Persiapan Sekolah Si Kakak : Sebuah Gambaran Mamak Grogi

Setalah memutuskan untuk menunda sekolah si Kakak (4 yo 11 mo) sekitar 4 bulan terakhir dan memilih untuk menghabiskan waktu bersama adik dan Umi di rumah, akhirnya masa untuk sekolah tiba. Per 4 Februari, insyaAllah Kakak akan masuk kindergarten (biasa disebut kindies) di sebuah sekolah publik dekat rumah kami. Terus terang, saya tetiba blank dan ikut grogi. Tinggal menghitung hari dan pikiran mengenai bagaimana nanti ketika kakak bersekolah pun bermunculan. Bagaimana kalau dia tidak betah (sekolah akan berlangsung dari pukul 9 pagi sd pukul 3 sore) dan tidak happy bersekolah. Bagaimana bila ia kesusahan beradaptasi : dengan bahasa sekolah yang bukan bahasa Indonesia, dengan teman-temannya yang berbeda budaya, dengan jadwal keseharian baru yang akan sangat berbeda dari biasanya, dst. Sometime its make me so nervous. 

Pertanyaan paling susah dijawab sebenarnya adalah : apakah selama ini saya sudah mempersiapkan dia dengan baik di rumah untuk akhirnya mampu bertemu dengan dunia luar ? 

Kalian segrogi itu ga si Mam waktu pertama kali anak sekolah?

Apakah hanya saya saja yang begitu? ((CARI TEMEN))

Sebenarnya dari pihak sekolah telah memberikan panduan agar ketika saatnya tiba, anak-anak dan orang tua sudah siap dan nyaman memulai tahap bersekolah. Saya sendiri tidak ikut pada saat sekolah melakukan wawancara dengan calon murid (dan orang tuanya). Waktu itu yang hadir si Abah dan si Kakak. Kalau berdasarkan hasil wawancara, insyaAllah sekolah pun sudah siap untuk menerima Kakak sebagai salah satu peserta didik. Mereka bahkan bertanya apakah Kakak sudah pernah merasakan sekolah sebelumnya, apa-apa saja hal yang harus bisa dikerjakan sendiri sebelum nanti masuk sekolah (salah satuny harus bisa menulis namanya sendiri), serta mengajak Kakak untuk mengetahui lingkungan sekolah ( di mana ruang kelasnya, toiletnya, play ground, dll). Sehari-hari kami juga selalu memberikan gambaran betapa menyenangkannya sekolah serta fakta bahwa nanti ia akan di sekolah tanpa saya ataupun abahnya. Saya hanya akan mengantar dan menjemput. Di titik itu, Kakak sudah bisa menerima dan bahkan terlihat siap.

Namun karena merasa belum 100% siap, saya pun mencari gambaran bagaimana persiapan yang bisa dilakukan bersama anak agar benar-benar siap. Salah satu gambaran persiapan tersebut saya temukan dari situs Raising Children. Disebutkan ada beberapa hal yang musti saya perhatikan untuk mempersiapkan anak sekolah.

Familiar dengan Calon Sekolah
Sesuai dengan saya ceritakan di awal, di Australia proses pendaftaran ke sekolah baru dilakukan sekitar 4 bulan sebelum pembelajaran dimulai. Dikarenakan Australia menganut sistem sekolah terdekat dengan lokasi tempat tinggal, maka calon sekolah Kakak memang benar-benar bisa kami lihat dan lewati setiap hari. Selain itu, saat mendaftar kemarin, pihak sekolah juga sekaligus mengajak calon murid untuk mengetahui lokasi-lokasi serta fasilitas yang ada di sekolah (playground, ruangmakan, toilet, etc). Dan ternyata hal ini diyakini bisa membantu menurunkan risiko anak mogok sekolah. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk membuat anak familiar dengan aktivitas bersekolah di antaranya.

