Mungkinkah Berhenti Jadi Shopaholic?

  • 7/27/2018 03:20:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments

Dear, kalau kamu berteman denganku di sosmed atau beberapa kali pernah mampir ke blog ini dan baca-baca artikel terdahulu, mungkin bakalan ngeh beberapa artikel dan postinganku terkait minimalism, frugal living, declutter, dan sebagainya. Short story, in fact aku dulunya ada adalah shopaholic. For a reason why semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu baca karena aku mengalami sendiri gaes, bukan cerita orang lain atau sekedar sharing hasil baca artikel tentang hal-hal tersebut. 

Sebagai mantan shopaholic (insyaAllah udah ga lagi), aku ga perlu cerita panjang lebar gimana spontannya aku belanja. Bener-bener rem blong lah pokoknya, apalagi semenjak online shop menjamur dan aku punya token (dan tentu inet banking T,T). Thats why, kalau kamu udah mulai merasa susah ngerem belanja, saat tanganmu mudah kepleset untuk klak klik barang-barang yang ada di marketplace, IG, or Shopee, or whatever, mending jauh-jauh dulu deh sama token cs :p Itu saran pertamaku untuk mulai berhenti bermuah-mudahan dalam berbelanja. 

Lalu kapan munculnya rasa ga enak dengan semua itu ? Setelah aku merasa bahwa semua yang aku punya itu ga ngefek apa-apa dalam hidupku, kecuali meja kantor yang kayak gudang (ngantor apa nggudang sis?) dan lemari di rumah yang ga cukup lagi buat nampung semua jilbab dan baju. Oiya,dan juga puluhan buku yang akhirnya ludes kemakan rayap T,T Saat itu juga i feel like, no, its not right. Bukan kayak gini kehidupan yang aku mau. I have money, but I dont wanna make it waste. I want them as my ticket to jannah. 

Dan akhirnya aku googling, baca gimana pengalaman orang lain untuk berhenti dari kebiasaan belanja dan ketemulah dengan prinsip minimalism, dan after that spark joy-nya Konmari. Kedua hal itulah yang udah menjadi trigger untuk stop buying what i wanna have sampai sekarang.



Minimalism mengajarkan ku bahwa hati kita ga akan pernah puas dengan apa yang kita miliki, selalu ada alasan untuk membeli yang baru dan membuang yang lama-atau alasan mengoleksi? Thats dunya gaes, begitulah dunia terlihat indah di mata kita, but kita harus lawan hawa nafsu itu. Jika kita mau melihat diri kita lebih dalam, maka kita akan menemukan bahwa apa yang kita miliki seringkali jauh lebih banyak dari apa yang kita butuhkan. Akibatnya? Bukan hanya mubadzir tetapi juga respek dan penghormatan serta rasa syukur kita itu bakal jauh berkurang.

Kalau kamu ga percaya, cobalah untuk menyisihkan seluruh sepatu kesayanganmu dan pilihlah satu saja yang paling kamu nyaman dan sukai. Sisanya? Kalau kamu belum yakin untuk memberikannya ke orang lain, simpanlah di tempat lain, anggaplah si sepatu-sepatu lain sudah bukan milikmu lagi. Jalanilah hari-harimu dengan 1 sepatu, dan rasakanlah penghormatanmu serta rasa sayangmu terhadap sepatu itu akan meningkat. Dan terasa ada jalinan psikologis antara kamu dengan sepatumu. Saat pulang kembali ke rumah dan dia mengantarmu kembali sehingga kakimu tidak kotor, tidak kepanasan, say thanks to her,masyaAllah, aku merasakan sendiri bahwa punya 1/2 sepatu itu lebih  nikmat dibandingkan punya banyak sepatu. 

Mungkin akan ada yang bilang, "sepatuku banyak dan aku merawat semuanya dengan baik", its okey, minimalism sendiri ga berarti jumlah yang harus dimiliki setiap orang sama. Tapi bahwa kamu tau mengapa kamu perlu sejumlah itu-lah yang jauh lebih penting. 

