Memulai Lembaran Baru dengan Menikmati Sisa-sisa Winter di Canberra

  • 9/19/2018 02:49:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 7 Comments



Its -3 dercel now
Tetapi aktivitas sebagai ibu tetap harus ON bukan? *pasangkaoskakipakaijaket

___
Per 12 September, saya dan anak anak resmi menghuni sebuah rumah di kawasan Dumaresq, Dickson, Canberra dengan status menemani abahnya anak-anak menyelesaikan studi-nya di ANU. Alhamdulillah penerbangan pertama anak anak berjalan lancar dan anak anak tidak begitu jetlag sesampainya di kos-kosan

Meski telah memasuki musim semi secara hitungan kalender, namun cuaca di sini masih rasa musim dingen, alias winter. Sehari-hari kami memakai winter stuff lengkap dari bangun tidur hingga bangun lagi. Tidak pernah lepas dari long john, kaos kaki, baju tebal, dan sesekali memakai jaket. Jangan tanya jika keluar rumah ya, kalau suhu di bawah 10 derajat biasanya kami juga lengkap pakai sarung tangan *wrrrrrdingin Bahkan meski hanya main pasir di halaman belakang.

Anak-anak main pasir pakai winter stuff lengkap
Short sory, insyaAllah kami akan menjalani kehidupan sebagai warga Aussie selama kurang lebih 10 bulan ke depan, tidak lama memang, karena per Juli tahun depan mas suami juga sudah harus lulus magister-nya. Selama di sini, saya 100% menjadi ibu di rumah, menamani anak anak bermain dan belajar, beberes rumah, masak, dan sesekali menuliskan pengalaman yang bisa dibagi lewat blog ini. Nah, karena ini baru seminggu pertama saya, maka saya akan menuliskan beberapa hal yang saya anggap perlu dipersiapkan jika ingin membawa serta keluarga menyelesaikan studi di negeri orang. Apalagi jika negaranya memiliki budaya dan kondisi 180 derajat bedanya dengan di Indonesia. 

P e r s i a p k a n   K e s e h a t a n
Kesehatan memang harus dijaga walaupun ga sedang apply visa, tetapi lebih penting lagi saat kita sedang mengajukan permohonan masuk ke negara lain. Australia sendiri memiliki kerja sama dengan beberapa rumkit untuk menyelenggarakan MCU khusus bagi WNI yang mau mengajukan visa, jadi tidak bisa sembarangan rumkit ya. Hasil MCU-nya pun langsung dikirimkan ke imigrasi Australia, kita ga bisa nego apapun hasilnya. Selain untuk keperluan kelancaran visa, kesehatan juga penting banget supaya bisa datang ke negara tujuan sesuai jadwal, nyaman selama perjalanan (kemarin kami terbang selama 9 jam, dan keseluruhan perjalanan ditempuh lebih dari 12 jam), serta mudah beradaptasi di tempat baru -apalagi jika disambut winter seperti kami. 

R e n c a n a k a n  K e u a n g a n 
Membawa keluarga jelas butuh budget dengan pengelolaan khusus yang meski tidak harus lebih besar daripada mereka yang tidak membawa keluarga, namun tetap perlu diatur. Kami berusaha sekali agar memenuhi kebutuhan 100% dari allowance beasiswa saja, sehingga itulah batas pengeluaran kami (termasuk dana darurat, tapi tidak termasuk tabungan -lha wong cukup saja sudah syukur alhamdulillah). Merencanakan kebutuhan dan pemenuhannya akan sangat memudahkan, suami istri akur karena sudah tau mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dibeli, belanja apa yang sedang harus dipenuhi bulan ini, dan seterusnya. 

Meski punya tabungan rupiah yang bisa diambil kapan saja di sini, namun jangan lupa bahwa ada biaya admin yang tidak kecil *3$ per penarikan. Biaya ini tentu akan sangat mungkin berbeda di setiap negara. So, kita juga ga bisa bergantung dari tabungan rupiah terus :p Apalagi kalau diambil terus tanpa diisi ye kan? *elapkeringet

P e r s i a p a n  M e n t a l
Ini super duper penting (pakai banget). Tidak hanya mental anak, tetapi juga mental suami, juga istri. Berpindah ke negara lain jelas bukan perkara mudah. Saya sendiri masih terus beradaptasi dengan suasana baru. Dari yang remeh temeh seperti harus rela cebok pakai tisu, sampai hal yang cukup agak remeh seperti susah banget untuk rela ga beli daun bawang karena harganya yang ampun ampunan *pelukdaunbawang Di sini, fleksibilitas dan penerimaan harus naik level. Asalkan ga bertentangan sama syariat agama, maka harus siap belajar hal baru. Meski demikian, tidak semuanya berupa adaptasi yang susah kok, banyak juga perubahan yang menurut saya lebih menyenangkan, seperti aneka kemudahan fasilitas publik, beberapa bahan makanan sehat yang jauh lebih terjangkau, serta yang lebih besar dari itu semua tentu saja kesempatan untuk senantiasa membersamai anak anak dan suami. 

