Pengalaman Depresi Pasca Melahirkan : I am a Mom and I am just a Human

  • 11/14/2018 07:55:00 AM
  • By Athiah Listyowati
  • 5 Comments

There are a lot of things that make you feel guilt after being mom. Still, dont hold so hard on those thing. Let give ourself a room to make a mistake, forgive yourself and move forward


Aku kira waktu itu aku berlebihan. "Hanya" gagal menyusui saja bisa membuat duniaku jungkir balik. Makan tidak enak. Susah tidur. Sign out dari semua sosial media. Merasa tidak becus menjadi ibu. Tidak bahagia. Sering menangis. Dan yang paling seram : merasa jauh dari anakku sendiri. Tapi itulah yang kurasakan. Berbulan-bulan pasca melahirkan. Rasanya ada yang tidak benar dengan semua ini. Tapi bukankah wajar memiliki penyesalan mendalam serta rasa marah kepada diri sendiri karena gagal menyusui? 

Cerita tentang kegagalan menyusui adalah cerita yang akan selalu aku kenang. Waktu itu yang selalu terngiang adalah "If just I could .." dan "If i just knew before ...". Tetapi realita tidak dapat diubah. Entah karena kekurangtelatenanku, ketidakberdayaanku serta ketidaktauanku tentang pentingnya mempersiapkan diri lebih agar sukses menyusui -yang jelas akhirnya kuterima sebagai garis dari Allah. Bahwa : aku mau tidak mau harus mengalaminya. Bahwa aku, di kesempatan pertamaku menjadi seorang Ibu, diberi "ujian" untuk menerima bahwa aku tidak seideal apa yang kuharapkan sebagai seorang ibu. Bahwa aku manusia biasa yang bisa salah. Bahwa meski aku seorang Ibu, aku sangat mungkin terjatuh. 

Tapi tentu saja semua itu bukan semudah aku menulisnya sekarang. Dulu, saat aku belum bisa menerima bahwa aku tidak bisa menyusui dengan sempurna, aku dihantui banyak ketakutan. Mulai dari risiko bonding yang buruk dengan anakku, risiko penyakit anak yang lebih banyak dibandingkan mereka yang mengasup ASI, juga ketakutan-ketakutan akan judgment orang lain atas kapabilitas diriku sebagai ibu. Sejujurnya ; sama sekali tidak mudah. 

Aku masih berusaha menolak realita dan berharap suatu hari anakku mau minum ASI langsung dariku. Namun bukannya itu baik untukku dan dia, malah suasana semakin keruh. Dia terus menangis berteriak setiap kali kutawari menyusu, dan aku pun semakin merasa tertolak. Sampai akhirnya, setelah hampir 5 bulan berlalu tanpa ada perubahan positif, kuputuskan untuk menerima realita apa adanya. Bahwa, kali ini aku gagal menyusui. Aku terima konsekuensi dari kurangnya kesiapan melahirkan dan menyusui sebagai sebuah pembelajaran untukku di masa datang. Aku tidak mungkin terus menerus larut dalam buaian "seandainya" dan merutuki kebodohan namun berimbas pada anakku. Ya, anakku memang butuh ASI, dan aku sudah berusaha memberikan ASI perah untuknya selama 5 bulan pertama kehidupannya meski tidak sempurna, tetapi bukankah ia juga membutuhkan kasih sayangku yang utuh ? Bukankah ia merindukan senyum yang hangat dari sesosok ibu yang tidak digelayuti rasa bersalah sepanjang kehidupannya ? Nutrisi untuknya bisa kupilihkan yang terbaik setelah ASI, tetapi kebahagiaanku mempengaruhi kondisi psikologisnya, penerimaanku atas kehadirannya adalah cikal bakal kesempurnaan mentalnya. Bismillah, inilah aku ibu yang anaknya full minum susu formula.

Setelah hatiku menerima realita yang ada, barulah perasaan tidak berguna, perasaan tidak bernilai, bayangan kegagalan sebagai ibu, sedikit demi sedikit kian sirna dan berubah menjadi semangat untuk mensyukuri apa yang ada serta berusaha untuk memperbaiki kesalahan (bila kelak Allah memberikan kesempatan kedua, ketiga, dst). 