Selanjutnya aku belajar banyak dari Marie Kondo. Jujur dari dulu aku merasa asing dengan kata zuhud. Dulu bagiku zuhud itu seperti memaksakan diri untuk 'terlihat ga punya'. Dan aku ga mau seperti itu, karea jatuhnya kita jadi 'membiarkan' ketika kondisi finansial keluarga ga baik. Seolah-olah jadi alasan untuk ga punya apa-apa. Padahal untuk bisa maju dan membantu orang lain, ada kalanya kita butuh finansial yang lebih dari cukup bukan? Aku merasakan malah arti 'secukupnya' itu pasca membaca buku Spark of Joy-nya Konmari dengan metode Konmari-nya yang tidak hanya tentang beberes tetapi tentang penghargaan terhadap setiap barang yang ada di rumah kita (juga teradap rumah kita sendiri), tentang efek psikologis saat kita hanya dikelilingi oleh barang-barang yang benar-benar memberika "spark of joy", bukan sekedar karena orang lain punya, bukan sekedar karena sedang sale, bukan sekedar hasil lapar mata. Bukan. 

Saat kita bertanya pada diri kita lebih jauh, niscaya kita akan semakin tau bahwa kebutuhan kita sebenarnya tidak banyak. Tidak hanya baju, hijab, sepatu, tas, tetapi juga makanan yang kita konsumsi, shampoo yang kita butuhkan,jumlah tisu yang harus ada di rumah, sedetil itu. Kalau kamu penasaran lebih jauh tentang beberes yang menyenangkan, kamu harus baca buku -nya Marie Kondo!

Akhirnya sedikit demi sedikit aku berhasil mengelola emosiku saat berbelanja, dimulai dari gamis-gamis (bahkan sekarang sudah hilang niatan jual gamis, karena pemantik awanya memang demi bisa punya gamis baru -sungguh receh >,<), hijab-hijab, tas, sepatu (beli satu untuk kerja, satu untuk main), buku-buku,hingga akhirnya merambah ke baju anak, mainan anak, buku anak, juga makanan yang kami mau masak (kamu sudah coba food prep?)

Apakah setelah memutuskan untuk insaf artinya ga boleh belanja sama sekali? Salah! Percayalah setelah ini belanja terasa jauh lebih menyenangkan dan memuaskan. Karena setelah mengenal minimalism, kamu akan mengenal delayed gratification,budgeting dan intentional buying. Saat itulah belanja bukan menjadi candu, tetapi menjadi peperangan penuh strategi yang harus dimenangkan :p 

Jadi, kalau kamu belum yakin dengan keputusan untuk stop spontaneous buying mungkin kamu bisa mulai googling pengalaman mereka yang bisa lepas dari hutang karena stop jajan di coffee shop, juga kisah mereka yang bisa jalan-jalan ke negara impian karena rajin masak sendiri, tentu kamu bakal bisa mengalihkan seluruh keinginanmu untuk 'mengeluarkan uang' ke tempat lain yang jauh lebih meaningful untuk hidupmu dibandingkan menghabiskannya di malam-malam midnight sale -menghajikan kedua orang tuamu misalnya.

Ada banyak alasan untuk berhenti, hanya ada satu alasan untuk lanjut : kelalaian. InsyaAllah selanjutnya aku bakal bahas series ini dalam beberapa kali postingan, termasuk bagaimana caranya budgeting dan keep in mind untuk intentional buying.


***
Supaya kamu melek financial dan akibatnya kalau ga segera sadar dari keborosan, kamu bisa intip IG @jouska - baca baca ya cerita yang di highlight IG-nya. Dan karena aku Muslim, aku juga akan rekomen sebuah lecture superb dari Ustadz NAK yang membuat aku makin yakin bahwa shopaholic is just a BIG NO, nonton di sini ya. Yuk insaf bareng-bareng :)

You Might Also Like

4 comments

  1. Tulisan bagus mba...suka aku bacanya....
    Memiliki barang secukupnya, yang kita butuhkan saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mba, bagi orang kayak aku, ternyata ga mudah untuk keep in mind, cukup itu lebih bagus dari berlebihan T,T

      But I will try ~

      Hapus
  2. Bacain jouska punya sharing itu bikin pengen tobat finansial, sampe bikin diri ini berintrospeksi duit selama ini larinya kemana aja. Dan setelah di pelajari udah nggak sehat bgt krn gede hutang konsumtifnya😅😅 Baca tulisan ini aku seperti membaca kisahku sendiri mbak...hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Janice, its not too late to change, semangat!

      Hapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)