Pengalaman VBAC Jarak Dekat

  • 5/11/2018 05:07:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 13 Comments

VBAC (dibaca : vibek) telah menjadi populer semenjak awal tahun 2011 mulai dikenalkan oleh Bidan Yessy melalui tulisan-tulisannya di www.bidankita.com. Saya sendiri lupa-lupa ingat dari mana awalnya bisa mengenal istilah ini. Yang saya ingat, semenjak anak pertama saya belum genap setahun saya sudah mulai mencari tahu apa dan bagaimana bisa sukses VBAC. Pokoknya kalau lairan lagi saya mau coba VBAC, itu tekad saya dulu. Qodarulloh, Allah menakdirkan saya hamil lagi saat Kakak baru berusia 1 tahun. Itu artinya, saya akan melahirkan anak kedua saat usia Kakak 21-22 bulan (belum genap 2 tahun). Meski sempat kaget, namun waktu itu saya sama sekali tidak merasa berat apalagi marah sama Allah (lha siapa gue pan berhak marah ? >,<) Malah kayak dikasih kesempatan untuk memperbaiki kesempatan di waktu lalu, makanya jadi semangat dan pengen mengusahakan yang terbaik. 



PENYEBAB SC ANAK PERTAMA
Anak pertama saya sebenarnya hasil dari kehamilan kedua saya, Ma. Kehamilan saya yang pertama berakhir di usia 10 w karena ektopik. Alhamdulillah kehamilan kedua saya bisa melahirkan anak perempuan yang sehat. Namun karena sejak usia 28w adek bayi sungsang, kami sudah usahakan beberapa cara namun belum berhasil membuat adek bayi ke posisi kepala, akhirnya kami memutuskan planned SC (SC terencana). 

BACA JUGA : PENGALAMAN EKTOPIK

Alhamdulillah Kakak lahir dengan sehat, meski hampir saja termasuk BBLR karena BB -nya hanya 2,6 kg. Sejujurnya pasca melahirkan banyak kejadian kurang menyenangkan yang membuat saya bertekad untuk tidak lagi melalui persalinan sesar, mulai dari pendarahan pasca melahirkan sampai gagal menyusui, serta baby blues. Sejak saat itu saya berjanji untuk belajar lebih banyak serta memberdayakan diri lebih baik lagi saat Allah memberi kami rejeki memiliki anak kedua.

MENGAPA TETAP INGIN VBAC PADAHAL JARAK ANTAR KEHAMILAN BELUM 2 TAHUN?

Jawabannya : karena saya percaya luka itu sifatnya sembuh. Bahkan beberapa literatur menyebutkan :3 bulan pasca SC seharusnya luka pasca SC sudah 100% sembuh. Namun demikian, tentu saja ada usaha lebih agar kita bisa mengoptimalkan kesembuhannya. Strategi saya adalah mengasup makanan berprotein tinggi setiap hari  dan melakukan massage lembut pada luka pasca SC. Keduanya sudah pernah saya tuliskan ya Ma, silahkan dibaca di link berikut.

BACA JUGA : ROAD TO DUE DIET
BACA JUGA : PIJAT BEKAS LUKA PASCA CAESAR 

Selanjutnya tentang rupture uteri/robek rahim, kuncinya juga kan di kekuatan rahim ya Ma? Yang mengetahui seberapa kuat rahim kita hanya Allah. Dunia medis mengukur kemungkinan kuat atau tidak untuk menghadapi kontraksi dengan mencari tau nilai SBR (Segmen Bawah Rahim). Biasanya, jika SBR kita nilai-nya rendah (kurang dari 4mm), dokter obgyn akan sarankan untuk tidak coba-coba lahiran pervaginam, melainkan langsung saja planned SC. Padahal, hampir semua ibu hamil (baik yang pernah SC maupun belum) di kandungan semakin tua, SBR-nya menunjukkan nilai yang rendah. Saya sendiri belum mencari tau pasti hubungan nilai SBR dengan robek rahim, jika Mama pernah membaca jurnal terkait, please kindly kasih tau saya link-nya via kolom komen ya Ma :)

