Induksi Alami Dengan Stimulasi Puting

  • 5/06/2018 09:38:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments


Sudah memasuki usia kandungan 36w biasanya ibu-ibu mulai galau. Apalagi jika tanda tanda adek bayi mau lahir belum muncul sama sekali. Sebelum saya tulis lebih jauh tentang induksi alami yang satu ini, yuk kita tanamkan sekali lagi bahwa HPL adalah singkatan dari Hari Perkiraan Lahir, bukan Hari Pasti Lahir. HPL adalah perkiraan bukan kepastian. Maka dari itu ibu-ibu tidak perlu galau berlebihan ketika HPL sudah berlalu namun dedek bayi masih anteng atau kontraksi belum teratur. Hanya Allah yang Maha Tahu kapan debay ditakdirkan lahir. 

Lho emang ga takut bayinya keminum ketuban? Ketuban pas usia kandungan udah semakin tua itu jelek loh! Terus plasenta kan mulai mengapur, ketuban juga jumlahnya semakin sedikit, ga salah tuh nunggu lebih lama lagi?

Benar sekali bahwa kemungkinan itu ada, tapi bamanya kemungkinan, berarti tidak pasti kan? Kunci utamanya adalah ibu waspada dengan kesejahteraan bayi. Apa tuh kesejahteraan bayi? Bayi yang sejahtera adalah bayi yang tidak stres, sehingga denyut jantungnya normal. Jadi, apapun keputusan yang ingin ibu ambil, khususnya terkait intervensi dalam prosea melahi pastikan, pastikan bahwa memang hal tersebut perlu dan penting dilakukan. 

Beberapa cara agar bayi tidak stres yaitu ibu tenang (secara psikologis) dan menjaga asupan  (baik cairan maupun makanan bergizi tinggi). Ketenangan Ibu sangat berdampak pada progress ketika ia melahirkan, karena ketenangan itulah pemantik oksitosin yang utama. Keresahan adalah kebalikannya, ia pemantik adrenalin, hormon lawan yang 'memperlama' proses melahirkan. Ibu yang tenang mampu bernafas dengan baik sehingga oksigen untuk bayinya pun terpenuhi dengan baik. Kedua, asupan yang cukup sangat berdampak pada kondisi fisik Ibu, baik itu ketuban maupun plasenta. Plasenta yang sehat dan ketuban yang cukup, adalah faktor faktor yang mendukung kesejahteraan bayi selama menunggu masanya lahir ke dunia. 

Ketika kandungan memasuki usia 37-38w namun belum ada randa tanda melahirkan (bloody show, kontraksi intens), beberapa dokter akan menawari para ibu skema induksi. Induksi ini bisa berupa pil maupun cairan dalam infus. Henci Goer, seorang childbirth educator sekaligus penulis buku berjudul "The Thinking Woman's Guide to A Better Birth", menyatakan bahwa "tindakan induksi saat ibu belum siap untuk melahirkan seringkali berakhir dengan operasi caesar". Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa tidak menunggu?

Salah satu kemungkinannya adalah para dokter percaya saat induksi gagal maka exit door-nya adalah operasi caesar. Padahal saat induksi itu belum dilakukan sang ibu dalam kondisi sangat mungkin untuk melahirkan normal : bayinya tidak sungsang, bukan mengandung  bayi kembar, ibu dan bayi benar benar dalam kondisi sehat. 

Jawaban kedua, induksi seringkali menjadi jawaban atas kondisi bayi yang harus segera dilahirkan, padahal induksi itu sendiri terasa lebih berat bagi bayi dibandingkan lahir secara alami. Induksi buatan mengakibatkan kontraksi menjadi jauh lebih kuat dan lebih tak berjeda dibandingkan kontraksi alami. 

Dalam dunia medis, induksi bisa berbentuk pemberian oksitosin (Pitocin), prostaglandin (Prepidil dan Cervidil), misoprastol (Cytotec).

