Nyaman Terbang Selama 9 Jam Bersama Dua Balita dengan Air Asia

  • 10/02/2018 01:05:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 26 Comments

Belum pernah mengajak dua ananda terbang sebelumnya dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam di udara membuat hati saya ketar-ketir. Bagaimana jika nanti anak-anak bosan? Bagaimana jika anak-anak tiba-tiba sakit? Bagaimana jika mereka takut naik pesawat dan enggan masuk? 



Itulah yang ada dalam benak saya selama 2 bulan terakhir sebelum akhirnya harus kami jalani juga membawa dua anak balita (4,5 yo dan 3 yo) terbang selama 9 jam dengan perjalanan seluruhnya lebih dari 12 jam (sejak menuju bandara hingga tiba di rumah sementara kami di Dickson, Canberra).  Syukur alhamdulillah seluruh kekhawatiran itu tidak terjadi, dengan pertolongan dari Allah, persiapan yang cukup serta 'kesabaran' menghadapi anak-anak selama perjalanan, kami berhasil sampai di lokasi dengan selamat, nyaman dan gembira. Nah, saya yakin kekhawatiran seperti ini tidak hanya saya yang mengalami, sehingga saya memutuskan untuk membuat postingan ini, sharing is caring :p

Saya Pilih Air Asia
Bukan sedang di-endorse, hihi, takutnya kalian kabur gegara baca judulnya :p Ini murni 100% karena budget. Kami terbang berempat which is ga akan murah kalau kami pilih penerbangan non -low carier, dan saat saya berselancar mencari tiket di Traveloka, Air Asia-lah yang memberikan tawaran paling murah. Seingat saya, kami mengeluarkan sekitar 9juta untuk tiket pesawat berempat dengan rute Bandara Soekarno Hatta - Kuala Lumpur International Airport - Sydney International Airport.


Air Asia dengan tawaran harga tiketnya yang murah memang tidak menyediakan hiburan dan makanan bila tidak memesan. Nah, disitulah uniknya kita bisa customize sesuai kebutuhan kita saja. Kayak saya -yang udah tua :p- ini, tidak ada hiburan di pesawat ya no worries, tapi kalau anak-anak saya, jelas masih membutuhkan. Karena itu saya harus cari cara bagaimana walaupun servis super minim ini (bila tidak menambah apa-apa) tetap dapat kami maksimalkan kenyamanan.

Cara Nyaman Naik Air Asia Bersama Dua Balita
1. Membeli Kursi
Nah, karena low carier, harga kursi tidak termasuk di dalam harga tiket normal. Jika kita menginginkan lokasi duduk yang berdekatan, maka kita perlu membeli kursi. Harga kursinya pun bervariasi, namun untuk kita yang membawa anak balita, hanya ada 1 lokasi (karena ada lokasi non bising) yang bisa kita pilih kursinya. Saya memilih kursi yang bisa berdekatan berempat. Yaitu masing-masing 2 kursi di kanan kiri lorong. Saya dengan adik, sedangkan Kakak dengan Abah-nya. Jika penerbangan kita harus transit, maka kita akan membeli kursi untuk dua kali perjalanan tersebut.

Kapan kita tidak perlu membeli kursi? Sebenarnya bisa saja siy membeli kursinya setelah mengecek lokasi duduk saat check in via web. Jika lokasinya dirasa sudah cukup nyaman, ya ga perlu beli kursi :p Oiya, kemarin untuk membeli kursi saya menambah 800ribu untuk kami berempat.

2. Memilih Penerbangan Malam
Alasannya? Jam biologis anak-anak untuk istirahat alias bobok πŸ˜› As simple as that! Kalau penerbangan siang dan waktunya lama, maka akan sangat besar kemungkinan anak-anak melek selama perjalanan. Dan bagi saya itu terlalu tricky. Dan benar, selama perjalanan kemarin anak-anak bobok. Saat jam 10 malam harus jalan cepat menuju penerbangan berikutnya, mereka kami bangunkan baik-baik, alhamdulillah no drama. Setelah masuk pesawat dalam perjalanan Kuala Lumpu - Sydney pun anak-anak langsung terlelap kembali.

