Morning Miracle Routine Dan 9 Kebiasaan Baru Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Sebagai Ibu

Mahatma Gandi said "Learn as you you were to live forever". Then, Maya Angelou said, "When you know better you do better". And so on. Ada banyak banget magic words yang bisa kita inisiasi ke dalam pikiran kita, kita pasang di pintu kulkas, kita jadikan wallpaper hape, atau mungkin poster hiasan di kamar, wherever you think its will be remind you about become a live-long learner. Namun ada hal yang bisa membuat kita bertahan : niat (kalau bisa, yang lurus dan kuat)

Bulan pertama di tahun 2019 hampir berakhir, any realize it? Sejujurnya tahun ini saya tidak membuat resolusi khusus. Namun bukan berarti saya tidak berniat untuk melakukan sebuah perbaikan. Resolusi adalah niat baik yang akan tercapai hanya bila kita membuat detailed plan. Kalau boleh dibilang, sukses yang ingin kita capai di akhir tahun kuncinya ada di our daily day to day. Sebuah resolusi besar tidak mungkin dapat dicapai tanpa hal-hal kecil yang kita lakukan untuk mencapainya. Misalnya saya ingin memiliki kulit muka 10 tahun lebih muda (hahahaha, tertawalah!), maka hal tersebut tidak akan tercapai bila dalam keseharian saya lupa minum air putih yang cukup, tidak pernah olah raga apalagi makan buah dan sayur, plus tidurnya acak adut. It will be a big failed. 

Nah, sadar ga siy? Hal-hal kecil seperti itu bakal dengan mudah kita jalani bila telah menjadi SEBUAH KEBIASAAN, alias HABIT. Suatu kegiatan/aksi bisa dikatakan habit bila kita telah mencapai titik : OTOMATIS. Bangun tidur otomatis minum segelas penuh air mineral, pagi hari otomatis journaling, seminggu 3 kali pasti ada to do list excercise, begitu seterusnya. Dan yang membedakan adalah : RASA (cailaahh). Bila sebuah kegiatan telah menjadi habit, maka rasanya adalah enteng. Sekaligus risau bila tidak melakukan seperti yang biasa dilakukan. Alarmnya otomatis bunyi.

Membangun sebuah habit baik menurut saya lebih jangka panjang dampaknya dibandingkan sekedar resolusi tahunan. Kecuali memang resolusi tahunanmu berupa sebuah pencapaian tertentu yang tidak mungkin terulang : memenangkan sebuah perlombaan misalnya. Namun dalam proses menjadi seorang pemenang, saya yakin ada kebiasaan baik yang bisa dibangun. Selain itu, bila kita telah menjadi seorang pemenang tahun ini, bukankah minimal kita pasti ingin mempertahankannya di kesempatan berikutnya?

KEBIASAAN BAIK ITU BERANGKAT DARI MANA ?

Dari rumah masing-masing. Ahahaha!

Kalau menurut saya, kebiasaan baik haruslah berangkat dari INTROSPEKSI. Bahasa kerennya EVALUASI. Setiap orang pasti ingin menjadi sosok tertentu yang ia dambakan bukan, terutama disesuaikan dengan perannya saat ini. Karena hasrat terdalam manusia itu kan : eksistensi. Ketika keberadaan yang kita bicarakan, maka ujungnya adalah peran yang sedang kita mainkan. Sebagai seorang pribadi, sebagai seorang ibu, sebagai seorang ayah, sebagai seorang istri, sebagai seorang entrepreneur, dst. 

Mengapa perlu mengetahui dulu peran apa yang dimiliki baru kemudian evaluasi?
Karena setiap peran memiliki tuntutannya masing-masing, serta harapan masing-masing. Yah, walaupun ada beberapa kebiasaan baik yang bisa menunjang semua peran, misalnya : aneka kebiasaan hidup sehat. Namun paling tidak, dengan mengetahui semua peran yang ingin kita mainkan, akan terlihat kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa saling mendukung dalam semua peran, dan adakah kebiasaan khusus yang memang hanya tepat untuk peran khusus.

Sekarang evaluasi, dari mana kita bisa mengetahui bahwa evaluasi tersebut telah berjalan secara akuntabel (dan terpercaya)? 

Menurut saya, kuncinya adalah JUJUR PADA DIRI SENDIRI. Please, be honest to your ownself. 