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Goer, terdapat beberapa alasan induksi yang selama ini ditemui dalam praktik kedokteran. Diantaranya bahkan prosedur biasa (convenience induction) ketika seorang ibu sudah merasa berat dengan kondisinya (feeling huge and uncomfortable) atau merasa khawatir dengan bayinya. Alasan kedua, ketika BBJ bayi diduga besar (macrosomia : BBJ > 4 kg). Alasan ketiga ketika ibu mengalami ketuban pecah dini saat usia kandungan sudah full aterm. Dan tidak ketinggalan, alasan "kandungan telah melewati HPL". 

Atas alasan alasan tersebut, Goer menyimpulkan bahwa tidak selalu kondisi/penyebab yang sama harus di-treatment dengan intervensi yang sama. Ada kondisi yang lebih menguntungkan ketika kita menyerahkan proses melahirkan secara alami tanpa intervensi, terutama saat kondisi ibu dan bayi sama sama sehat. 

Namun demikian, Goer menyebutkan ada beberapa cara yang dapat memicu kontraksi dengan risiko rendah, yaitu dengan cara memicu keluarnya oksitosin dengan alami. Salah satunya melalui stimulasi puting. 

Langkah Langkah Stimulasi Puting
Stimulasi puting dapat dilakukan dengan menggunakan kain basah hangat, secara langsung dengan tangan ibu, atau melalui hisapan (anak yang masih menyusu/suami). Untuk mengurangi risiko kontraksi yang tiba tiba menguat, mulailah menstimulasisatu outing saja. Hentikan stimulasi saat kontraksi hadir. Ketika menstimulasi satu puting tidak menimbulkan kontraksi, stimulasi kedua puting secara bersamaan.

Pro dan Kontra Stimulasi Puting
Pro : stimulasi puting adalah cara alami, tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga sangat mungkin memicu tingkat sirkulasi oksitosin dalam tubuh, yang membantu bukaan untuk bertambah dan menginduksi kelahiran bayi. Noninvasife, tidak membutuhkan biaya dan dapat dilakukan di rumah. 

Kontra : Membutuhkan proses stimulasi yang cukup lama (1-3 jam per hari dalam sebuah study) agar hasilnya efektif, dapat mengakibatkan kontraksi yang kuat (namun dapat berkurang seketika stimulasi dihentikan). 

Selain stimulasi puting, beberapa literatur juga menyebutkan cara lain yang membantu proses  melahirkan non medis, seperti sexual intercourse (hanya boleh dilakukan jika ketuban belum rembes/pecah), menggunakan herbal, menggunakan aneka oil, dan akupuntur. 

Saya akan menuliskan pula pandangan Goer tentang pemberian induksi non alami pada artikel berikutnya sebagai pembanding. Namun demikian saya akan menutup artikel kali ini dengan beberapa kesimpulan utama, induksi alami meningkatkan local concentration of prostaglandins  berperan dalam menginisiasi kelahiran bayi, pemberian oksitosin -khususnya pemberian dalam jumlahnyang dibutuhkan untuk menginduksi kelahiran- memiliki risiko. 

Know better, choose better, result better. Please always empower yourself  with knowledge Moms 😊


You Might Also Like

4 comments

  1. informasinya lengkap buat dikantongin jika sewaktu2 melahirkan lagi :)
    aku lahirin anak pertama mentok di 41 minggu, sempat khawatir juga sih karena hampir memasuki 42 minggu.. berbagai cara stimulus udh dicoba kaya puting, jalan kaki, ngepel jongkok tetep aja. dulu masih blm paham induksi, waktu itu persalinan normal meskipun ada kontraksi tetep aja di induksi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh, dokternya termasuk yang sabar itu Mak,
      induksi ga selalu buruk, tapi harus benar-benar ada kondisi yang tepat penggunaannya supaya advantage lebih banyak dari risikonya :)

      Hapus
  2. Entah kenapa saya kok nggak pernah berhasil stimulasi puting ya bun (atau mungkin kurang sabar��). Akhirnya saya selalu diinduksi melalui infus dan rasanya aduhaaai.. ��

    BalasHapus
  3. Sesuai dengan kontra yang saya tulis di atas Mom, stimulasi nputing membutuhkan waktu yang cukup lama sampai akhirnya efektif, selain itu, kudu rileks, ga boleh tegang :p

    BalasHapus