  • Mengikuti transition program. Khususnya bila sebelumnya si anak mengambil pre school di lokasi sekolah berbeda atau seperti anak saya, belum pernah sekolah sama sekali. Namun dikarenakan calon sekolah Kakak tidak menyediakan program ini, saya menggantinya dengan sounding berapa lama sekolah akan berlangsung dan apa saja yang akan dilakukan di sekolah selama sehari penuh.
  • Pastikan anak paham bahwa kita hanya akan mengantar (tanpa menemani) dan setelah waktunya sekolah selesai, kita akan menjemputnya. Hal ini juga sudah saya sampaikan kepada Kakak bahwa nanti Umi dan Abah tidak akan membersamainya bersekolah. Saya sampaikan bahwa insyaAllah dia akan mampu dan senang di sekolah sehingga tidak perlu khawatir meski kami tidak di sampingnya.
  • Jelaskan tata krama/aturan utama di sekolah. Misalnya : meminta ijin kepada guru bila ingin ke toilet aar guru mengetahui kemana mereka pergi. Karena adanya perbedaan bahasa (yang mana anak saya belum lancar menggunakan bahasa Inggris) maka saya membekali Kakak bahasa isyarat yang biasa dipakai untuk memberi tahu guru kelas untuk meminta ijin ke toilet.
Mempersiapkan Keperluan Sekolah Bersama Anak
Sangat baik untuk memastikan seragam, lunch box, tas sekolah dan peralatan sekolah siap sebelum sekolah dimulai.

  • Meski seragam sekolah di sekolah Kakak tidak wajib, penting bagi saya memastikan bahwa ia nyaman tanpa harus merasa berbeda dengan teman-temannya (terutama saat awal-awal masuk sekolah). Sehingga meski tidak wajib, kami tetap membelikan seragam (yes, we bought secondhand uniform because we are not long here). Seragam sudah saya cuci, namun baru teringat belum pernah memakaikan. Hari ini saya berencana untuk membelikan celana sekolah (bukan seragam, hanya disarankan untuk berwarna gelap). Sedangkan sepatu untuk sekolah sudah 1 minggu terakhir terbiasa Kakak pakai. Ternyata mempersiapkan hal-hal kecil seperti ini untuk biasa dipakai oleh anak sebelum memulai sekolah sangat penting untuk meminimalisir 'kejadian tidak menyenangkan' terjadi saat ia baru memulai hal baru.
  • Pilih peralatan sekolah yang mudah (atau jika dipakai : maka harus nyaman) digunakan oleh anak kita. Lunch box yang tidak mudah tumpah tapi mudah dibuka, begitu juga dengan botol minum. Tas sekolah atau lunch bag harus disesuaikan dengan ukuran badan anak supaya tidak terlalu kebesaran misalnya.
  • Pastikan perintilan lain juga sudah kita siapkan, misalnya sekolah Kakak akan selalu memberikan 1 buku setiap hari untuk dibaca di rumah, sehingga ia harus membawa library bag. Begitu juga topi wajib dipakai setiap hari. 
  • Last but not least, semua barang yang dibawa anak ke sekolah wajib diberi nama. Hal ini akan mengurangi risiko tertukar (which is botol/lunch box mungkin ada yang kembar dengan temannya kan?) dan memudahkan guru di sekolah ketika membantu anak packing.
Mengelola Emosi Ketika Sekolah Dimulai
Tidak dapat dipungkiri bahwa mulai bersekolah dapat menjadi sebuah peristiwa besar dalam diri anak kita, tidak hanya berdampak pada fisiknya yang lebih lelah (dibandingkan saat belum sekolah) tetapi juga emosinya. Mampu menemani anak mengelola emosinya saat sekolah dimulai adalah salah satu persiapan yang tidak boleh terlewat dan penting untuk dilakukan. Berikut beberapa ide dari Raising Children yang dapat kita adaptasi.
  • Cobalah berkenalan dengan calon teman sekelas jauh hari sebelum sekolah dimulai. Alhamdulillah, ada beberapa teman dari Indonesia yang juga akan memulai kindergarten sekaligus kelas bahasa di sekolah yang sama dengan Kakak. Dan mereka sudah biasa bertemu di TPA, semoga tetap bisa berteman baik meskipun beda gender ya. 
  • Berikan dukungan dan perhatian terbaik untuk anak, sebelum dan ketika sekolah dimulai. Energi positif yang kita keluarkan akan dengan mudah menular kepada anak kita insyaAllah. Saya selipkan pesan seperti "insyaAllah Kakak bisa", "insyaAllah Kakak senang sekolah", dll.
  • Selain role playing aka sekolah-sekolahan, kita juga bisa membacakan buku-buku yang bertemakan tentang sekolah. Kami meminjam buku-buku tersebut dari perpustakaan di dekat rumah, cerita-cerita yang lucu biasanya sangat melekat dan selalu diingat. Salah satunya seri Dinotrux Go To School ini 😍