Aku bersyukur sekali karena Allah memberikan kesembuhan dari depresi pasca melahirkan (kurang lebih kualami selama 5 bulan pasca melahirkan) tidak lama. Tidak sampai harus theraphy khusus dan tidak berlanjut hingga kini. Selain penerimaan atas realita dan mengakui kesalahan sendiri, memaafkan diri sendiri menurutku menjadi salah satu kunci untuk segera lepas dari perasaan bersalah dan tak berdaya. Selain itu, tentu saja kita harus percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik Perencana. Kita boleh mengkhawatirkan ini dan itu, tetapi Allah selalu punya rahasia dibalik setiap peristiwa dalam hidup kita. Tidak kita ketahui sekarang, bahkan mungkin sampai akhir hayat kita. Tugas kita hanyalah ikhtiar yang terbaik, ikhlas menerima segala hasilnya. Keikhlasan itulah yang akan membantu kita untuk bangkit.



Untuk meningkatkan rasa percaya diriku bahwa aku masih bisa melanjutkan kehidupan sebagai ibu meski gagal menyusui, aku menyibukkan diri dengan menekuni produksi gamis dengan merkku sendiri. Alhamdulillah, semenjak itu, rasa percaya diriku mulai membaik, aku bahkan mulai bisa menceritakan kegagalanku untuk dijadikan pelajaran oleh orang lain. Dan sepenuhnya sembuh setelah Allah meridhoiku untuk sukses menyusui anak kedua. 

Hari ini aku memilih untuk menuliskan pengalamanku di sini karena aku berharap bila ada ibu di seberang sana, yang dengan sengaja atau tidak membaca postingan ini, percayalah bahwa post partum depresion dapat disembuhkan. Jangan menunggu waktu lebih lama karena tidak semua depresi akan hilang dengan sendirinya. Dan jangan menunggu lebih lama lagi hingga dikhawatirkan level depresinya sudah lebih parah (ingin bunuh diri, ingin menyakiti anak). Ada beberapa hal yang aku baca di situs Mayo Clinic terkait hal ini. Baby blues levelnya lebih rendah dibanding post partum depresion, akan berangsur menghilang setelah 1-2 minggu pasca melahirkan. Untuk mempermudah theraphy dan mencegah baby blues, disarankan untuk :
  • perbanyak istirahat sebisa mungkin pasca melahirkan, beri waktu kurang lebih 1 minggu pasca melahirkan untuk orang non keluarga boleh menjenguk
  • carilah dan terimalah bantuan dari keluarga/tetangga/teman (mengurus rumah/bayi)
  • jangan menutup diri, bukalah komunikasi dengan orang-orang yang Mom nyaman dengannya
  • beri waktu khusus untuk merawat diri (yoga post partum atau sekedar exercise ringan, menikmati camilan kesukaan, menonton video lucu atau bahkan sekedar mandi dengan essential oil yang menyamankan)
  • avoid toxic people 
  • tips tambahan dari saya bagi Mom yang Muslim, tetap rutin membaca dzikir pagi petangmeski sedang nifas
Nah, bila perasaan gelisah, susah fokus, susah tidur, tidak ada selera makan, sering berdebar, bad mood, bahkan kurang merasa dekat dengan bayi muncul lebih dari 30 hari pasca melahirkan, sangat mungkin itu adalah tanda-tanda post partum depression. No worries, PPD bukan kesalahan siapapun. Its common happen. Aku sendiri tidak sampai harus bertemu therapis/psikolog maupun mengasup obat-obatan pendamping, namun sangat mungkin bila tegak diagnosa PPD, treatmen-nya adalah kedua hal tersebut tergantung tingkat keparahan depresinya. Bila memang perlu dibantu oleh paramedis, pastikan untuk mengikuti treatment hingga tuntas. Termasuk bila disarankan untuk minum obat pendamping (bila menyusui, jangan lupa untuk memastikan keamanan kandugan obat untuk bayi) sesuai periode yang dianjurkan (biasanya 6 bulan sd 1 tahun).