Berita bagusnya, yang sudah jelas saya ketahui angkanya, bahwa angka kejadian ruptur uteri itu rendah banget, 0.02%, 2 ibu per 1000 ibu ada kemungkinan mengalami ruptur uteri. Mengapa saya bilang rendah? Ya karena kejadian ini memang risiko -nya kalau mau VBAC, harus dihadapi angkanya, namun kesempatan untuk tidak mengalami pun besar, 98%. Bagi saya, itu angka yang sangat baik mengingat scare tactic ruptur uteri hampir selalu menjadi kalimat pertama mengapa obgyn tidak mau membantu ibu yang berkeinginan untuk mencoba melahirkan pervaginam pasca SC. Minimal saya punya bekal bahwa kejadian ruptur itu sangat kecil, dengan usaha yang baik untuk memulihkan luka, insyaAllah kita kandidat yang tepat untuk VBAC.

APA SAJA YANG SAYA LAKUKAN UNTUK MENDUKUNG CITA-CITA VBAC ?
Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk mempersiapkan diri ketika waktu melahirkan tiba. Saya rangkum dalam beberapa segmen sesuai dengan pengalaman dan apa yang saya lakukan kemarin ya Ma, ini sama sekali bukan patokan kesuksesan (apalagi patokan dari dokter atau siapalah), murni saya share  ulang saja apa yang kemarin sudah diusahakan. Dan alhamdulillah selama mendampingi beberapa ibu yang ingin mencoba VBAC, hal-hal ini cukup berpengaruh terhadap keberhasilan mereka.


#1 PERSIAPAN FISIK
MEMPERBAIKI ASUPAN SEHARI-HARI
Menurut bu bidan saya, dalam sehari, kebutuhan protein itu minimal 80 gr per hari. Nah, karena saya ikhtiar VBAC, maka angka segitu itu minimum. Kalau sudah tau apa yang saya konsumsi selama ikhtiar kemarin mungkin bakal banyak di antara Mama yang kaget. PErcya ga percaya, saya minum susu law fat plain itu sehari minimal 500 ml, plus minimum banget 2 butir putih telur. Itu yang wajib ya Ma, sedangkan asupan lain tentu saja mengandung protein (saya masih makan tahu, tempe, kadang tambah ati atau ikan). Dengan memastikan asupan protein, maka kita telah menutup risiko berbagai macam komplikasi kehamilan lho Ma :)

Selain protein, pastikan Mama juga mengasup minimal 3 liter air putih/hari. Supaya terukur, Mama bisa beli botol minum reusable yang ada ukuran ml-nya ya. Jadi bisa memastikan 2,5-3 liter air per hari terpenuhi. Asupan cairan ini penting banget untuk ibu hamil, selain sebagai bahan dasar ketuban. juga bisa mencegah berbagai macam racun masuk ke tubuh. Detox-nya lancar Ma.

Nah, protein aman, cairan aman, jangan lupa sayur dan buah-nya ya Ma. Wajib hukumnya untuk menjaga vitalitas tubuh. Apalagi sebentar lagi menjelang puasa kan? InsyaAllah kuat Ma, hamil dan berpuasa, asalkan asupan Mama dipenuhi pada waktu antara berbuka hingga sahur. Istilahnya hanya ganti jam makan saja, tidak sampai mengurangi asupan yang dibutuhkan.

Terakhir, karena di Indonesia itu biasa ada ibu hami ngidam, please Ma, ngidam-nya makanan yang sehat-sehat ya, smoothies, rujak, bolehlah, kalau kayak kue-kue, aneka jajanan bermicin, aneka makanan instan, STOP DULU! Teh, kopi, juga stop dulu sampai nanti sudah melahirkan. Indomie yang katanya obat me time, simpen dulu aja di lemari :p Ga perlu beli kalau perlu, dijaga bener apa-apa saja yang masuk ke tubuh sehingga selama hamil kita benar-benar hanya mengonsumsi makanan sehat saja.