3. Memilih Penerbangan dengan Waktu Transit Tidak Terlalu Lama
Selain memilih penerbangan malam, saya juga memilih penerbangan dengan transit yang tidak terlalu lama. Hal ini agar anak-anak juga tidak terlalu bosan menunggu penerbangan berikutnya, pengecualian jika Mom memilih untuk transit di Changi Airport, mungkin lama menunggu tidak terlalu bermasalah karena Changi terkenal dengan bandaranya yang mirip banget obyek wisata :p Banyak sekali hal-hal yang menarik untuk dilihat dan di-explore oleh anak-anak. Namun karena saya memilih untuk transit di KL, maka saya pilih waktu transit hanya 2 jam. Nah, ternyata pilihan ini juga tidak 100% tepat, karena qodarulloh pesawat dari CGK-KL mengalami keterlambatan selama 45 menit. Sehingga waktu saya untuk mengejar pesawat berikutnya tinggal 1 jam 15 menit yang baru saya sadari saat tiba di KL ternyata pesawat berikutnya sudah boarding. Kami berlarian sambil memicingkan mata mencari gate yang harus kami tuju. Syukur alhamdulillah lokasinya tidak 'sepanjang' gate-gate di Terminal 3 CGK, sehingga saya dan mas suami cukup berlarian kecil sambil mendorong trolli (dengan anak-anak di atasnya) menuju gate 8 di Bandara KL. 


Luggage carrier bisa sekalian untuk 'mengangkut' anak-anak kalau mereka cukup lelah padahal kita buru-buru, namun tetap perhatikan keselamatan ya
Next, ketika saya akan memilih penerbangan dengan transit, jelas saya akan menambah lama waktu transit paling tidak 4 jam untuk jaga-jaga jika pesawat yang pertama mengalami delay. 

4. (Bila Perlu) Membeli Makan di Pesawat
Sebagai konsekuensi memilih low carrier maka kami pun tidak akan mendapat makan meski melewati waktu sarapan πŸ˜…Oleh karena itu, kami memesan makanan untuk berjaga-jaga jika anak-anak terbangun dan kelaparan. Meski demikian, sebelum naik pesawat saya tetap pastikan perut mereka kenyang, Dan benar, ternyata yang makan akhirnya saya dan mas suami. but its okey, we need energy too. Maklum, kami sama sekali tidak membawa stroller, jadi dalam beberapa kesempatan anak-anak minta gendong atau butuh digendong ya harus sabar gendong πŸ˜‚

Saya sarankan untuk membeli makanan saat belum di pesawat karena harganya jelas beda bila beli online dengan on the spot. Selain itu, pilihan menunya pun masih bisa kita sesuaikan, tanpa harus takut kehabisan menu yang kita suka. 

Nah, itu beberapa tips untuk menambah kenyamanan karena memilih pesawat low carrier. Selain itu masih ada beberapa hal yang menurut saya amat penting untuk diperhatikan, apapun pilihan penerbangan yang Mom-Pop pilih. Karena menurut saya, perjalanan yang nyaman dan menyenangkan tentu akan memudahkan anak-anak untuk tetap semangat selama perjalanan bahkan mereka akan mengenangnya sebagai pengalaman membahagiakan sepanjang hidupnya. 

1. Bawalah Bawaan Secukupnya
Gambaran jumnlah bawaan kami
Karena kita bakal riweh banget kalau barang bawaan banyak pas di pemeriksaan imigrasi >,< Jadi pastikan kita memang membawa yang dibutuhkan saja ya. Kayak saya yang mau menetap cukup lama pun memilih untuk bener-bener selektif membawa barang. Apalagi jika hanya berlibur, saya rasa sangat mungkin untuk menyeleksi benar barang-barang yang hendak dibawa. 

Postingan ini bakal panjang banget jika saya sekalian share isi koper 😹😹 InsyaAllah saya share lain waktu. Sebagai gambaran, saya hanya membawa 2 bagpack (masing-masing dibawa oleh saya dan mas suami), 1 koper besar dan 1 koper kecil. Di mana seluruh barang bawaan yang kemungkinan diminta untuk di-declare saya satukan di koper kecil. Sedangkan koper besar hanya untuk pakaian dan beberapa benda lain yang tidak perlu kami declare kepada petugas. Oiya, mas suami bawa 1 lagi tas slempang kecil untuk barang dan dokumen berharga (paspor, tiket, visa). 

2. Persiapkan Aktivitas untuk Anak (Selama Menunggu dan di Pesawat)
Bagaimanapun bagi anak-anak pasti akan bosen selama perjalanan bila kita tidak menyediakan aktivitas menarik untuknya. Mungkin beberapa orang tua memilih untuk memberikan gadget, saya pun kadangkala masih menggunakan gadget -tetapi sebagai senjata pamungkas. Nah, senjata yang saya unggulkan adalah buku aktivitas (stiker) dengan tema yang anak-anak saya sukai dan mainan kesukaan mereka (masing-masing anak hanya membawa 1 buah mainan). Mom dan Pop tentu saja sangat mungkin untuk mengganti 'senjata' sesuai dengan karakter masing-masing anak, ada anak yang sukanya bercerita sepanjang perjalanan, ya its okey, tanggapi saja dengan antusias sehingga dia merasa senang. Ada pula anak yang senjatanya makanan, then bawalah makanan kesukaannya.Intinya jangan sampai anak-anak cranky hanya karena bosan menunggu.

