Review Buku Goodbye, Things by Fumio Sasaki

Semenjak pertama kali mengenal minimalism sebagai lifestyle (aku lupa di mana, sepertinya hasil dari blogwalking), aku memang sudah sejatuh cinta itu sama gaya hidup ini. Dan karena aku ngalamin sendiri gimana susahnya punya kebiasaan bebelian, aku merasakan bahwa lifestyle minimalist adalah jawaban. Tentu saja semakin yakinnya karena Allah sangat tidak suka dengan segala sesuatu yang berlebihan -apalagi plus tidak bertanggung jawab, dan juga segala sesuatu yang miss niatnya. 

Nah Kak Fumio Sasaki (sok kenal banget we) bener-bener menulis sesuatu yang menurutku relate banget dengan aku yang dulu (semoga untuk sekarang dan seterusnya istiqomah serta berprogress). Punya barang banyak, beberantak, kadang kelupaan kalau punya-pas inget punya, barangnya udah rusk, bebelian tanpa ada pemikiran mendalam, kurang primpen sama barang-barang dan berakhir waste money plus kurang fokus. Kurang fokus sama tujuan hidup. Kurang fokus sama siapa sebenernya diriku sendiri dan apa yng ingin kucapai sebenarnya. 

Mungkin kalian bakalan bingung baca paragraf barusan. Apa hubungannya possession and stuff with focus and dream Ada banget! Itulah kenapa aku ngerekomen buku berjudul Goodbye, Things ini untuk kamu baca. Terutama buat kamu yang udah mulai tertarik sama teorema spark joy ala Marie Kondo atau fans berat Steve Jobs dengan black high neck as his personal uniform. Atau untuk kamu yang udah mulai decluttering barang-barang di rumah dan mulai sadar bahwa segalanya bakalan lebih nyaman dan membahagiakan when you joy the less. Aku percaya buku ini bakal relate banget sama apa yang udah kamu mulai.

apa yang bakal buku ini berikan untuk kamu
sebuah argumen (atau bahkan puluhan argumen) yang akan membuatmu yakin mengambil gaya hidup ini sebagai pilihan. Ga hanya menceritakan gimana awalnya Fumio memilih untuk menjadi seorang minimalist, di buku ini kamu juga bakal dikasih tau 55 cara untuk bisa say goodbye sama barang barang kamu dan bagaimana dampak yang diharapkan setelah kamu berhasil melepaskan apa-apa yang tidak seharusnya ada di rumahmu.

Semua barang banget gitu, Lis?

lebih tepatnya "things" that not important for our live
Jadi, fyi, menjadi minimalist itu ga ada formula khusus. Minimalism will do different way on every kind of person. Kita ga boleh -dan ga akan bisa- membandingkan berapa banyak yang musti seseorang punya atau apa saja yang harus dimiliki untuk jadi seorang minimalis, no, no, no. Minimalism akan mengajarkan setiap orang dengan caranya sendiri-sendiri. Di sinilah uniknya, minimalism bahkan diklaim akan mampu menunjukkan siapa sebenarnya dirimu ketika tidak didistraksi oleh ads, media, atau peer pressure bahkan mungkin family pressure. You as yourself -truly you.

sekeren itu buku ini?
banyak juga kok yang kontra buku ini, banyak juga yang skeptis gimana bakal bisa hidup tanpa banyak barang kayak Kak Fumio, which is malah bikin aku ketawa, karena Kak Fumio ga pernah sama sekali state tentang jumlah barang yang kudu dimiliki untuk jadi seorang minimalist, bahkan dia juga bilang bahwa sangat mungkin enjadi minimalist dengan tetap sedetil itu dalam memilih barang (brandnya, kualitasnya). Jadi minimalism is not being look poor ya. Aih ini mah salah tangkap Sissy.

Plus, kamu mungkin akan menemukan beberapa hal yang Kak Fumio kontra sama Tante Marie Kondo. Di sini pemikiran kita soal kepemilikan dan filosofi di baliknya akan semakin diperkaya. Aku sendiri merasa ga semua kata-kata Tante Marie itu relate sama aku 100%. Dan beliau agak ngambang soal decluttering, di mana kuncinya adalah spark joy -aja. Nah, Kak Fumio semacam menutup puzzle susahnya mengenali spark joy dengan 55 cara untuk bisa pisah sama barang-barang yang ga penting untuk hidupmu. Termasuk, barang yang mungkin sebenarnya masih spark joy. 

keknya aku belum bisa deh Lis untuk get rid from my stuff
Ya gakpapa. Kak Fumio aja butuh waktu sekitar 5 tahun untuk bisa menemukan formula minimalism yang pas buat dia. Kalau aku baru mulai tahun lalu dan ke-skip tahun ini karena sedang di negeri orang (aku udah gatl banget pengen decluttering ya Allah) maka perjalanan untuk bisa nyaman sama lifestyle ini masih panjang. Lets enjoy it. Baca bukunya dulu, blogwalking ke tulisan-tulisan mereka yang udah nyobain minimalism, dan tentu saja grounding ke dalam : apakah minimalism ini bakal berguna buat kehidupan kamu atau ga.