Persiapan akan lebih mudah bila dilakukan jauh sebelum keberangkatan. Minimal kita mengetahui budaya dan kondisi iklim di negara tujuan saat kita tiba. Jika mau lebih lengkap, tentu bisa juga mempersiapkan siapa orang yang bisa kita hubungi ketika nanti kita menemui kesulitan di sana. Bila ada komunitas khusus orang Indonesia, maka alangkah baiknya kita juga ikut aktif. Ya, minimal buat ayem-ayem, plus nambah jejaring ~ siapa tau yang single ketemu jodoh *kompor

B e l a j a r  M e m a s a k
Wajib! Di Indonesia kita dapat dengan mudah menemukan warung nasi uduk ketika lapar melanda di pagi hari, harganya pun murah meriaahhh. Malem malem ga sempet masak, mamang mie tek tek juga bakal lewat. Tapi jangan harap itu terjadi di negara lain, yah minimal di Australia aja deh contohnya. Kalau ga masak sendiri, its mean kamu mungkin bagian dari #CrazyRichIndonesian 😜 Beda banget biaya yang harus kamu keluarkan untuk makan di rumah dibandingkan di resto. Misalnya aja, satu pack mixed vegetables harganya 3$ untuk 4 kali makan, 1 kali makan kalau berempat. Nah, 1 porsi Mc D di sini itu minimal 7$, kali 4? 28$. Hmm hmmm hmm. Kalau aku siy NO!

Jadi, jikalau kalian ingin berhemat dan masih punya sisa budget untuk melipir ke negara-negara tetangga atau pelesir pelesir, save your money with cooking your meal. 

B e l a j a r  B a h a s a  L o k a l
Ga semua negara bahasa utamanya bahasa Inggris. Kalau iyapun ga semua kita fasih berbahasa inggris aktif walaupun ngerti bahasa inggris (kasir swalayan nanya "do you need a bag?" aja saya dengernya hanya "bag"-nya, rrr, eh itu mah saya :p) Maka sangat penting untuk punya skill bahasa meskipun ga super lancar, minimal bahasa Inggris, tapi kalau bisa bahasa lokal jauh lebih baik (apalagi kalau kamu ikut kuliah pak suami di Jerman, Belanda, Korea atau Jepang, kamu tentu harus lebih banyak persiapan dari segi bahasa).

Pohon yang banyak hidup di Dickson, entahlah ini sakura atau bukan, tapi cantik banget menurut saya
Untuk sementara, saya rasa cukup itu dulu yang akan saya tulis kali ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, sebentar lagi anak anak sarapan. Untuk seterusnya, seri kehidupan kami di di Dumaresq akan saya beri tag DumareqDaily, silahkan mampir lagi kalau penasaran tentang berapa allowance beasiswa AAI di sini dan bagaimana pengaturan kami untuk mencukupi kebutuhan, menu-menu andalan saya selama ini (tanpa harus bergantung pada fresh spices), tempat-tempat seru di Canberra, dst insyaAllah.

Last but not least, senantiasa doakan kami ya Mams-Paps.



Salam hangat dari Dumaresq St.





You Might Also Like

7 comments

  1. Seru ya, Mom, bisa tinggal bareng satu keluarga di negeri orang sekaligus jadi pengalaman berharga untuk dikenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mom Eva, salah satu karunia Allah yang sangat kami syukuri

      Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita kami, doakan kami ya 😊

      Hapus
  2. Waah, senang nemu blog Mom Athiah. Saya juga berencana ikut suami studi Mom, di USYD InsyaAllah awal 2019 besok. Mau dong diberi saran lebih banyak untuk persiapan keberangkatan kesana Mon 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, insyaAllah saya update terus ya apa apa saja yang menurut saya penting :)

      Salam kenal Mom Rahmi ~

      Hapus
  3. Salam kenal mom, terus tulis blognya ya mom. Rencananya, saya dan anak juga akan ikut temani suami lanjutkan studinya di Brisbane. Sangat membantu ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, welcome to the club Ma. InsyaAllah saya akan tulis beberapa postingan baru dalam minggu ini. See you on next post 😊

      Hapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)