Bagaimana diagnosa dilakukan? 
Dokter akan melakukan tata laksana berupa wawancara (atau beberapa pasin lebih nyaman mengisi lembar kuesioner), bila perlu juga diambil uji thyroid (depresi berpengaruh pada penurunan fungsi thyroid). Bila berdasarkan pengujian tersebut hasilnya menunjukkan adanya depresi, barulah dokter akan memberikan treatment yang sesuai. By the way, sekarang juga bisa loh bertemu dengan psikolog di Puskesmas (khususnya di Jakarta dan Jogja). Biayanya sangat terjangkau karena di-cover juga oleh BPJS. Selain itu, komunitas support seperti Mother Hope Indonesia dapat membantu proses pemulihan dari PPD. 

Apakah postpartum depresion dapat dicegah? 
Bisa. Tetapi kadangkala its just happen without any reason. Namun demikian aku akan menuliskan beberapa hal berikut yang aku siapkan saat melahirkan yang kedua kali agar tidak lagi mengalami baby blues maupun postpartum depresion.



Mengapa depresi harus disembuhkan?
Aku merasakan sendiri depresi yang kualami berimbas pada kedekatanku dengan anak. Seerti ada dinding yang menghalangi sehingga kasih sayang sulit mengalir. Padahal, siapa siy yang tidak sayang makhluk kecil bernama bayi ya kan? Dan ternyata banyak sekali penelitian yang menunjukkan bahwa depresi/gangguan mental lain yang dialami ibu sangat mungkin berimbas pada kesehatan mental anak-anaknya, baik di masa kini maupun kelak saat menjadi dewasa. Untuk alasan inilah, maka depresi pada ibu harus disembuhkan sesegera mungkin.

Sebagai penutup, banyak berdoa semoga Allah melancarkan kehamilan dan kelahiran, sehingga tidak meninggalkan trauma maupun depresi. Dengan menjaga kedekatan dengan Allah, insyaAllah kita menjadi lebih mudah menerima apapun yang Allah gariskan untuk diri kita.Ingat, depresi bukan tanda bahwa kita ibu yang lemah, depresi adalah tanda bahwa kita hanyalah manusia biasa yang kadangkala membutuhkan pertolongan. Still, you are the best mom for your child.




You Might Also Like

5 comments

  1. I also a PPD survivor. trigger nya adalah PUPPP (gatal dan alergi) pasca melahirkan ditambah diagnosa baby severe eczema :( Btw I love this post so much. Terutama poin dimana beri jeda kerabat non keluarga menjenguk. Huhuhu...aku dlu sampe nangis2 saking pengen isitrahat nya, tapi siang hari tetep bnyk tamu datang krn tinggal gabung in laws...sedih akutu kalo inget wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss Mom Janice,
      Alhamdulillah sudah sehat kembali ya Mom :)

      Yeah, budaya di kita ikut bahagia dengan kelahiran anak artinya segera menjenguk, which is sometime not too good for the mommy.

      Hapus
  2. Peluk mom.
    Masha Allah... setiap ibu punya kisahnya masing-masing ya.
    Dan memang benar, poin pertama itu, kadang menerima tamu selepas melahirkan itu bikin bete.

    Itulah yang menjawab mengapa saat saya lahiran kedua, saya cepat pulih.
    Soalnya gak ada yang jenguk hahaha.

    Cuman 1 temen di RS, dan 1 temen di rumah.
    Jadi masukan2 yang kadang bikin bete jarang.

    Semangat selalu ya mom.
    Tidak ada mama yang sempurna tanpa depresi, namun setiap mama selalu sempurna di mata anak2nya :)

    BalasHapus
  3. Infonya bagus banget mbak apalagi buat saya yang masih awam soal kehamilan dll.
    Semangat terus mbak :) Semua ibu itu hebat dengan caranya masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerrr, thats what I want to share ke semua ibu. Bahwa setiap Ibu punya medan perjuangannya sendiri sendiri :)

      Hapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)