Lis, aku ga punya kebiasaan belanja, barangku ga banyak, apa aku masih perlu baca buku ini?
Jawabannya adalah ilmu ga dateng dengan tidak sengaja. I mean, semua yang pernah mampir dalam hidup kita itu Allah sudah atur. Kamu baca tulisan ini juga bukan ga sengaja. Ada yang sudah mengatur. Aku ga pernah tau apa takdir yang akan dibawa oleh tulisan ini buat kamu. Apakah kamu akhirnya akan menyelami lebih dalam dan belajar lebih jauh atau memilih untuk melewatkannya begitu saja, its up to you, bebe.

Fumio Sasaki berlatarkan apartemennya setelah memutuskan untuk hidup ala minimalist


So, the conclution is...
I really recommend this book as a lite (but deep) essay book about minimalism. Selain tentang minimalism itu sendiri, Kak Fumio share ke kita bagaimana kehidupan modern sekarang ini telah banyak mendistraksi pemikiran dan pilihan-pilihan -namun sayangnya tidak melulu bagus. Ingin menjadi seperti di majalah itu seolah-olah kita yang sekarang sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Menjadi minder hanya karena tidak seperti teman kita yang punya A B C D sampai Z. Merasa tidak hebat karena tidak populer seperti si X. Hal-hal kayak gini bakal bisa ketemu solusinya salah satunya lewat minimalism -a conscious living. Oiya, kalau kamu suka bukunya Om Mark yang judulnya Bodo Amat itu, maka isinya akan relate dengan buku Kak Fumio. Then, happy reading!




Judul Buku : Goodbye, Things (on Minimalist Living)
Penulis : Fumio Sasaki
Penerbit : Penguin Books (2015)
Jumlah Halaman : 254
Goodreads Rating : 3,8
You can buy this book on : Book Depository 





Komentar

  1. Aku masih agak bingung sebenernya dengam konsep minimalism dan standar hidup minimalis tiap orang itu beda-beda deh. Menurut kita banyak menurut mereka itu udah cukup begitu sebaliknya. Kalo soal decluttering sih aku coba rutin melakukannya tiap bulan. Terus jadi mikir banget kalo mau bebelian biar ujung-ujungnya nganggur dan malah disumbangin ��

    Thank youuu Mba rekomendasinya! Bukunya Marie Kondo aja belim baca-baca nih aku hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, memang formula minimalis iti berbeda untuk tiap orang, tricky nya mungkik di situ ya. Yang bisa merasakan ya memang diri kita sendiri. Tapi kalau masih banyak banget gitu barang barang di rumah, ya belom bisa dibilang minimalis siy menurutku.

      Marie Kondo aku serap konsepnya, kalau metodenya baru bisa berhasil dengan sedikit ketelatenan kayaknya 🤤

      Hapus
  2. Decluttering selalu menjadi perjuangan saya sejak jaman masih single, apalagi sekarang setelah anak udah tiga. Rasanya udah banyak barang di rumah disingkirkan, tapi kok, perasaan rumah masih keliatan banyak barang, ya? :))

    Anyway, terima kasih rekomendasi bukunya ini, Mbak Athiah. Salam kenal dari saya, Diar, pembaca baru blog Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Diar, welkam di rumah menulisku 😁

      Hehe, declutter untuk family memang sepertinya harus ada strategi tertentu ya Mba? Apalagi kalau masih ada rencana nambah anak, biasanya jadi masih banyak barang bayi yang disimpen (itu mah saya)

      Semoga lain waktu aku ada rejeki baca buku minimalism khusus untuk yang sudah berkeluarga, mari kita cek cek apa bedanya.

      Hapus
  3. Belum pernah baca bukunya tapi pernah baca artikel tentang Fumio ini. Ngobrolin sama suamiku tentang hidup minimalist trus yang ada kita malah ngakak bareng-bareng. Soalnya di rumah ada panci 4 buah, trus mikir mau dikasihin siapa ya soalnya kepenuhan lemarinya. Eeeh malah ada yang beliin kita panci 1 lagi. Padahal aku di rumah juga masaknya air mulu :)).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, bisa bertahap kok Mom, Fumio aja jalan hampir 5 tahun baru bener-bener menemukan formula minimalis yang paling tepat untuknya.

      Kalau memang Mom membutuhkan 4 panci (bahkan lebih), ga akan dilarang, asalkan bener-bener memberikan value :p Kalau cuma buat masak air, mungkin sebaiknya panci diikhlaskan untuk diadopsi (hahahaha)

      Hapus

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan Populer