3. Persiapkan Obat yang Dibutuhkan
Selain kebosanan, kemungkinan penghambat kenyamanan lain adalah sakit. Apalagi dengan perjalanan yang cukup lama, maka sangat dibutuhkan kondisi tubuh yang fit. Kemarin anak kedua saya juga sedang demam dan batuk, pagi sebelum berangkat bahkan kami masih periksa ke dokter untuk memastikan ia hanya terkena common cold dan aman untuk terbang dalam waktu lama. Ternyata alergi debunya kambuh, sehingga saya memutuskan untuk memberinya obat agar selama perjalanan kondisinya tidak bertambah buruk. Selain itu, saya juga mempersiapkan beberapa obat-obatan lain yang kira-kira diperlukan : parasetamol (jangan lupa thermometer), lip balm (bila bibir kering selama di pesawat), juga beberapa essential oil pilihan. 

Dan ternyata kepakai sekali essential oil Young Living yang saya bawa, terutama RC, lavender dan peppermint. Saat anak-anak mulai terlihat kurang nyaman dengan kondisi udara di pesawat, saya segera oles ketiganya. Alhamdulillah, hasilnya mereka pules bobok di kursi mereka masing-masing. 


4. Persiapkan Camilan dan Minum
Perut kenyang, hati senang. Begitu sebuah syair jenaka menyiratkan pentingnya agar kondisi perut senantiasa 'terjaga'. Apalagi anak-anak kan? Kita saja yang dewasa jadi cranky kalau kelaparan. Selain mempersiapkan makanan berat yang bisa dimakan di pesawat, ada baiknya juga membawa comfortable snack untuk berjaga apabila mereka pengen camilan. Dan tentu saja isi botol harus selalu penuh selama perjalanan. Baik di Terminal 3 maupun di terminal kedatangan di Sydney, tap water tersedia untuk memastikan bekal minum aman.

5. (Bila Perlu) Persiapkan Bantal Tidur dan Selimut/Jaket
Karena perjalanan duduk di kursi terus itu biasanya bikin pegel, dan saya bukan penumpang eksekutif yang bisa bobok cantik saat penerbangan, maka saya pastikan meski anak-anak bobok sambil duduk, mereka mendapatkan posisi paling nyaman. Akhirnya saya bawa deh bantal bobok, kebetulan saya tidak memilih selimut karena sudah mempersiapkan jaket cukup tebal sekalian persiapan saat tiba di Australia (bulan lalu -dan sampai sekarang- udara di sini masih berkisar dari 0-20 dercel). Pokoknya jangan sampai gegara leher pegel sama kedinginan terus jadi ga nyenya bobol, itu prinsip saya untuk penerbangan dalam waktu lama.

6. (Bila Perlu) Persiapkan Earmuff
Oiya, hampir terlupa niy sehubungan dengan mencegah telinga yang mendadak sakit karena perubahan tekanan udara, bila perlu, Mom dan Pop dapat pula mempersiapkan penutup telinga. Semakin besar usia anak, saya rasa semakin mudah untuk menerima ketidaknyamanan saat dalam penerbangan ini. Namun bila Momdan Pop terbang bersama bayi, ada baiknya tetap prepare for the worst. Kemarin saya cukup ketar-ketir apakah anak-anak bakal rewel saat pesawat mulai take off. Strategi kami adalah membuat anak sibuk (dengan mainan atau buku) sehingga ia tidak terlalu merasakan perubahan kondisi sekitar. Juga memberi mereka permen yang mudah dikunyah (bukan yang berisiko mengakibatkan tersedak seperti gummy candy atau permen yang keras). Alhamdulillah, anak-anak sama sekali tidak merasa ketakutan atau mengeluh sakit selama perjalanan kemarin.