PRENATAL YOGA SECARA RUTIN
Mama boleh memilih jenis olahraga apapun asalkan Mama nyaman dan aman untuk kehamilan. Mama sukanya berenang, boleh, tapi cari tempat berenang yang terjaga kebersihannya ya Ma, hihi, jangan-lah kalau yang banyak orang pipis di situ (semoga siy ga ada yang nakal begini). Nah, salah satu yang disarankan dan banyak testimony positif ya yoga prenatal. Kebetulan sekali setiap Ahad, Mba Prita (waktu itu bekerja sama dengan komunitas GBUS), doula dan guru yoga, membuka kelas yoga untuk para ibu hamil di UI. Selain gratis (beneran waktu itu cuma infak aja loh, ga dipungut bayaran khusus), juga Mba Prita berbaik hati mengajari beberapa teori-teori dalam kehamilan dan melahirkan, malah sempat juga mengajarkan kami tentang kunci sukses menyusui, plus bonus edukasi untuk pasangan. Paket lengkap masyaAllah~

Sayangnya sekarang sudah tidak boleh lagi dilaksanakan di UI (selain juga karena Mba Prita sudah pindah rumah ya), jadi jika Mama ingin merasakan manfaat prenatal yoga untuk kehamilan dan proses melahirkan kelak, Mama bisa mencari klinik-kilinik atau kelas yoga terdekat. Di Instagram banyak loh praktisi yoga sekaligus doula yang memawarkan kelas yoga untuk ibu hamil.

Oiya, usia berapa siy biasanya sudah boleh mulai excercise? Beberapa dokter menyarankan setelah masuk TM 2 (sekitar 24 bulan ya), saya sendiri mulai ikutan yoga sejak usia kandungan 16w. Diperbolehkan untuk ikut di usia semuda itu karena memang tidak ada keluhan khusus, misalnya mual-mualnya sudah berhenti, tidak ada pendarahan, juga tidak pusing selama mengikuti latihan. Tapi jika Mama ingin latihan secara mandiri (tanpa ada guru) sebaiknya pernah mengikuti minimal sekali ya Ma, sehingga Mama paham do and dont's-nya. Jangan sampai cedera saat sedang latihan. Dan pastikan mengetahui setiap gerakan itu diperuntukkan untuk ibu dengan kondisi apa dan tidak diperuntukkan untuk ibu dengan kondisi bagaimana.

#2 PERSIAPAN RUHANI
Bagi saya, melahirkan bukan sekedar peristiwa medis, di mana asal saya nurut sama nakes maka everything gonna be okey. Setelah mengalami dua proses meahirkan yang sangat jauh berbeda, saya menyadari bahwa kedekatan dengan Allah adalah kunci yang tidak kalah penting dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya. Bahka bisa dikatakan yang paling penting. Karena bagaimanapun hanya dengan ijin Allah-lah saya bisa merasakan bahagianya sukses VBAC, apabila Allah tidak mengijinkan, apapun yang saya lakukan tidak akan bisa merubah sedikitpun ketetapan-Nya. 

Dengan meyakini bahwa peristiwa melahirkan adalah sebuah peristiwa yang sudah Allah atur untuk kita, sejujurnya seharusnya melahirkan itu terasa jauh lebih mudah. Untuk itu, janganlah sampai ketakutan kita mengalahkan keimanan kita kepada Allah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Memelihara. Bagi seorang Muslim, maka masa di kandungan adalah masa-masa yang sangat baik untuk mulai mengenalkan anak kepada Tuhannya. Maka dari itu, memperbanyak ibadah sunah dan menyempurnakan yang wajib adalah hal yang tidak terpisah dari strategi sukses VBAC ya Ma.

#3 PERSIAPAN AKAL
MEMBACA BUKU TENTANG HAMIL DAN PERSALINAN
Ada banyak sekali judul buku yang membedah tentang hamil dan melahirkan dengan sangat baik. Lho kita kan udah periksa ke dokter, kenapa masih kudu belajar? Karena dokter kan perannya pembantu persalinan Ma, artisnya adalah Mama. Mama berhak me-arrange persalinan sesuai dengan yang Mama inginkan. Nah, bagaimana mungkin kita bisa mengontrol proses persalinan kita jika kita tidak memiliki ilmunya. Thats right bahwa ilmu kita ga bakal sekaya para dokter yang jelas-jelas sekolah kedokteran, namun dengan membaca, insyaAllah kita bisa sefrekuensi ketika berdiskusi dengan nakes yang kelak akan kita mintai tolong untuk membantu. Ketika mereka menyampaikan pendapat, kita bisa memutuskan untuk mengikuti, mengikuti dengan syarat atau menolak. Dalam hal ini berlaku pernyataan bahwa knowledge is power.