Ketika kita berani jujur pada diri sendiri, maka kita akan dengan mudah mendapatkan hasil evaluasi yang valid. Bila masih kesusahan untuk jujur pada diri sendiri, mungkin inilah saatnya untuk percaya pada 'mesin', hehe, alias aplikasi. Ada beberapa aplikasi untuk men-track habit yang sudah kita set. Nanti saya share ya beberapa yang bisa dicoba. Namun penggunaan tracker berbasis aplikasi pun kembali lagi ke kejujuran. Hehe, siapa yang tau kan kalau kita isinya ngaco, yah, kecuali diri sendiri. So, habit tracker is just any other option. Yang terpenting tetep integritas diri terhadap diri kita sendiri. 

Berapa siy jumlah kebiasaan baru yang ideal ?
Jawabannya ga bisa eksak. Setiap orang berjalan pada path-nya masing masing bukan? Lagi-lagi urusannya balik ke bagaimana kita jujur mengukur diri sendiri. Berapapun jumlahnya : WAJIB MULAI DAN KERJAKAN. Dengan segera memulai, kita juga bisa mengecek apakah jumlah kebiasaan yang ingin kita terapkan sudah tepat atau belum.

Dan, inilah dia beberapa kebiasaan baru (dan yang ingin saya pertahankan) selama kurang lebih 6 bulan saya menjalani kehidupan tidak biasa sebagai full time mom  (meski sepertinya sementara). Hal-hal berikut saya rasakan manfaatnya dan ingin saya jadikan sebagai sebuah kebiasaan/habit untuk seterusnya -bahkan ketika telah kembali menjadi working mom  insyaAllah.



1# JOURNALING
Journaling sudah lama saya lakukan namun biasanya tidak rutin. Selain itu tempat untuk membuat jurnal pun berubah-ubah. Sehingga saya kesulitan untuk melakukan tracking atas apa yang pernah saya tulis. Kali ini, saya akan lebih rapi dan rutin dalam menyusun jurnal harian. Khusus untuk meningkatkan kualitas hidup sebagai Ibu, isinya tidak hanya tentang saya, tetapi saya pun akan menulis jurnal anak-anak.

Baca : Mencatat Perkembangan Anak, Perlukah?

2# DOING MORNING MIRACLE ROUTINE
Kalian sudah membaca buku Morning Miracle karya Hal Elrod kah? Recommended book btw. Sebagai seorang Muslim, sebenernya tantangan bangun pagi ini mutlak dilakukan. Kalau dipikir-pikir, kebiasaan bangun pagi ga sesusah orang lain yang ga ada tuntutan bangun pagi bukan? Namun nyatanya bangun pagi ga selalu semenyenangkan itu. Nah, lewat buku ini, saya disadarkan kembali bahwa pagi itu penting untuk kita taklukkan. Apalagi kebiasaan-kebiasaan baru yang akan saya bangun juga banyak yang harus selesai di pagi hari. Termasuk di dalamnya, ingin sekali rasanya memulai pagi dengan menghirup udara segar di luar sebelum berjibaku kembali dengan dapur, laundry dan anak anak :p



3# FOOD PLAN DAN FOOD PREP, TERUS MASAK SENDIRI
Era baru memasak telah tiba (apa siy buk). Dulu saya sama sekali buta soal masak (dalam artian menutup mata). Bener-bener cawe cawe maem anak cuma pas MPASI *huhuhu. Setelah anaknya bisa makan masakan keluarga, jadi lepas kontrol. Di sini saya musti mau tidak mau meng-handle semuanya. Dari food plan, food prep hingga memasaknya. Dan ternyata dari sini saya merasa ada pucuk pucuk cinta baru yang tumbuh antara saya dengan anak-anak dan suami. Maka saya berniat untuk seterusnya melakukan ini sendiri.

4# MENDENGARKAN ANAK DAN BELAJAR PERCAYA
Susah ga siy? Kadang susah, kadang gampang. Jadi gampang kalau kita menempatkan diri sendiri sebagai teman tumbuh anak. Mendengarkan dengan antusias dan menanggapi layaknya orang dewasa sedang berbicara dengan kita serta percaya dengan dirinya adalah cara saya untuk senantiasa dekat dengan anak.



5# ME TIME PRODUKTIF
Di tengah-tengah keseharian menjalani rutinitas sebagai seorang ibu, saya berusaha untuk menempatkan me time produktif secara rutin. Ada dua hari khusus yang sudah saya dan suami sepakati untuk benar-benar saya off sementara dari tugas kenegaraan, saya boleh memilih apa saja kegiatan yang saya mau untuk refreshing.

Apakah saya hanya me time di waktu tersebut? Tidak. Rutinitas pagi (Miracle morning routine) saya termasuk di dalamnya adalah cara saya menikmati me time. Misalnya, membuat postingan blog, membaca buku, belajar agama lewat Youtube, atau membuat materi IG Stories.

On daily basis? I love coffee as my fast me time. Tentu saja tidak lupa didukung dengan amalan harian yang tidak boleh ketinggalan untuk dilakukan.