7. Persiapkan Stock Sabar 
Nah! Ini nah-nya kudu tebel niy. Dalam perjalanan ga jarang bukan cuma anak-anak yang bikin kita khawatir. Untuk anak-anak tentu kita harus selalu sabar menghadapi whatever happen -entah tetiba nangis karena berantem sama sodaranya, pengen gendong padahal gembolan kita banyak, pengen bobok padahal lagi antri boarding- Sabar, sabar, sabar 😘 


Kalau kita enjoy selama perjalanan, insyaAllah begitu juga dengan anak-anak. Sebaliknya kalau sepanjang perjalanan kita ga menikmati, ngomel-ngomel, ya siap-siap terima saja konsekuensinya :p So, jauh-jauh hari selalu tanamkan dalam pikiran kita bahwa perjalanan akan lancar dan selama perjalanan berjanji untuk selalu tenang dan enjoy. 

Gimana, sudah mulai terbayangkan kah aneka ubo rampe untuk persiapan terbang lama dengan balita? InsyaAllah semua persiapan yang matang akan terbayar kok Mom-Pop, 😏Sebagai penutup, saya akan menyampaikan satu lagi hal yang tidak kalah penting dengan semua hal di atas, sampaikan tentang rencana perjalanan panjang tersebut kepada anak-anak sejak jauh0jauh hari. Kalau bahasanya Teh Okina Fitriani, briefing. 


Wajah anak-anak setelah menempuh penerbangan lebih dari 9 jam dan perjalanan darat selama lebih dari 3 jam
Sampaikan bahwa pada tanggal sekian, hari ini, kita akan melakukan perjalanan ke sebuah tempat bernama X. Untuk menuju ke sana kita akan menggunakan kendaraan ini, perjalanan akan berlangsung selama Y jam. Selama perjalanan kamu bisa melakukan A, B, C, dan D. Apabila kamu merasa kurang nyaman, Mama dan Papa telah mempersiapkan X,Y, dan Z. Begitu seterusnya sampai anak-anak memahami betul keseluruhan rangkaian perjalanan yang akan ditempuh. Berikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertanya apa saja dan berikan jawaban yang membuat mereka puas dan tidak lagi memiliki raasa penasaran atau kekhawatiran dalam benaknya. Anak-anak saya tidak menolak untuk menggunakan avety belt dan duduk tenang di kursinya karena saya sudah sampaikan apa kegunaannya. Karena mereka belum pernah terbang sama sekali sebelumnya, saya perlihatkan video-video bagaimana isi pesawat, bagaimana saat pesawat tinggal landas serta membelikan buku dan mainan bertema pesawat. Hal-hal tersebut saya rasa menjadi faktor pendukung cukup penting yang membuat anak-anak menikmati perjalanan kemarin. Bagaimana apabila anak-anak sudah biasa terbang? Briefing tetap penting agar mereka tidak grogi saat perjalanan dimulai. Karena mereka sudah paham mau kemana, mau apa, dengan apa, dst. 

Last but not least, jangan lupa berdoa agar perjalanan penting yang Mom dan Pop akan lakukan berjalan lancar sesuai dengan rencana ya 😊


You Might Also Like

26 comments

  1. saya pernah melakukan perjalan berdua saja dengan balita walaupun perjalan singkat hanya 2 jam dan walaupun sudah minimalis bawaannya, tapi lumayan juga rempongnya, ..apalagi 9 jam dengan 2 balita, waduhh..perlu strategis khusus seperti di atas ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. He em Mom, karena perjalanan panjang dan ga mungkin berhenti sementara, jadi harus lebih matang persiapannya.

      Hapus
  2. Mba Athiah, saya penasaran dengan isi koper hahaha. Yg saya dengar, lebih baik bawa rice cooker dari Indonesia krn lebih awet listriknya ya? (Salah satunya). #naluriemak2

    Mba, anak saya nanti berangkat kira2 sudah usia 2 th. Mudah2an bisa anteng, karena selama ini naik pesawat bisa jumpalitan. Perjalanan 1-2 jam aja, saya keteteran sampe sakit kepala πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Oh ya, Mbak, berati mbak web check in ya? Aku klo check in di bandara pernah tuh gak dapet yang sebaris. Moso pisah2 sama suami kan ga enak. Tapi untung bisa dicari lg seat yg sebaris meskipun paling belakang fiuhhh.

    Mbakkk, bahas isi koper yaaa pleaseee hehee. Thank you

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga bawa alat elektronik apa-apa saya Mom, kemarin mas suami berangkat duluan bawa setrika, dimari ga nyetrika mah gakpapa, akhirnya dibawa pulang lagi (pas menjemput saya dan anak-anak).

      Kalau soal lebih hemat, saya ga pernah membandingkan, jadi Mom mungkin bisa cek watt merk di Indonesia dengan kemungkinan merk yang akan Mom beli di Ausie.