Buku-buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca di antaranya : Persalinan Maryam (karya : Bidan Mugi), Ina May's Guide To Childbirth, dan  The Thinking Wman's Guide to A Better Birth. Ada 1 lagi sebenernya, punyanya dr Tan Ee Ping (dokter pro VBAC banget di Malaysia) judulnya Cesarean Birth : Tha Path Untold. Buku-buku tersebut membahas tentang banyak hal yang tidak biasa disampaikan oleh para obgyn namun penting untuk kita pahami. Apakah benar bayi besar harus dilahirkan sesar? Apakah mungkin untuk melahirkan normal dengan KPD? Apakah SC benar-benar aman untuk bayi dan Mama? You can get the answer after read all those books insyaAllah.

MENGIKUTI SEMINAR TENTANG GENTLE BIRTH
Mengapa gentle birth? Bagaimana dengan seminar persalinan (saja) tanpa embel-embel gentle birth? Saya kurang rekomen siy, kecuali tidak dengan judul tersebut tetapi mengarah kesana, seperti "Bagaimana mengelola rasa sakit", "Melahirkan Nyaman", dan semacamnya. Jadi tidak hanya diceritakan bagaimana siy melahirkan itu tetapi sampai bagaimana melahirkan yang nyaman. Ada klinik di Bintaro yang secara rutin mengadakan kegiatan seminat berseri tentang persiapan melahirkan, nama kliniknya Bintaro Woman and Children Klinik (BWCC). Sayangnya saya belum pernah mengikuti satu sesipun (karena baru ada pas anak kedua saya udah 2 tahun :P) sehingga saya tidak bisa mmberikan testimony lebih. Namun pembicara-pembicaranya saya ketahui sebagai dokter obgyn yang cukup terbuka tentang persalinan, sehingga saya tetap sarankan untuk mengikuti :)

Oiya, jika Mama memiliki trauma melahirkan, penting sekali untuk menyembuhkan traumanya terlebih dahulu ya Ma. Beberapa kali saya melihat ada doula yang menawarkan tentang trauma healing. Mama bisa mengecek informasi lebih lanjut dan mengusahakan kesembuhan trauma lalu. Saya sendiri memutuskan untuk memaafkan siapapun yang saya anggap berdampak buruk kepada kondisi saya dan tentu saja memaafkan diri sendiri. Alhamdulillah trauma masa lalu benar-benar sembuh sempurna pasca VBAC. 

MENGIKUTI KELAS PERSALINAN
Bila seminar biasanya dilaksanakan dalam waktu singkat, kelas persalinan lebih fokus dan biasanya lebih detil. Keurikulumnya pun biasanya lebih lengkap. Saya sendiri dulu mengikuti kelas persalinan di salah satu bidan, ada belajar excercise, ada belajar apa itu kehamilan sehat dan bagaimana strategi bersalin nyaman.

Jika Mama ada kelebihan rejeki, saya sarankan untuk bisa mengikuti kelas persalinan bersama Papa Jagoan masing-masing ~ sehingga bisa lebih komprehensif belajarnya.

MEMBACA ARTIKEL-ARTIKEL TERKAIT VBAC DI SITUS TERPERCAYA
Bagi sebagian orang, membaca buku mungkin ga semudah orang lain. Baik karena harganya maupun aksesnya yang sulit. Tapi kalau internet semua bisa akses dong ya? :p Nah, jangan mau kalah sama akun gosiper Ma, daripada scrolling akun gosiper atau liat-liat baju bayi terus, alokasikan waktu untuk menambah ilmu. Bertebaran oey ilmu hamil dan persalinan yang terpercaya. Saya biasanya cek di www.spinningbabies.com, www.bidankita.com, Sekarang juga banyak akun-akun IG doula atau bidan yang cukup sering share tentang hamil dan melahirkan. Yang suka main di Facebook, ada fanpage VBAC Tanya Saya juga loh, sudah banyak yang belajar lewat fanpage ini. Jadi jangan lupa like dan baca seluruh artikel yang di-share ya Ma.

