Review Buku Lagom : The Swedish Art of Balanced Living by Linnea Dunne

  • 12/30/2018 02:12:00 PM
  • By Athiah Listyowati
  • 2 Comments

Its been a long-long-long time for me to write a book review seriously. But, because here, i have a chance to grab book freely (just become a member of public library). Its not fair if I just enjoy the book by myself. I hope, this (and insyaAllah next review) review will help you to choose a good book for your super curious brain 😇

Lagom (lah-gom) adalah istilah yang sedang hits akhir-akhir ini. I dont know why. Mungkin salah satunya karena inti dari budaya lagom ini menarik untuk dipelajari. Saya sendiri me-request buku ini dari perpustakaan setelah melihat postingan salah seorang selebgram berisi tumpukan buku yang (sepertinya) sedang ia baca. Dari tampilan covernya, sepertinya cukup menarik. Maka seperti biasa, saya mencari reviewnya di Goodreads (walaupun sejujurnya review di Goodreads tidak 100% saya pakai sebagai pertimbangan) dan ternyata memang sedang booming. 

Dunne, penulis dari buku ini adalah ibu dari 2 anak, mengaku sebagai seorang feminis, bekerja sebagai penulis dan editor. Ia lahir dan besar (hingga usia 19 tahun) di Swedia, dan kini tinggal di Dublin, Irlandia. Mengenai bukunya, ia mengaku terinspirasi oleh komedian Jonas Gardell bahwa seharusnya lagom menjadi komiditi ekspot terbesar Swedia. Dan setelah itu, ia juga membaca trend hygge (kalau ini dari Denmark, insyaAllah nanti aku ulas juga ya) yang diangkat oleh Vogue menyebut lagom sebagai salah satu gaya baru ber-hygge. Saat itulah Dunne merasa : inilah saat yang tepat untuk menulis tentang lagom sedikit lebih dalam. 

Cover bukunya pun sangat Scandinavian :p

Apa siy yang pengen dibawakan oleh Dunne melalui buku ini? Kalau dari cover bukunya sendiri, tertulis :

By living lagom, you can : reduce your environmental impact, improve your work-life balance, free your home from clutter,become a more conscious consumer, cherish the relationship with those you love, enjoy good foos the Swedish way, grow your own food and learn to forage, enjoy healthy excercise in nature, live happier and more balanced life.

Wahhh, terkesan idealis banget yaa, kayak bener bener bisa happy dari semua segi kehidupan, ya relationship (sesama manusia maupun ke alam), kerja asyik karena tetep bisa menikmati hidup, rumah nyaman, dan juga sehat raga pula. Impian siapa sahaja banget ga siy? Semacam ajakan untuk sehat fisik dan jiwa ala Swedish siy sebenernya si lagom ini. Karena budaya lagom bener-bener merasuk ke semua sendi kehidupan, termasuk dalam mengelola masalah pribadi sampai acara ngumpul-ngumpul sambil minum kopi dan makan cinnamon buns (fika). Lalu, apakah aku mendapatkan sebuah gambaran meyakinkan untuk memperoleh itu semua setelah membaca buku ini? 

Well, menurut saya budaya adalah budaya. Kita bisa mengambil hikmahnya tetapi untuk serta merta merubah semua orang untuk melakukan budaya yang baru jelas bukan perkara mudah. I mean, semacam budaya antri saja deh, itu aja butuh puluhan tahun untuk bisa mengajari semua orang untuk punya budaya antri. Apalagi untuk bisa merubah semua sendi kehidupan menjadi berbeda dengan biaya yang dilakukan. Tapi kalau sasarannya hanya diri sendiri atau keluarga sendiri, sangat mungkin kok untuk dilakukan. Dan ga banyak yang berbeda dengan yang selama ini sedang digaungkan : go green, minimalism, lebih cherish hubungan di dunia nyata dibanding dengan dunia maya, lebih sering keluar rumah dan menikmati alam, lebih sadar dalam menggunakan uang, it sounds so common right? Jadi jika selama ini kalian sudah pernah mempelajari hal-hal itu, buku ini mungkin akan jadi semacam "tambahan pengetahuan". Terutama detil-detil fakta budaya tersebut di Swedia.