Book Depository
  • Ternyata penting juga untuk menjaga supaya aneka kekhawatiran yang kita rasakan dalam hati ada baiknya tidak sampai "keluar" dan terasa oleh anak kita. Kita harus juga mempersiapkan mental sendiri dan yakin bahwa anak kita akan baik-baik saja ketika pertama bersekolah nanti.

Normal kok Mam kalau muncul kekhawatiran saat anak pertama kali bersekolah. Mengkomunikasikan emosi tersebut dengan pasangan (ayahnya anak-anak) atau sesama Ibu yang sudah/akan menyekolahkan anaknya akan memberikan gambaran sehingga kita bisa tenang dan lebih tertata menghadapi salah satu periode baru dalam kehidupan sebagai seorang ibu.

Ketika Sekolah Telah Dimulai (Minggu-minggu Awal)
Sama halnya ketika memulai aktivitas baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya (baru mulai masuk kerja mungkin, atau baru saja menyandang status sebagai seorang istri), minggu-minggu awal akan menjadi masa adaptasi yang krusial. Begitu juga dengan anak-anak kita saat minggu-minggu awal bersekolah. Saya bayangkan, Kakak yang biasanya selalu bersama adik dan Uminya, nanti hanya akan bersama guru dan teman-temannya yang baru saja ia kenal, ia akan memulai hari baru lebih awal, bersiap ke sekolah serta bersiap untuk menerima pelajaran setiap hari. Tentu ia akan membutuhkan dukungan lebih. Masih dari situs Raising Children, ada baiknya kita melakukan hal berikut di awal-awal ia bersekolah.

  • Pastikan ia masuk sekolah tepat waktu, jangan sampai masih awal bersekolah sudah mengalami terlambat sekolah. Di sekolah Kakak nanti, anak-anak hanya boleh ditinggalkan oleh orang tuanya 15 menit sebelum kelas dimulai. Sebelum itu, anak-anak masih menjadi tanggung jawab orang tuanya masing-masing. Masuk terlambat atau pulang lebih awal harus melalui prosedur ijin khusus.
  • Selain jangan terlambat datang, jangan pula terlambat menjemput. Huhuhu, kasian kan kalau baru awal sekolah sudah bingung kok mama/papa belum datang padahal anak-anak lain sudah mulai dijemput mama dan papa nya masing-masing.
  • Tidak perlu memborbardir anak dengan pertanyaan yang terlalu mendetil tentang bagaimana kondisi sekolah. Cukup "apa ada hal bagus hari ini?". Semoga saya ingat ya untuk tidak wawancara berlebihan ke Kakak *osh!
  • Fleksibellah dengan pemberian snack atau makan. Sepulang sekolah nanti anak-anak mungkin ingin makan satu dua sendok es krim untuk 'menyenangkan diri' sehabis 'berjuang' dengan hari baru. Bisa menyediakan makanan kesukaannya akan menjadi bantuan yang sangat berarti saya rasa.
  • Jangan terlalu menaruh harapan tentang kemajuan akademis anak. Bisa melewati hari hari pertama bersekolah dengan gembira dan bersemangat sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
  • Ada anak yang mudah berteman ada pula yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan seseorang yang klik dengannya. Kita yang dewasa pun sama bukan? Maka jangan khawatir bila sesekali ia main dengan banyak teman, sesekali waktu ingin main sendiri. Its just normal.
  • Bila anak kita merasa tidak nyaman dengan 1 dan lain hal (teasing or bullying) maka ada baiknya segera mendiskusikan hal tersebut dengan gurunya agar bisa segera ditemukan win win solution.
Wah, ternyata panjang juga ya pembahasan soal bersiap sekolah. Last but not least, saya yakin setiap Ibu awalnya juga merasa grogi, tapi ternyata anak anak kita alhamdulillah bisa melaluinya. Dengan mempersiapkan semuanya di awal, semoga segalanya kelak akan berjalan lancar.