MEMBACA KISAH VBAC IBU-IBU LAIN
Membaca paparan nakes atau praktisi gentle birth mungkin ga selalu menggugah tekad Mama untuk sukses VBAC, supaya tambah yakin dan semangat, perlu juga untuk membaca kisah-kisah melahirkan yang positif dan empowering. Kisah-kisah melahirkan yang positif akan membantu Mama membangun bayangan melahirkan yang nyaman, indah sekaligus aman. Salah satu situs yang bisa menjadi rujukan adalah www.kisahvbac.com, saya jamin semua kisah di situs tersebut asli, benar-benar terjadi ~ bahkan kisah yang gagal VBAC -pun ada.

#4 PERSIAPAN FINANSIAL
Beberapa kali saya menemui ibu yang kurang bersemangat untuk mengusahakan normal karena merasa tidak ada tantangan dengan besarnya biasa sesar (if you know what i mean). Sebaliknya ada ibu yang benar-benar kuat tekad dan usahanya karena dia tau dia tidak mungkin memiliki biaya untuk melahirkan sesar. Dua hal yang saling timbal balik tapi pusatnya adalah finansial. Saya sendiri menyarankan agar Mama dan Papa Jagoan memiliki saving khusus menjaga kehamilan dan persalinan. Saat hamil, Mama membutuhkan asupan bergizi yang mungkin agak lebih dibandingkan saat tidak hamil, begitu juga saat menyusui dan pasca melahirkan kelak. Dan saat persalinan, tabungan yang cukup diperlukan untuk membantu Mama menemui nakes yang pro tanpa harus dibatasi biaya-nya. Apalagi jika Mama dan Papa memutuskan untuk menggunakan jasa doula.

Tabungan juga akan mengurangi kekhawatiran Mama di akhir persalinan nanti. Namun demikian, jangan sampai menjadi jebakan juga, gara-gara punya tabungan banyak jadi merasa ga masalah untuk sesar. 

#5 PERSIAPAN PENDAMPING & PEMBANTU PERSALINAN

MEMILIH PEMBANTU PERSALINAN
Nah, ini niy yang biasanya banyak ditanya sama Mama Jagoan di luaran sana, "Kemarin melahirkannya sama siapa Ma?", "Dokter pro-VBAC di daerah Jaksel siapa ya Ma?", dan berbagai pertanyaan sejenis yang intinya menanyakan tentang nakes yang mau membantu VBAC. Sayangnya Ma, mencari nakes pro-VBAC tidak semudah menemukan mamang tahu bulat (yang bahkan woro-woro kalau jualan tahu bulat >,<), jadi ketika kita memulai rencana VBAC dari mencari nakes pro, biasanya Mama jadi down. Seolah-olah hanya dengan menemukan nakes pro-VBAC-lah maka cita-cita kita akan terwujud. Hmm, dalam kesempatan kali ini, saya cuma mau menyampaikan bahwa bertemu nakes pro itu bonus, ga bertemu pun Mama insyaAllah masih bisa melahirkan pervaginam dengan aman. Yang terpenting, Mama hamil sehat tanpa komplikasi.

Oiya, dalam memilih pembantu persalinan, Mama juga perlu memperhatikan beberapa hal. Termasuk apakah syarat yang beliau minta untuk penuhi realistis ataukah mengada-ada. Jika beliau memang benar-benar pro VBAC, maka dapat dikatakan syarat untuk VBAC -nya minim, lebih fokus ke kesehatan Mama dan bayi saja. Tidak menyinggung BB janin, tidak membatasi harus lahir sebelum HPL, bahkan sungsang-pun beliau mau bantu. Nah lho, susah kan? Bukannya menakuti siy, hanya saja kita harus move on dari bergantung dengan nakes berlebihan. Tempatkan nakes sebagaimana mestinya dalam persalinan kita, as a helper.