      Saya kemarin sengaja beli kursi Mba, karena kalau Air Asia harga tiket ga termasuk kursi (alias ga bisa bebas milih tempat duduk), jadi saya putuskan untuk membeli agar bisa sebaris. Sesuai tips saya di atas, bisa cek dulu ketika web check in apakah sudah oke atau belum kursinya, kalau ternyata lokasinya masih berantakan, barulah beli kursi.

      Koper ya? InsyaAllah ya~

      Hapus
  3. Asik dan beruntungnya . anak tidak rewel dan perjalanan banyak tips yang di sampaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mpo :)

      Terlalu ribet ga siy tips-tipsnya :p Semoga ga ribet yaa, hehehe

      Hapus
  4. Pengalaman seruuu ...
    Aku jadi ikut deg2an harus ngejar next pesawat, mba. Soalnya aku juga pernah ngalamin terbang berdua ama anak masih 3 bulan tapi trus diinfoin kalau pesawat mau boarding. Jadi panik. Btw, memang bener deh kalau sebaiknya pilih penerbangan malam kalau sama anak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh, apalagi Mak Lida anaknya masih 3 bulan, pasti lebih "seru" lagi mau boardingnya. Tos, untuk penerbangan malam :p

      Hapus
  5. Harus banyak persiapan dan strateginya kalau naik pesawat sama anak-anak, ya. Apalagi kalau perjalanan panjang begitu. Saya baru balik dari MAlaysia. Saat keberangkatan dan pulang, selalu ada aja anak kecil yang menangis tanpa henti. Mungkin merasa kurang nyaman, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mba, biasanya pas mau take off sama pas mau landing memang telinga kerasa ga nyaman >,<

      Hapus
  6. Alhamdulillah teratasi ya mba.. dapat ilmu baru nih kmrn baru naik kereta n bus aja usia 2 bln.. itupan aku tempelin ASI trus jd nyaman babynya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, kalau masih ngASI keknya everything gonna be okay Mak, ASI is THE BEST!

      Hapus
  7. Ya ampyuun, super duper lengkap ini mah, inspired. Aku loh ga kepikiran bawa essensial oil, ternyata worth it to bring y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya kemana mana jangan lupaa oilll Mak Fika :p

      Hapus
  8. Masya Allah..keren ceritanya

    Jadi ingat tahun 2009 sama suami + 2 anak pindahan dari Jakarta ke New Orleans, Amerika. Si kakak 4 tahun si Adik 2 bulan dan saya pasca caesar, ngikut suami sekolah ke sana..

    36 jam perjalanan (plus transitnya)...Dan Alhamdulillah meski diwarnai screening imigrasi yang penuh drama di Houston, tapi bisa sampai dengan lancar jaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akk imigrasi selalu bikin deg degan ya Mak, kemarin kamipun begitu, sampai-sampai masih ada susu kotak pun kami tinggal aja deh di pesawat, daripada ribet kena imigrasi >,<

      Hapus
  9. Keren mba, paling challenging deh bawa balita terbang, apalagi 2 hehehe.
    Perbanyak stok sabar kayaknya prioritas utama :D

    BalasHapus
  10. Huaa aku jadi ngebayangin sendiri mbaaa. Tapi sungguh pengalaman tak terlupakan banget yaa. Bekal buat aku juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat ga terlupakan Mba Visya, terutama bagian ngejar ngejar pesawatnya >,<

      Hapus
  11. ngajak anak ikut penerbangan akan jadi hal menyenangkan kalo kita persiapkan dengan matang ya Mbak :) bener juga tuh kalo kita harus banyak2in stok sabar :D

    BalasHapus
  12. saya pernah dua kali bawa anak sendiri alias tanpa suami terbang
    pertama umur dia 2 tahun
    sedang aktif aktifnya
    lari larian di bandara
    pake mainkan troli jadi mobil mobilan
    capek pake banget hahaha
    yg kedua waktu dia umur 6 thn
    udah mulai anteng tapi banyak minta belanja hahaha
    pantang liat toko di bandara penginnya dia mampir

    BalasHapus
    Balasan
    1. belanja oh belanja

      Mak Ina stock uang kalau gitu jangan lupa ya, hihihihi

      Hapus
  13. Pernah sendirian bawa 2 unyil terbang, hahahaa ampun deh serunya, tapi kalau gak mendesak banget aku pilih pergi sama bapaknya aja :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, aku juga ini sama Bapaknya kok Mak,

      sendiri? Ga kuku saya.

      Hapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)