Cukup Kamu Saja yang Tau, Apa Adanya Diriku Setelah Menjadi Seorang Ibu

  • 11/25/2018 02:39:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 4 Comments

Bila ada hal yang akan selalu kusyukuri sampai kapanpun itu, maka itu adalah momen-momen ketika aku menjadi seorang Ibu. Dua bulan pasca menikah, Allah mempercayai kami untuk mengandung anak yang pertama. Kandungan itu kemudian harus berakhir karena Allah menakdirkanku mengalami hamil di luar kandungan

Malam-malam panjang memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran serta bayang bayang akan sulit memiliki keturunan pun kualami cukup lama. Tapi Allah -lah Sang Maha Berkehendak, Maha Kuasa, Maha Kasih kepada keluarga kami. Meski saat ini aku hanya memiliki sebelah tuba, Allah meriskikan kami dua orang anak.Semoga Allah melindungi dan menyayangi mereka.



Namun bukan berarti kehidupan menjadi 100% sempurna, aku mengalami masa naik turun, bahkan pernah mengalami depresi. Lalu aku mulai menyadari bahwa semuanya telah mengubah diriku. Inilah aku apa adanya setelah 5 tahun menjadi seorang ibu.


Aku adalah seorang Ibu dari dua anak yang jarak lahirnya dekat dan pernah merasa sangat khawatir

Kakak berusia 21 bulan saat adiknya dilahirkan. Bisa dibilang sangat muda untuk menjadi seorang Kakak. Tetapi aku dan paksuami yakin bahwa tidak pernah ada yang salah dengan rencana Allah. Sempat khawatir apakah mereka akan baik-baik dengan jarak kelahiran sedekat itu, hari ini kami bersyukur karena kehadiran adik menjadi sarana perkembangan karakter mereka berdua.

Kakak -masyaAllah- tidak kami kira sangat mencintai "peran"nya sebagai Kakak, begitu juga adik, sangat menikmati "posisi"nya sebagai seorang adik. Lewat tulisan ini aku juga pengen memberi energi positif dan doa untuk siapapun ibu di luar sana yang sedang mengandung anak dengan jarak dekat.

Bila ada ibu atau siapapun di luaran sana menambahi kekhawatiranmu dengan aneka asumsi tak berdasar : "ga KB ya", "kurang hiburan niy pasti, hamil deh", "ya ampun, bukannya baru kemarin ya kairan?", Wis! Biarkan saja, ga perlu ditenggelamkan, cukup didoakan supaya dia tidak ditenggelamkan oleh ibu lain 😈 Toh mereka hanya bisa bicara saja, tidak membantu saat anak-anak bergantian minta perhatian. Atau saat anak-anak sama sama sakit. Jika Allah berikan, maka itu artinya kitapun akan diberi kemampuan untuk mengasuhnya. Fighting!

Aku adalah ibu yang pernah gagal menyusui, namun berharap ibu lain berhasil

Tidak bisa menyusui anakku sama sekali belum pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam bayanganku, selama aku mau, maka aku pasti bisa menyusui. Namun takdir berkata tidak, So, please dont take it for granted Mama. Aku mengalami sendiri bagaimana rasanya diolok-olok oleh orang lain yang ASI-nya lebih banyak sedangkan ASI-ku tak seberapa. Aku hanya diam meski hatiku menangis. Tidak akan terbayangkan oleh siapapun kecuali yang benar-benar pernah mengalami. 

Meski demikian, aku tidak ingin ibu lain mengalami hal yang sama. Bila aku memiliki kesempatan untuk bercerita bahwa menyusui bukanlah sebuah keniscayaan -yang mudah bagi setiap ibu. No! We should learn. Ada siy yang tidak belajar secara khusus namun tetap sukses. Tetapi ada banyak yang bahkan sudah belajar namun gagal.

Syukur alhamdulillah, pada kesempatan kedua, Allah meridhoiku untuk menyusui hingga anakku berusia 3 tahun. Jangan putus harapan saat gagal di kesempatan pertama, semoga Allah mudahkan pada kesempatan berikutnya.