MEMILIH PENDAMPING PERSALINAN
Papa Jagoan siap ga niy jadi pendamping persalinan? Hihihi, saya teh orangnya ga maksa. Tapi bahkan seorang Vin Diesel mengikuti saran rekan (ganteng)-nya Paul Walker untuk berani menjadi pendamping persalinan istri. Kata Vin, pengalamannya mendampingi sang istri menjadi pengubah hidupnya, pengubah rasanya, pengubah pandangannya terhadap istri dan anaknya. Kalau boleh dibilang, semua Mama Jagoan pengen sekali ditemani sang Papa Jagoan, mungkin tidak di momen momen lain, tapi dapat dibilang wajib untuk momen ini, ye kan? Aduh, kok jadi baper.

Apalagi banyak sekali peran pendamping persalinan yang dipercaya dapat memperlancar proses, mulai dari semangat, doa, elusan, usapan (bahkan bila perlu kecupan) dan tentu saja kesiap siagaan untuk membuat birth-plan Mama terwujud. Banyak cerita persalinan yang superromantis karena peran suami sebagai pendamping persalinan yang optimal. Bahkan beberapa pasangan mengaku seperti lahir kembali rasa cintanya bersama kelahiran sang bayi, masyaa Allah ❤

Namun, untuk memastikan para pendamping persalinan menjadi pendukung (bukan pelemah), maka Mama harus satu visi dan satu frekuensi dulu dengan Papa Jagoan, thats why penting punya birth plan yang dibahas bersama pasangan. Plus keaktifan Mama untuk meng-edukasi suami tentang apa dan bagaimana persalinan berlangsung.

Selain suami, biasanya Mama juga akan didampingi Papa, Mama kandung atau Papa-Mama mertua, atau siapapun yang Mama pilih. Siapapun itu, pastikan juga mereka adalah pen-support (bukan pelemah). Ini momen penting, its okey untuk memilih strategi paling tepat. Jika Mama merasa kehadiran salah satu atau salah dua orang berakibat pada mood atau pada keleluasaan Mama dalam menjalankan strategi, sampaikan baik-baik bahwa Mama tidak ingin ditemani saat melahirkan, silahkan menjenguk saat bayi sudah lahir. Agar tidak menyakiti, pastikan Mama menyampaikan dengan kalimat yang baik ya Ma, bila perlu, tetap minta dukungan dan doa meski dari jauh ~

Saya sendiri memilih mas suami dan ibu kandung sebagai pendamping persalinan, hanya 2 orang tersebut yang saya perbolehkan hadir sampai akhirnya anak saya lahir. Mas suami sudah saya tugaskan sejak kami sudah fix hamil anak kedua :p (ye kan yang hamil berdua tho?) Mulai dari anter pas periksa, pas yoga, ikut kelas persalinan, kalau malam bantuin saya massage bekas SC, ngingetin asupan protein dan cairan, ngingetin minum jus bit (saya ada riwayat HB rendah soalnya), dan selalu di samping saya semenjak kontraksi masuk hari ke 4 dan mulai intens, siang dan malam. Masyaa Allah tabarokalloh ~

Alhamdulillah, selesai juga akhirnya postingan panjang ini, karena Mama sudah mau baca sampai akhir, saya kasih oleh oleh niy Ma (sok iyes bange niy si Lilis), contoh checklist harian sebagai persiapan VBAC.

Ini saya susun per minggu ya Ma, jadi bisa print sekitar 40 lembar lalu dijilid

Tenang, ada versi .pdf -nya juga supaya Mama bisa print dan jilid. Klik di sini saja ya :) Semoga jadi tambah semangat ya Ma, dan mas suami yang awalnya tidak mendukung pun bisa melihat bahwa Mama sungguh-sungguh mempersiapkan persalinan (yang lebih baik) selanjutnya. Selamat berjuang! May Allah always ease and bless you~


You Might Also Like

13 comments

  1. Haduuuhhh, lagi-lagi baca beginian, ngiluuuu rasanya hihihi..
    Tapi menarik untuk dibaca :)

    Saluutt banget deh sama bunda-bunda yang ngotot lahir normal.
    Saya mah setelah lahiran pertama akhirnya sesar, lalu diberi kehamilan kedua yang penuh tantangan, udah gak mikir lahir normal lagi.
    Pokoknya mikirnya bayi dalam perut keluar dengan sehat dan selamat, sayapun juga bisa sehat dan selamat.

