainkan manner kita. 

Menggunakan baju bermerk namun membuang sampah sembarangan, no way!
Tampilan si modis, tapi tidak mau memberikan kursi untuk ibu hamil, no way! 
Sekolah di tempat kece tapi berceceran air kalau ke toilet umum, bahkan buang tisu ke lubang toilet, no way!

Sesungguhnya adab dan sikapmulah pakaianmu. Selama kita menjunung tinggi adab, dimanapaun kita berada, di negeri seasing apapaun itu, maka derajat dan kualitas diri kita akan tetap terpancar, sesederhana apapun pakaian yang kita kenakan.    

You Might Also Like

0 comments