Tinggal di Granny Flat? Why Not!

  • 10/14/2018 11:22:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 5 Comments

Tak perlu mencari yang tak ada untuk merasa bahagia dalam kenyamanan. Sebab rasa nyaman itu kitalah peramunya  -Athiah
Tempat tinggal adalah hal yang krusial bagi saya. Sehingga membayangkan harus pindah sementara dari rumah Depok ke sebuah rumah yang belum saya kenal di negeri seberang, terus terang saya cukup deg deg ser. Bakal betah ga ya di sana, begitu batin saya.


Alhamdulillah, per 11 Oktober kemarin, saya telah menjalani 1 bulan pertama di rumah sementara ini. Rumah ini banyak yang bilang rumah beruntung (padahal mah 100% karena ijin dan rizki minallah) -tidak lain dan tidak bukan karena harga sewanya yang cukup di bawah rata-rata padahal letaknya cukup bagus. Tidak begitu jauh dari pusat kota dan kampus suami, serta dekat pula dengan akses publik di suburb. Maklum, harga sewa rumah di sini memang menggerus lebih dari setengah allowance para penerima beasiswa. Jadi jika bisa menghemat dari sisi sewa rumah, bagi banyak orang benar-benar dianggap sangat beruntung. 

Saya sendiri tidak bertindak sebagai subjek pencari, hehe, datang ya tinggal menempati. Jadi memang tidak memiliki pilihan untuk membandingkan antara satu rumah dengan rumah lain. Mendengar cerita dari beberapa orang bahwa tidak mudah untuk mencari rumah sewa saja sudah bikin nyut-nyutan, apalagi bertanggungjawab mencari ya kan? Alhamdulillah Allah mudahkan untuk bertemu rumah ini. Setelah sebelumnya Mas pernah survey rumah yang menurut beliau kurang representatif, padahal harga sewanya hampir sama dengan rumah sekarang.

Jadi dalam postingan ini saya tidak akan membandingkan secara mendetail kenyamanan antar jenis hunian ya (selain granny flat, ada juga flat biasa -semacam apartemen kalau di Indonesia, atau shared house -1 rumah dengan beberapa kamar disewa bersama orang lain). Nah, saya tutup deh epilognya. Langsung saja saya bahas ya 😉

Apa Sih Granny Flat?
Namanya terkesan aneh ga siy? Granny identik dengan nenek nenek 😂 Jadi, kenapa disebut granny flat karena jenis rumah kayak gini banyak dibuat oleh keluarga yang pengen tinggal sama orang tuanya tetapi ga bener bener satu rumah. Bahkan sangat dimungkinkan nomor rumahnya berbeda walaupun satu pagar 😀 Seperti granny flat yang saya tinggali. Nah, ketika ortu yang menempati rumah tersebut sudah meninggal atau mungkin pindah ke rumah anaknya yang lain, banyak granny flat yang akhirnya disewakan. Sebagai gambaran, berikut gambaran granny flat saya ya.

Jendela kiri : kamar tidur, jendela kanan : dapur plus ruang belajar paksu, persis di depan pintu masuk : toilet dan kamar mandi, dan masih ada 1 ruang di ujung kanan dari pintu saya jadikan sebagai tempat baju kotor, koper, dan barang tidak terpakai lain


Granny flat didesain agar yang meninggali memiliki dapur sendiri, toilet sendiri, pokoknya cukup privasilah menurut saya, meskipun rumahnya menyatu dengan anak/keluarganya. Sebagai pembatas dengan rumah utama, biasanya cukup pintu terkunci/pembatas tidak permanen. Di granny flat saya yang barengan sama landlord adalah : tempat jemur baju, mesin pengering, parkiran, dan backyard/taman belakang.

Harga Sewa Dan Fasilitas Granny Flat
Rate sewa rumah/apartemen/shared house di Aussie dihitung per week. Ratenya macam macam, tergantung lokasi, fasilitas (wifi, listrik, air, furniture), dan luas rumah.  Rata rata di angka 300-400 per week untuk yang standar fasilitas dan lokasinya cukup dekat dengan pusat kota. Fasilitas granny flat saya tidak termasuk dengan listrik, namun sudah termasuk wifi dan air. Oiya, untuk furniture juga kami ngelungsur seharga 200 $ (mulai dari kasur, alat masak, kulkas, sepeda, tv, bufet, alhamdulillah) dari penghuni sebelumnya yang juga berasal dari Indonesia. Saya bersyukur banget bisa ngelungsur, ga membayangkan harus membeli dulu aneka panci, penggorengan, piring, gelas, padahal anak-anak udah laper, 😳

Fyi, pemerintah Australia memiliki minimum requirement rumah tinggal sesuai dengan jumlah keluarga yang akan menempati. Misalnya, saya keluarga dengan 2 anak, maka minimum harus memiliki 2 kamar. Jadi tidak bisa sembarangan pilih rumah, hehe, beda sama di Depok ya, 1 kontrakan kecil sah sah saja mau diisi berapa orang 😂 Sok aja semau yang sewa. Nah, di sini kita tidak bisa asal pilih murah, cek juga eligibility-nya apakah sudah memenuhi kriteria aturan pemerintah atau belum.