    Pan juga mau lewat bawah atau tengah, saya juga bakal dipanggil ibu ama anak-anak saya wkwkwkw (saya emang lemaaahhh)

    Alhasil, sudah 2 kali lahiran, saya gak pernah sama sekali tau bagaimana sih rasanya sakit melahirkan itu, sakit kontraksi itu.

    2 kali melahirkan, keduanya pun belum waktunya alias belum ada kontraksi.
    Apa berharap bisa merasakan kontraksi ?
    enggak juga sih, saya malah fokus ke mendidik anak saja, sesungguhnya tantangan lahiran yang mendebarkan itu gak ada apa-apanya ternyata dibanding mendidik anak..

    Fiuhhh *curcol :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mak, wahh, seloww yaahh, "yabg penting ibu dan bayi sehat" itu kadang jebakan juga Mak, tapi jika Mak sudah merasa puas dengan pengalaman melahirkan lalu, semoga artinya memang tidak ada trauma melahirkan :)

      Eh, kelak kalau mau menemani anak atau cucu lairan, apa Mamak akan seselow ini juga? *isengnanya

      Hapus
  2. Subhanallah.. thanks sharingnya ya Ma..
    Saya saat ini juga lagi hamil anak ke-2 dan pingin VBAC juga

    cerita diatas betul2 memotivasi saya untuk bisa lahir dengan cara VBAC, doakan ya Ma semoga saya juga bisa melahirkan dengan cara VBAC

    tapi apapun itu, yang terpenting memang anak dan ibu sehat, jadi untuk kehamilah ke-2 ini saya tekad untuk VBAC, tapi jika memang Allah berkehendak lain, saya sudah pasrahkan sama Allah

    thanks sekali lagi atas sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mom Siska, alhamdulillah, selamat atas rejeki putera kedua insyaAllah

      VBAC worthed banget untuk dperjuangkan Mak, freely kontak saya secara pribadi jika membutuhkan sharing lebih dalam :)

      Hapus
  3. Terimakasih sdh sharing ma. Salam kenal, aku pernah ikut ikut seminat dr peduli jilbab di UI dg pembicara bidan maya utk persiapan ibu hamil dibulan ramadhan kmrin. Dirimu moderatornya kan mak. aku mau tanya dong, buah bit dijus utk naikin hb brp lama mak? aku hb rendah jg.. jazakillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, salam kenal mak Lilis, bener banget, seneng bisa saling sapa lagi.

      Aku minum selama kehamilan dan pasca kelahiran Mak, rutin setiap hari :) Karena selain HB rendah bahaya buat bumil, menyusahkan saat kelahiran juga berbahaya kalau ga langsung dinaikin after lairan. Jadi aku minum terus :)

      Hapus
  4. Assallammualikum...makasih mba atas sharing nya,bermanfaat bgt buat aku yg mau vbac anak pertama lahir normal,ke2 sc karna sungsang dan ke3 inu berharap vbac.ada kontak yg bisa di hub?terimaksih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam wrwb, alhamdulilah bila tulisan ini bermanfaat untuk Mba, silahkan klik salah satu ikon sosial media yang mba punya di sebelah kanan tulisan ini ya Mba, nanti mba akan langsung terhubung dengan saya 😊 atau bisa email saya di aisyazzahra@gmail.cim

      Hapus
  5. Hai bunda,tulisan bunda emg bner2 memotivasi bget bgi bunda2 yg ingin vbac.termasuk saya mantan muridnya bunda 6 bulan lalu sukses vbac berkat masukan2 bunda.mksh bnyk ya bun,semoga ilmunya menjadi ladang pahala dan brmanfaat banyak bagi lebih bnyak bunda2 yg lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Allah-lah yang memudahkan dan mengijinkan Bunda :)

      Hapus
  6. Terima kasih sharingnya bun, jadi makin termotivasi buat bisa VBAC di kehamilan kedua ini.. doakan aku bisa berhasil juga ya bun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Robbal'alamin, insyaAllah Bunda :)

      Hapus
  7. Semangat bunada2 hebat, Allhamdulilah 8-10-2018 saya VBA3C sukses, melahirkan di rumah kuasa Allah asal kita yakin dan banyak berdoa.

    BalasHapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)