Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Living Cost at Canberra

Gambar
Pembahasan tentang living cost , alias biaya hidup memang tidak akan terlepas apapun sumber keuanganmu, eh kecuali kalau kamu #crazyrichasian kali ya 😂  Apalagi jika hidup di negeri orang bersama anak-anak usia sekolah dan tidak bekerja, melainkan hanya mendapat jatah sesuai allowance dari pemberi beasiswa. Fyi, saya bercerita dari sisi bukan sebagai tukang bayar yak, jadi saya ga berani claim tingkat kevalidan dollar per dollarnya, melainkan hanya gambaran besar. Takutnya ada yang complain ye kan 🤣 Besaran Allowance Sebagaimana beasiswa yang meng- cover biaya hidup, pak suami juga mendapatkan allowance  dari pihak pemberi beasiswa, yaitu AAI. Besaran allowance  yang didapat adalah $ 2300/mo, yang dibayarkan per 2 minggu sebesar 50%. Oiya, di awal kedatangan di Canberra, setiap penerima beasiswa juga mendapatkan $5000 untuk mencari rumah tinggal (karena harus ada semacam jaminan) dan sisanya kami pakai untuk membeli asuransi kesehatan (wajib untuk setiap orang, jadi k

5 Tanda Ia Mulai Jatuh Cinta

Gambar
Sebagai pembuka, saya ingin bercerita bahwa kurang lebih 3 tahun lalu saya hampir patah hati saat mengetahui anak saya belum "secerewet" anak seusianya dan belum memenuhi milestone sesuai usianya.  Honestly,   waktu itu saya terlalu cepat mengenalkan layar gadget padanya. Dan waktu untuk menonton televisi pun cukup banyak dalam satu hari. Di tengah keretakan hati itu, saya sadar bahwa saya salah. Bahkan se'aman' apapun tampilan dalam layar, tetap saja tidak tepat untuk perkembangan bayi kita, Ma. Ada saatnya kita membolehkan ia menikmati hiburan di layar televisi/gadget itu pun dengan batasan yang ketat. Tapi bukan saat usianya masih kurang dari 2 tahun. Seperti saat saya mengenalkan layar gadget untuk Una. Tidak mau berlama-lama dengan kondisi waktu itu, saya putuskan untuk mendedikasikan waktu setiap malam sebelum tidur (dan waktu itu saya masih bekerja, baru sampai rumah pukul 8 malam) untuk mengajaknya membaca buku. Saya tidak ingat persisnya buku apa yang

Tinggal di Granny Flat? Why Not!

Gambar
Tak perlu mencari yang tak ada untuk merasa bahagia dalam kenyamanan. Sebab rasa nyaman itu kitalah peramunya  -Athiah Tempat tinggal adalah hal yang krusial bagi saya. Sehingga membayangkan harus pindah sementara dari rumah Depok ke sebuah rumah yang belum saya kenal di negeri seberang, terus terang saya cukup deg deg ser. Bakal betah ga ya di sana , begitu batin saya. Alhamdulillah,  per 11 Oktober kemarin, saya telah menjalani 1 bulan pertama di rumah sementara ini. Rumah ini banyak yang bilang rumah beruntung (padahal mah 100% karena ijin dan rizki minallah)  -tidak lain dan tidak bukan karena harga sewanya yang cukup di bawah rata-rata padahal letaknya cukup bagus. Tidak begitu jauh dari pusat kota dan kampus suami, serta dekat pula dengan akses publik di suburb. Maklum, harga sewa rumah di sini memang menggerus lebih dari setengah allowance  para penerima beasiswa. Jadi jika bisa menghemat dari sisi sewa rumah, bagi banyak orang benar-benar dianggap sangat beruntung. 

Cerita Menyapih : Sukses Setelah Gagal Dua Kali

Gambar
Tepat 1 minggu ini anak saya, Ali, lepas menyusu. No drama, no lies. But (still), with a little tears. Saya senang tapi sekaligus sedih. Sedalam ini ternyata rasa menyapih. Menyapih dengan cinta, begitulah saya ingin menutup kenyamanan menyusui. Bagi saya, menyusui bukan sekedar memberikan hak anak, tetapi menyembuhkan jiwa. Empat tahun lalu, saya belum berhasil menyusui anak pertama saya dan berakhir menjadi baby blues.  Seperti ingin memberikan hadiah untuk saya, Allah memberikan kesempatan untuk mengandung sang adik saat kakak masih berusia 1 tahun. Seluruh perasaan ibu yang buruk -syukur alhamdulillah- memudar sejalan dengan kebahagiaan menyusu sang adik. Hingga tibalah masanya untuk menyapihnya, untuk itu saya ingin menyapih dengan cinta. Bulan November nanti, insyaAllah Ali memasuki usianya yang ketiga. Is it too late to weaning ? Maybe.  Tapi saya hanya percaya bahwa tanpa ijin Allah tidak akan mungkin proses ini berhasil dengan mudah. Saya telah memulai proses menyap

Nyaman Terbang Selama 9 Jam Bersama Dua Balita dengan Air Asia

Gambar
Belum pernah mengajak dua ananda terbang sebelumnya dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam di udara membuat hati saya ketar-ketir. Bagaimana jika nanti anak-anak bosan? Bagaimana jika anak-anak tiba-tiba sakit? Bagaimana jika mereka takut naik pesawat dan enggan masuk?  Itulah yang ada dalam benak saya selama 2 bulan terakhir sebelum akhirnya harus kami jalani juga membawa dua anak balita (4,5 yo dan 3 yo) terbang selama 9 jam dengan perjalanan seluruhnya lebih dari 12 jam (sejak menuju bandara hingga tiba di rumah sementara kami di Dickson, Canberra).  Syukur alhamdulillah seluruh kekhawatiran itu tidak terjadi, dengan pertolongan dari Allah, persiapan yang cukup serta 'kesabaran' menghadapi anak-anak selama perjalanan, kami berhasil sampai di lokasi dengan selamat, nyaman dan gembira. Nah, saya yakin kekhawatiran seperti ini tidak hanya saya yang mengalami, sehingga saya memutuskan untuk membuat postingan ini,  sharing is caring :p Saya Pilih Air Asia