Enaknya Tinggal di Granny Flat
Selama sebulan tinggal di granny flat, saya merasa tidak ada masalah berarti alhamdulilah. Tidak lain dan tidak bukan, salah satunya karena landlord saya orangnya superbaik hati. Selalu berusaha memastikan bahwa kami nyaman tinggal di rumah yang mereka sewakan. Selain itu, saya merasa gaya hidup kami tidak terlalu berbeda, jadi saya tidak terlalu merasakan ada culture shock. Saking baiknya mereka, saya jadi kadang ga enak kalau kalau salah sikap (misal, lupa beresin mainan yang ada di backyard, garing atau membicarakan sensitive case pas ngobrol, etc etc). Namun dengan berjalannya waktu, sepertinya saya saja yang terlalu banyak mikir takut begini takut begitu, karena pada dasarnya mereka bener bener melayani banget.

FYI : hampir setiap rumah di Canberra membuat playground seperti ini untuk anak-anak mereka di backyard masing-masing

Pemandangan di backyard granny flat
Tinggal di granny flat sebenernya hampir kayak punya rumah sendiri di sini. Kalau di flat yang berupa apartemen, memang siy banyak temen (kalau seneng bersosialisasi), tapi artinya juga harus siap dengan berbagai ketidaksamaan dengan keluarga lain yang 1 apartemen. Selain itu ada kemungkinan tinggal bukan di lantai terbawah, sehingga harus lebih hati-hati saat anak-anak berlarian di rumah (di sini jam 7 sore udah pada tidur dan bangunnya sekitar jam 8 pagi) jangan sampai mengganggu para tetangga. Apalagi di shared house, hampir hampir kita ga ada privasi kecuali di kamar, jadi harus lebih flexible dan tenggang rasa dalam banyak hal dengan teman serumah.

Contoh salah satu tipe apartemen/flat
Tinggal di granny house juga artinya harus menjaga hubungan baik dengan landlord. Karena sama sekali tidak enak jika waktu sewa masih lama namun tidak cocok dengan pemilik rumah yang mungkin setiap hari akan berinteraksi. Menurut saya, selama kita menjaga adab adab bertetangga sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, insyaAllah everything gonna be okay. Apalagi kalau pinter masak kan, bisa sesekali membagi makanan khas Indonesia, asyik banget tuh 😁 (sayang bukan saya) Kebetulan anak anak saya dan landlord seumuran, jadi kita tidak terlalu susah untuk membuka obrolan saat bertemu. Kalau lagi malas ngobrol panjang lebar (padahal mah karena keterbatasan bahasa saya 🤣), minimal say hallo dan tanya kabar. Wis, itu saja sudah lebih dari cukup. Sangat jauh lebih sopan dibanding cuma senyum aja -apalagi melengos kayak angkot ngejar setoran 😑😆

Nah, sayang ada 1 kekurangannya niy, jumlah granny flat itu ga banyak dibandingkan jumlah apartemen atau shared house. Jadi memang tidak bisa selalu diharapkan keberadaanya. Beberapa situs menyediakan rumah-rumah yang siap disewa diantaranya Gumtree, Allhomes, dan tentu saja jaringan orang Indonesia (biasanya di group-group WA banyak info rumah yang siap sewa dari teman Indonesia yang back for good).

Prinsipnya,  tinggal dimanapun yang penting hati kudu legowo dan bersyukur, insyaAllah rumah itu juga bakal kasih kenyamanan buat kita (jangan lupa juga dilapangkan dengan bacaan Al Quran setiap hari). Sekian #DumaresqDaily kali ini. Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya ya 😉




You Might Also Like

5 comments

  1. Mupeng sama backyard nya. Anak2 pasti seneng ya seakan punya playground sendiri. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya Ma. Entah kenapa semacam jadi kebiasaan setiap orang tua di sini untuk memberikan fasilitas main ke anak anak mereka.

      Hapus
  2. Kyaaa, itu playground di halaman belakangnya sungguh kebahagiaan yang hakiki. Alhamdulillah ya mbak, semoga suamiku nanti bisa segera mentusul untuk kuliah di ostrali, aamin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu yang ga bakal ada di model rumah sewa lain Mba Ajeng,

      InsyaAllah lain waktu giliran Mba Ajeng dan keluarga :)

      Hapus
  3. Sebelum buka tulisan ini sempat bertanya-tanya "grany house" itu apa ya? Hehe... Baru tahu maksudnya.
    Tinggal dimana pun memang harus melapangkan hati ya mbak, apalagi kalau jauh dari tanah air. Barakallah untuk kehidupan mbak dan keluarga di sana ya. Terima kasih sharingnya. :)

    BalasHapus