Btw, saya akan mengutip sebuah kalimat yang menenangkan saya atas kekhawatiran apakah nanti Kakak akan survive, apakah nanti dia bakal happy terus, dll. Kalimat ini diambil dari buku berjudul The Whole Brain (insyaAllah nanti saya review bila sudah selesai sampai akhir). Saat membacanya saya jadi lebih paham bahwa tugas saya bukan selalu membuatnya selalu lancar dalam setiap rencana.


As parents, we are wired to try to save our children from any hurm and any hurt, but ultimately we can't. They will fall down, they will get their feelings hurt and they will scared and sad and angry. Actually, its often these difficult experiences that allow them to grow and learn about the world.

Jadi, sudah siap menemani anak anak mulai sekolah ? Bismillah. Jangan lupa senantiasa mendoakan anak-anak kita, termasuk dalam kelancaran dan kebermanfaatan sekolah bagi dirinya dan masa depannya. Sehat selalu ya Mam, siap menemani anak-anak merasakan kehidupan baru sebagai seorang murid.




Referensi :
Raising Children
Picture by Unsplash (edited by me)

Komentar

  1. jadi inget saat pertama kali anak saya masuk sekolah, saya yang grogi eh anaknya mah santai-santai aja malah dia lupa sama emaknya pas udah disekolah hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, keknya pengalaman yang sama banyak dialami ibu lain ya Mam?

      Sudah khawatir banget ternyata anaknya seloww, beuhh ~

      Tapi pasti happy dan lega banget ya, akhirnya ia melewati fase ini dengan baik seperti harapan kita.

      Hapus
  2. Sama ketika anak saya mulai masuk daycare, itu rasanya galaaaauu banget. Hri hri pertama juga drama banget, nangis dan nggak mau sekolah. Tapi nggak nyampe sebulan, eh sudah Happy malah semangat bangun untuk ke sekolah. Semoga nanti si kakak bisa Happy sekolahnya ya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, pentingnya bersiap adalah termasuk menerima bahkan tetap mendukung meski awalnya anak anak perlu sedikit adaptasi.

      Senang banget kalau akhirnya anak anak berhasil melewati fase ini dengan baik ya Mam.

      Hapus
  3. Duh saya bacanya aja juga deg-degan. Tapi ini bisa jadi referensiku buat persiapan nyekolahin anak tahun depan nanti. Semangat ya Mba untuk si kakak, semoga suka belajar di sekolah, ketemu temen banyak dan betah (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Jane semangaatt jugaa yaaa

      Iyaa, semoga yaa, bersekolah selain waktunya menambah ilnu juga waktunya menambah teman
      💟

      Hapus
  4. been there dan akan selalu merasakan momen dimana emaknya yang lebay saat sang anak masuk sekolah hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mam Andiyani, iyaya, entah kenapa anak yang sekolah tapi kupu kupunya tetep di perut kita

      Semoga mereka enjoy sekolahnya jadi kupu kupu di perut mamanya lekas pergi

      Hapus
  5. Hiks saya juga grogi mbak secara tahun anak putra saya waktunya masuk sekolah TK. Apalagi anak saya belum ingin masuk sekolah hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada 1 tahun untuk mempersiapkan Kakak Mam, jangan jangan pas tau sekolahnya nanti pengen langsung berangkat besok paginya.

      Bila kita yakin anak mampu, anak anak juga sepertinya akan menangkap memang dirinya mampu untuk melakukannya.

      Semangat untuk kita berdua ya!

      Hapus
  6. Wah sukses ya sekolahnya si kakak
    Semoga proses adaptasinya cepat
    ANak-anak khan lebih mudah bergaul biasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin,

      Iya Mam, semoga dia bisa melewati proses adaptasinya dengan baik ya ~

      Hapus
  7. hehehe baca-baca yang ginian, sama excitednya kayak baca pengalaman melahirkan :D
    Kalau saya, yang paling mendebarkan tuh pas anak masuk daycare dan anak masuk SD.