Favorite Things From This Book 
Saya suka sekali ajakan untuk kembali menanam makanan kita sendiri di kebun kita sendiri (pula). Diakui sebagai bagian dari lagom, menanam makanan kita sendiri diyakini dapat mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Dan bukankah di masyarakat kita juga mulai jarang digaungkan budaya berkebun ? Akhir-akhir ini yang banyak hits masih seputar tanaman hias. Sedangkan sayur mayur dan aneka herb belum begitu banyak yang menanam. Mungkin kalian bisa intip IG Kak @atiit untuk tau lebih banyak perihal berkebun di lahan sempit. Saya sendiri belum 100% serius -bahkan memulainya saja belum, masih di taraf bermimpi *lhapiye

Photo by Jose Fontano on Unsplash
Selain gerakan grow your own food, saya juga sangat antusias dengan kebiasaan main bersama alam, nyepeda bareng keluarga sampai jauh terus berhenti buat gelar bekel :p Alhamdulillah di Canbrra sini sangat mudah untuk bisa mendapatkan momen seperti itu. Tapi saya agak pesimis kalau nanti sudah kembali ke Depok 😆 Bisalah ya di Studio Alam ((bhahahak)). Yang ada emol lagi emol lagi ((duhh))

What I Don't Agree
Konsep lagom itu penganut hangat-hangat kuku, hehe, maksud saya, usahakan ga berlebihan tetapi juga ga kekurangan. Nah, termasuk juga dalam hal pemikiran, tidak boleh ekstrem. Da jadinya LGBT juga gakpapa, yang penting ga ganggu yang lain. Hmm, ya risiko #happinessgoal di luar koridor agama jadinya ga ada batasan. Saya sendiri setelah membaca buku ini malah semakin menyadari bahwa namanya #happinessgoal itu kudu yang non-fana, yang abadi, yang kalau ga bisa merasakan kebahagiaan sekarang tetep bakal punya happiness ending di akhirat. Jadi, bagi saya sendiri (fyi, ini bener-bener 100% opini saya loh ya, boleh setuju boleh ga), lagom sendiri boleh menjadi inspirasi namun bukan goal. #happinessgoal kita kudu lebih lagi dari sekedar bahagia di dunia. Bahkan kalau[un ga bahagia-bahagia amat ala manusia, kita tetep bisa merasa bahagia karena Allah kasih kebahagiaan itu di hati kita -berkah itu mah namanya.

So, baca ga niy buku ini? Hehe, baca mah baca aja kali. Bagus desainnya kalau ada yang suka bikin foto-foto buku yang instagramable, tapi kalau untuk koleksi keknya ga ya, kemahalan cuy ((lah ini mah dompet we aja kali))

Dah ya reviewnya, thank sudah mampir :p




You Might Also Like

2 comments

  1. Memang gaya hidup negara2 Barat & Skandinavia itu terkenal lebih sadar kesehatan & lingkungan. Tapi ya seperti yg mbak bilang itu, mereka pro choice yg sebebas-bebasnya, jadi yg gaya hidupnya beresiko tinggi pun banyak. Terima kasih sudah berbagi review.

    BalasHapus
  2. Beberapa bulan lalu aku juga baca buku ini, tapi dengan cover yang berbeda (yg kuning hitam itu lho). Budaya dan lifestyle orang Scandinavia itu emang terkenal banget sih ya. Apalagi negara mereka dikenal sebagai negara yang bahagia di dunia. Setelah baca buku ini, paham sih mengapa bisa begitu. Ada beberapa konsep gaya hidup mereka yang bisa kita lakukan. Seperti hidup minimalis, beli barang seperlunya dan kalo bisa yang timeless plus awet.

    Next, aku musti baca Hygee nih. Katanya konsep tersebut lebih ke gaya hidup 'memanjakan diri' ya, bukan minimalis hahaha

    BalasHapus

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)