Broken But Beautiful

  • 8/31/2018 04:46:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 2 Comments


Sebuah gambar dengan latar biru tua dan tulisan berwarna emas membuat saya tertegun di suatu siang. Di dalamnya terdapat pula gambar keramik yang "unik". Keramik yang berbentuk utuh namun dengan retakan. Retakan itu disamabung dengan emas. Dari quote di gambar itulah akhirnya saya berselancar mencari tau lebih jauh tentang kintsugi (atau kinstukuroi), seni mereparasi keramik ala Jepang.

Berbeda dengan pandangan kita -orang awam- tentang mereparasi keramik, bahkan mungkin kita tidak terbayang unuk menyatukan kembalikepingan-kepingan keramik yang sudah pecah - ,kintsugi memilih untuk mereparasi tanpa menutupi "bekas luka"nya. Retakan-retakan tidak dibuat tertutup namun menjadi lebih terlihat karena direkat dengan emas, atau perak atau perunggu. Dengan metode ini, sebuah benda menjadi lebih "berseni"  bahkan "lebih bernilai" dari sebelumnya. Well, keramik pecah, kemudian direparasi, hasilnya? Jadi lebih bernilai. Such a brilliant!

Filosofi mereparasi yang "berbeda" ini akhirnya menginspirasi banyak orang tentang kehidupan. Bahwa ada kalanya takdir membawa seseorang ke lubang masalah yang dalam dan pelik, bahkan rasanya hancur berkeping-keping. Dan bukankah kehidupan manusia Allah ciptakan dengan berbagai "ujian"? Namun ketika kita bisa memaknai setiap episode itu sebagai pembelajaran, percayalah jiwa yang retak itu akan menyatu kembali menjadi jiwa "baru" yang "lebih" dari sebelumnya. We are broken, but still, we are beautiful. Even, more beautiful i think. 

Namun untuk mentransformasi diri menjadi "jiwa baru" tentu bukan hal yang mudah. Perlu kebesaran hati untuk memahami bahwa segalanya terjadi karena suatu alasan -yang pasti hasilnya baik, karena kita yakin Allah-lah sebaik baik Perencana. Lebih dari sekedar besar hati, kita juga perlu punya keyakinan penuh, bahwa Allah menciptakan siang dan malam bergantian, begitu pula kehidupan kita. Kadangkala kita temui kesusahan, tetapi kita harus yakin kelak akan ada kemudahan yang hadir. Inna ma'al 'usri yusro, fainna ma'al 'usri yusro. Di setiap kesulitan, Allah selipkan kemudahan. Allah sertakan kemudahan. 

Menata hati bahwa hidup bukan untuk meraih kesempurnaan, menata hati bahwa tidak apa apa kita pernah jatuh atau pernah tersakiti, menata hati bahwa ada hikmah di sebalik kejadian memerlukan keimanan. Tidak mudah untuk melewati cobaan tanpa keyakinan bahwa "ini baik untuk kita". Tanpa keyakinan dan optimisme, yang muncul adalah depresi, kesedihan mendalam, frustasi, bahkan mungkin akan terpikir untuk mengakhiri hidup saja. Tapi Muslim/ah tidak diajarkan menyerah begitu saja. Ada Allah, Maha Besar bila dibandingkan dengan masalah yang ada. Masalahnya adalah : apakah kita berhak ditolong Allah?

Dalam sebuah ayat di Al Quran, Allah tunjukkan betapa besar karuniaNya semenjak kita lahir hingga kini. Kita dijamin bahkan sejak dalam kandungan, pun bukankah ada banyak kejadian lalu yang membuktikan bahwa Allah selalu ada? Lalu kemanakah kita selama ini, hingga terpikir bahwa Allah "melupakan kita" ? Apakah tidak terbalik? Kitakah yang melupakan Allah? Na'udzubillah.

Ada banyak momen kehidupan yang Allah berikan sebagai wake up call, pengingat diri. Juga sebenarnya bagi saya, itu adalah cara Allah untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Ada sebuah kisah yang membuat saya tertegun lama saat membacanya, selengkapnya mungkin kalian bisa berselancar di dunia maya. Brother Ali, sosok pemuda yang akhir hidupnya "viral". Kepergiannya menjadi kesedihan dunia. Suatu hari ia divonis kanker, dan kanker itu menjadi "emas" di tengah kehidupannya yang "retak". Karena kanker telah mengingatkan ia tentang arti hidup yang sesungguhnya. Harta kekayaan tak dapat membeli "nyawa". Semenjak hari itu ia mendonasikan hartanya untuk perbaikan kondisi masyarakat tertinggal -khususnya di Afrika.

Saat kita melihat rasa sakit dan penyakit sebagai "beban", maka kita lupa bahwa mungkin itulah hadiah "emas" yang dikirimkan Allah spesial untuk kita. Its not easy tough, but thats why Allah guarantees  : everything comes to you depend on your ability. Dan percayalah bahwa insyaAllah kita mampu. 

Maybe we are not perfect in dunya, but let try to looks better in front of Allah. Barokallohufikum.


You Might Also Like

2 comments

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)