Aku adalah ibu bekerja yang pernah terpikir untuk resign 

Menjadi ibu sambil tetap bekerja 12 jam per hari benar-benar bukan hal yang mudah. Berulangkali mengalami masa-masa ingin di rumah saja, berulangkali pula dikuatkan untuk tetap bekerja dengan berbagai alasan. Tidak mudah memang. Apalagi bila belum berhasil membangun support system. Rasa-rasanya seperti apa yang ditulis-tulis di sosial media : kamu ibu durhaka 😳 Na'udzubillah. 

Tapi bukankah setiap pilihan itu Allah nilai niatnya? Iya, tetapi tetap saja kamu bukan ibu yang sempurna. Hmm, hmm, ya memang bukan siy. Terus harus bagaimana? Akhirnya aku memilih untuk bertanggung jawab dan profesional atas setiap pilihan. Memilih bekerja di luar rumah berarti harus mengelola segalanya dengan baik, sesuai porsi. 

Sekarang aku sedang menikmati peran stay at home mom dan tidak pernah terpikir untuk menjelekkan ibu lain yang memilih tetap bekerja. Ada banyak hal yang tidak pernah kita tau sebabnya, alasannya, mengapa begini, mengapa begitu, beri saran hanya bila ia meminta. Selebihnya, fokusku ada pada jalanku sendiri.

Aku adalah Ibu yang kurang suka memasak,namun berpikir bahwa aku bisa demi anak-anak

Nil. Sama sekali tidak pinter masak aku πŸ™…Bisanya yang superrr normalll, telor ceplok, telur dadar, telur kecap, telur rebus, hahahaha. Semoga anakku ga mabok telur ya Allah. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa peran ibu menjadi lebih greget bila aku MAU MEMASAK. Bukan pinter ya, pinter mah kejauhan buatku. Mau saja itu sudah lebih dari cukup. Sama kayak hal lain, kalau sudah dilakukan selama 10.000 jam insyaAllah bakal mahir, dalam bidang apapun itu. Termasuk memasak. Jadi, yaa, paling ga kalau aku memasak 3 jam per hari, dalam ((10 tahun)) aku akan ahli memasak nasi goreeengg, yay!

You too! You should believe that you can!

Aku adalah ibu yang diam-diam makan cokelat saat anak-anakku tidur 😝

Nyimpen coklat di mana Buu? Kalau saya di laci yang agak tinggi, yang anak anak ga bisa ambil ((HAHAHAHAHA)) . Waras itu very crucial. Bener kalau kewarasan itu fondasinya jiwa. Tapi kadang jiwa juga butuh confectionary, KITKAT mana KITKAT! 

Aku yakin kalianpun punya hal-hal kecil  sederhana tetapi bikin bahagia seketika. Ya segelas kopi, ya komedi receh, ya lipensetip kesayangan, its really normal. Selama masih dalam batas kewajaran, why not. Setiap ibu butuh energi lebih. Dan energi bisa datang dari hal-hal di dalam rumah. Biarlah ibu lain terbang ke Europ, kita cukup terbang ke alam mimpi ((yang bobok duluan padahal anak masih melong-melong wajib ngangguk :p)).

Time flies, tidak terasa hampir 5 tahun menjalani lika-liku keseharian sebagai ibu. Aku bersyukur Allah memberikan kesempatan langka ini. Bahagia bisa menjadi satu di antara mereka yang membagi lengannya untuk menggendong anak-anak. membagi jarinya untuk menceboki anak-anak, membagi mulutnya untuk mengunyah kacang anak-anak, juga membagi suaranya untuk melantunkan lagu-lagu kesayangan anak-anak.

Semoga Allah senantiasa ridho.


You Might Also Like

4 comments

  1. Saya suka sedih kalo ada sesama perempuan yang suka bandingin kondisinya sama kondisi kita :( lahiran sesar dikomentarin, belum hamil dikomentarin, asi vs sufor dikomentarin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mba, sometime, its really hurt. Tapi kalau kayak gitu, lama lama mereka yang kasihan, soalnya untuk menjadi bahagia dia perlu membuat orang lain sedih 😣

      Hapus
  2. kayaknya jadi ibu itu rawan bullyian ya mbak. begini salah, begitu salah. pukpuk mbak. semangaaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rawaann, tapi lama kelamaan dibawa woles saja Mba April >,< *pukpuk

      Jangan jadi takut jadi ibu, on the top of that, bisa jadi ibu itu bahagia masyaAllah :)

      Hapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)