    Masalah dia gak betah malah ga kepikir sama sekali, yang saya pikirkan waktu di daycare adalah, apa dia gak sedih pas pulang sekolah kudu pulang ke rumah orang, apa dia gak sedih gak ada orang yang bisa dia cerewetin.
    Duh sakit hati ingatnya hiuhuhu

    Nah sama pas masuk SD.
    Saya deg-degan karena takut si kakak dibully orang, trus juga deg-degan karena dia di antar jemput ama mobil jemputan gitu.

    Saya deg-degan banget di rumah membayangkan pas pulang sekolah, di mana anak-anak ramai banget, takut dia gak nemuin mobil jemputannya, takut dia hilang.

    Hadeehhh mamak lebay kok saya hahaha

    Semangat ya mama yang jagoan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu, kayaknya Mba Rey tipe perasa yah?

      Terus akhirnya gimana Mba? Kakak aman kan sekolahnya?

      Hapus
  8. Hua... Bermanfaat sekali... Izin bookmark ya mbak. Tahun depan anak saya juga pingin saya masukan ke sekolah. Baca tulisan ini jadi bikin saya menimbang untuk cari sekolah yang dekat aja deh. Pertimbangannya jangan sampai pengalaman awal sekolah itu malah bikin stres anak krn hrs gedebukan siap2 tiap pagi. Thank you sharingnya ya mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mba, bila dirasa bermanfaat : )

      Iya, jarak memang salah satu hal yang harus kita perhatikan saat memilih sekolah anak. Jangan sampai karena terlalu jauh anak jadi kelelahan sebelum sekolahnya dimulai T,T

      Hapus
  9. Anak saya belum sekolah,baca ini berasa nambah ilmu baru buat saya. Makasih sharingnya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Lia, alhamdulilah kalau ada manfaat dari kegalauan saya, hihihi


      Terima kasih juga sudah mau mampir dan membaca postingan saya ; )

      Hapus
  10. Duh.. saya sudah lupa bagaimana rasa saya dan rasa anak pertama saya dulu waktu awal-awal sekolah. Karena udah 10 tahunan yang lalu. Ini nih bentar lagi bakalan ngerasain persiapan sekolah untuk anak kedua.. Kurang lebih 2 tahun lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh anak keduanya sepertinya seumuran anak saya yang kedua ya Mam Win ?

      Semoga nanti persiapannya lancar ya Mam, apalagi sudah ada pengalaman si Kakak, nambah pula kan cheerleader buat si Adik, seru!

      Hapus
  11. waktu anak pertama
    aku juga deg-deg-an
    dan banyak dramaaa
    hahaha

    mungkin karena akunya juga super khawatir kali ya, jadi nyetrum ke anak

    pas anak kedua
    Alhamdulillah udah lebih tenang
    dan anaknya juga ternyata ikut tenang dan lebih cepet mandirinya pas ditinggal di sekolah

    semangattt mba!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iyaa, nyetrum menyetrum ini memang kudu banget dijaga >,<

      Semoga aku tetep santai yahh nantii, doakan :)

      Hapus
  12. Wah mamajagoan keren banget ini semua pemaparannya, enak dibaca pula bagi aku yang masih menanti sang momongan hehe. Bakal jadi rujukan kalo bingung-bingung soal parenting, semangat terus ya mom membersamai kaka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Grandys,

      Terima kasih sudah mampir.

      Tulisan ini sekaligus saya ambil referensinya dari Raising Children, alhamdulillah banget bila dirasa mudah dipahami :)

      Momongan yang Mba Grandys dambakan insyaAllah akan datang tepat pada waktunya, nig hug dari saya :)

      Hapus
  13. pas banget lagi galau mbk. si kakak mau masuk sd, dia maunya ke sd A, sedang saya dan ayahnya maunya nyekolahin ke sd B. bener bener galau, takut nggak krasan di SD B. kami nggak masukin kakak ke sd A soalnya mahal. ini lagi sounding sounding si kakak biar mau masuk ke sd B. dan memang sedang proses pendaftaran sih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Menggunakan Birthball Selama Hamil dan Melahirkan

Giveaway 3rd Anniversary : Ayo Menikah

Pengalaman Periksa Retina (Rekomendasi Dokter Mata Pro Normal Di Depok)