Cerita Menyapih : Sukses Setelah Gagal Dua Kali

  • 10/09/2018 06:35:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments



Tepat 1 minggu ini anak saya, Ali, lepas menyusu. No drama, no lies. But (still), with a little tears. Saya senang tapi sekaligus sedih. Sedalam ini ternyata rasa menyapih.
Menyapih dengan cinta, begitulah saya ingin menutup kenyamanan menyusui. Bagi saya, menyusui bukan sekedar memberikan hak anak, tetapi menyembuhkan jiwa. Empat tahun lalu, saya belum berhasil menyusui anak pertama saya dan berakhir menjadi baby blues. Seperti ingin memberikan hadiah untuk saya, Allah memberikan kesempatan untuk mengandung sang adik saat kakak masih berusia 1 tahun. Seluruh perasaan ibu yang buruk -syukur alhamdulillah- memudar sejalan dengan kebahagiaan menyusu sang adik. Hingga tibalah masanya untuk menyapihnya, untuk itu saya ingin menyapih dengan cinta.

Bulan November nanti, insyaAllah Ali memasuki usianya yang ketiga. Is it too late to weaning? Maybe. Tapi saya hanya percaya bahwa tanpa ijin Allah tidak akan mungkin proses ini berhasil dengan mudah. Saya telah memulai proses menyapih saat Ali masih berusia 18 bulan -ya, semuda itu. Saya katakan padanya bahwa saat usianya 2 tahun nanti, ia sudah tidak boleh menyusu lagi. Begitu seterusnya hingga usianya memasuki 2 tahun, ia sudah bisa berbicara. Setiap kali saya sampaikan bahwa ia sudah tidak boleh menyusu, dijawab dengan gelengan kepala (ibu yang menyusui pasti tau deh gimana muka anak anak pas lagi diminta berhenti nenen). 

Sampai akhirnya saat usianya 2,5 tahun saya mulai mengurangi frekuensi dan lamanya ia menyusu. Prinsip saya, saya tidak mau membohongi, misalnya dengan diolesi obat merah, atau diolesi sesuatu yang tidak enak. Kedua, saya ingin kami sama sama bahagia saat proses menyusu selesai. Dan itu pasti perlu waktu. Saat Ali sudah mulai bisa dikurangi frekuensi dan lamanya menyusu, akhirnya suatu hari saya benar-benar menolak menyusuinya. Drama? Ya. Ia menangis dan memohon mohon untuk menyusu. Tapi saya kekeuh tidak memberi. Alhamdulillah akhirnya ia tetap bisa tidur, namun setiap kali terbangun, ia mencari nennya. Hmm, untuk percobaan pertama ini akhirnya gagal karena suatu hari setelah proses menyapih itu ia jatuh sakit. Saya tidak tega. Karena selama ini jika sakit ia susah sekali minu obat. Menyusu-lah yang bisa membuatnya tenang saat demam tinggi. Akhirnya ia pun tetap menyusu bahkan setelah sakitnya sembuh. 

Kurang lebih 2 bulan kemudian, saya mencoba untuk menyapihnya lagi. Kali ini tidak terlalu susah meki awalnya juga menangis seperti saat pertama kali percobaan disapih. Haei-hari berikutnya ia berhasil tidur tanpa nenen dan mulai tidak terbangun di malam hari. Namun -entah mengapa- beberapa haei kemudia ia kembali jatuh sakit. Saat itu saya sedang LDM. Dan sang kakak juga berbarengan sakit. Akhirnya si adik saya tawari menyusu lagi. Gagal menyapih yang kedua. 

Saya belum berani untuk memulai menyapih lagi sampai akhirnya saya dikuatkan oleh sebuah tulisan yang saya baca di sebuah group belajar parenting Islami, bahwa menyapih adalah bagian dari pendidikan jiwa anak. Menyusu memang sangat baik untuk membangun kelekatan dengan anak, namun tetap ada batasnya, yaitu 2 tahun. Ahh, 2 bulan lagi ia sudah 3 tahun, begitu batin saya. Detik itu pula saya bertekad untuk menyapih. Sejujurnya, saya tidak langsung memutuskan menyapih, selama beberapa hari saya memohon kekuatan kepada Allah agar memudahkan proses menyapih kali ini. Semoga Ali bisa diajak bekerja sama, semoga ia tidak sakit setelah disapih (seperti sebelum-sebelumnya). Saya yakin, hanya dengan ijin pula-lah saya akan berhasil menyapih si adek.

Hingga akhirnya pada suatu siang, seperti biasa jika hendak tidur siang ia pasti ingin menyusu. Karena proses menyapih sudah sering saya sounding, bahkan sudah beberapa kali dicoba, maka saat itu saya langsung tegas menyampaikan bahwa mulai hari ini ia disapih. Seperti kalian bisa kira, adikpun menangis, memaksa untuk menyusu. Saya tetap pada pendirian saya dan menyampaikan dengan jelas bahwa ia sudah disapih. Di momen ini, saya sangat berterima kasih pada kakaknya karena ialah yang mencoba berbagai macam cara untuk membuat adik tenang dan tertawa lagi. MasyaAllah, barokallohufiha. Dan, siang itu adik berhasil tidur tanpa menyusu. Malamnya, ia pun sama sekali tidak mencari nenen kesayangan selama hampir  tahun ini. Malam-malam berikutnya, ia bisa tidur tanpa harus menyusu -juga tanpa harus digantikan dengan pengganti kenyamanan menyusu. Saatnya tidur, maka ia pun pergi tidur. Alhamdulillah. 

Akhirnya, anak lanangku berhasil disapih juga. Kali ini saya tidak mau sedih, karena sudah seharusnya saya bahagia. Tunai sudah tugas menyusuinya. Semoga setiap tetesan air susu yang mengalir ke tubuhnya, Allah ridhoi menjadi kebaikan dalam dirinya. Hmm, saya jelas bakal kangen menyusui bayi, hihi, tapi biarlah Allah yang menunjukkan kapan waktu yang tepat untuk menyusui lagi. 😹



You Might Also Like

4 comments

  1. Anak saya juga sebentar lagi akan menjalani masa disapih. Usianya 19 bulan sekarang. Saya berharap prosesnya semudah waktu menyapih kakaknya, tanpa harus tricky

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, setiap anak bisa beda tapi mom, lets just enjoy :)

      Hapus
  2. 6 bulan lg si adek disapih, waktu abangnya sih sukses cukup bilang "Abang udah gede, susunya buat dede ya" nah kalau adeknya saya bingung hehe masa mau bilang buat adek juga nant beneran ada adek hehe. Mau coba juga deh sounding dari sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, insyaAllah tetap ada jalannya Mom.
      Semangat :)

      Hapus