6# BERDUAAN DENGAN SUAMI (TANPA ANAK)
Ini rutin dan wajib dilakukan apapun bentuknya (ups). Misal suami pulang kerja, saya temenin makan malam sambil ngobrol. Anak-anak ? Silahkan bermain sendiri dulu, hehehe. Atau kadang kami ngobrol saat anak anak sudah bobok. Kadangkala juga kami mengobrol saat sehabis sholat malam.

7# MAIN DI LUAR SAMA ANAK
Sama kayak orang dewasa, anak-anak juga punya rasa sumpek kalau kebanyakan di dalam rumah, Udara luar juga dipercaya bagus sekali loh untuk perkembangan fisik dan jiwa. Kami ga melulu ke tempat wisata untuk bisa main di luar. Kadang kami hanya menikmati alam sambil jalan membeli groceries. Kadang kami mencari ikan di wetland. Sesekali main hide and seek juga sangat mengasyikkan.

Bonusnya ? Bonding dengan anak plus inner child positif kita jadi "naik".

8# BEING MINIMALIST
No, I am not 100% become minimalist yet. But still, I love any practice in minimalist lifestyle. From decluttering, conscious buying (also living), focus on what to do (not what others people do) and so on.

BACA : Declutter For Life Better

9# WELL PREPARE AND ALWAYS NEAT IN EVERY ASPECT OF LIVE
Ini PR banget gaes. Apalagi rerapih saat anak-anak masih kecil kan? Hahaha, kagak usah diceritain juga keknya juga udah kebayang kayak apa. Tapi saya belajar bahwa well prepared dan rapi bener-bener berguna banget -cara menanamkannya ke anak-anak? Ya sekarang, semenjak mereka kecil bukan?

10# BACA BUKU BERSAMA ANAK SEBELUM BOBOK
Its a must. Saya merasakan adanya bonding  yang cukup untuk mengantarkan mereka tidur. Dengan membacakan buku, saya juga menginstall emosi serta akal mereka. Juga tentu saja pembentukan karakter. Ada banyak hal yang bisa saya dan anak anak bicarakan bersama yang diawali dengan membahas sebuah buku. We love books that much.

Dan akhirnya, itulah kesepuluh habit yang ingin saya bangun dan kuatkan di tahun ini. Saya tidak berekspektasi lebih : ingin segera merasakan dampaknya misalnya. Karena sebagian besar habit tersebut adalah bekal yang sangat baik untuk bisa stay strong dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu. Jadi saya pun berjanji kepada diri sendiri untuk serius membangunnya. Meski demikian, saya tetap memberikan ruang untuk dilakukan perubahan -bila diperlukan. Lets see what I can do at the end of February.

Oiya, untuk membantu saya mengerjakan to do list, saya memakai Google Calendar, di mana di dalmnya kita dapat memberikan berbagai jenis to do list, reminder maupun catatan. Saya menggunakannya untuk mengingatkan kapan jadwal menulis terdekat dalam minggu ini. Namun demikian saya usahakan untuk bisa menulis setiap hari -apapun platformnya :p Enaknya pakai aplikasi adalah data capaian atas habit yang sedang dibangun bisa dengan jelas terlihat. You shoud try, btw.

Thanks for reading on this post till the last word.
Cheers,





Credit :
All the photos by Unsplash

Komentar

  1. Niat itu memang koentji, ya. Dan setuju banget soal kebiasaan (baik) yang kita lakukan sehari-hari itu yang menentukan kesuksesan di masa yang akan datang. Kebiasaan kecil biasanya kita lakukan di bawah alam sadar, makanya kenapa kebiasaan yang harus dibangun itu yang baik dan positif.

    Tulisannya bagus banget, Mba, dicerahkan sekali hahaha. Buku Miracle Morning-nya noted!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir baca tulisanku kak Jane, nulis di blog biar sekalian bikin komitmen publik, doain bisa lancar syelaluw ya ~

      Hapus
  2. Kalau punya bayi tuh tantangannya berlipat ganda mau lakukan good habbit sesuai ekspektasi hahaha
    Tapi kuharus bisaaa!!
    meskipun habbit yang dibangun saat dewasa akan lebih sulit tercapai, tapi minimal bisa diusahakan ya.
    Kalau saya masih PR banget pengen bentuk good habbit berolahraga hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, insyaAllah ada strategi khusus Mbakku, misal aku baca di buku tentang pasca melahirkan olahraga itu salah satu yang pentung untuk jaga kebugaran dan juga emosi. Ada 1 yang aku seneng insightnya, pakai bola kasti/gymball, jepit pakai punggung, terus gerakin naik turun.

      Hapus

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan Populer