Menapaki Jalan Ibu Pembelajar

Tak terasa, Februari lalu Kakak telah memasuki usianya yang kelima. Masih terbayang di benak saya, betapa rasa takut merasuki dada tatkala mengetahui ada kemungkinan saya hamil kembali. Bukannya kami tidak menginginkan kehamilannya, terus terang saat itu kami masih merasakan sedihnya harus mengakhiri kehamilan sebelumnya karena ektopik. Dan perasaan itu masih terasa sekali hingga kurang lebih 8 bulan kemudian. Kami benar benar bersyukur saat Allah mengijinkan kami masih bersamanya hingga hari ini, bahkan juga membersamai Adik.

Saat usia Kakak tepat 5 tahun, maka tepat 5 tahun pula seorang wanita bernama Athiah ini menjadi seorang ibu. Jalan yang saya tapaki selama 5 tahun iiu, naik dan turun, lurus dan berkelok, kadang senang, kadang sedih, kadang bingung, sesekali khawatir. Namun satu yang pasti, menjadi ibu membuat saya harus terus mau belajar. I mean, siapa sich yang dari awal menikah sudah tau aneka jenis dinosaurus? Dinosaurus ya dino, apapun bentuk kepala atau punggungnya. Ibu baru bakal sooook ahli dino saat tau anak lelakinya dino-freak (like mine). Atau siapa sich yang dari awal mengandung sudah paham bagaimana cara ngajarin anak membaca (kecuali Mama guru PAUD :p)? They grow up everyday, and (hopefully) me too.


Ingin menjadi sebaik-baik Ibu

Dan memasuki tahun kelima ini, saya semakin sadar akan pentingnya menjadi sebaik baik ibu (versi keluarga saya -di mata anak dan suami saya). Meski saya yakin Allah telah menyematkan fitrah sebagai ibu dalam setiap diri seorang wanita, namun mendampingi anak yang terus berubah kebutuhan pendampingannya tidaklah mudah. Banyak ahli parenting yang menyampaikan fakta (yang 100% saya sepakati) di mana : banyak orang tua (secara sadar atau tidak) akhirnya mengasuh anak dengan gaya yang persis sama dengan bagaimana dulu ia diasuh. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah pengasuhan orang tuanya dulu ? Positifkah ? Merusakkah? Di sinilah pentingnya memahami bahwa peran menjadi orang tua membutuhkan ilmu adalah sebuah keniscayaan. 

Dalam proses pencarian tempat dan teman belajar, akhirnya saya bertemu dengan Institut Ibu Profesional. Di sini -meski perkuliahannya berlangsung online- saya merasakan manfaat luar biasa termasuk di dalamnya : perubahan mindset mendasar tentang siapa ia iu yang berkarakter sebagai ibu profesional. Seperti disampaikan oleh Ibu Septi, selaku founder IIP, dalam berbagai kesempatan, hanya dengan selesai pada diri sendirilah, seorang wanita akan memiliki energi untuk "mengurusi" atau "memperhatikan" orang lain di luar dirinya -termasuk suami dan anak-anak. Serta betapa mulianya tugas serta peran sebagai ibu dengan apapun kondisinya saat ini, bekerja di ranah domestik maupun non-domestik, setiap Ibu berhak menyandang gelar ibu profesional. 

And thats what relieve me, sejujurnya tidak mudah untuk bisa menyelesaikan tuntutan peran ketika peran yang dipilih banyak menuai kontroversi (bahkan di kalangan ulama pun ada yang secara ketat meminta ibu di rumah saja). Namun saya berharap Allah-lah sebagai sebaik-baik Penolong saya. Kewajiban saya hanyalah berdoa lalu berikhtiar, sedangkan hasilnya semata-mata hak prerogratif Alah. Nomor satu, Allah ridho. Nomor dua, suami ridho. Netijen tidak ridho? I am not live for netijen *eh kok saya jadi ngegas.

Maka dari itu, semenjak saya menemukan rasa yang nyaman serta manfaat yang nyata selama berkuliah di Kelas Matrikulasi (kelas persiapan), saya memutuskan untuk belajar di kelas Bunda Sayang. Selain tentu saja karena saya haus sekali ilmu di kelas Bunda Sayang. Kelas ini merupakan level paling bawah sebelum bisa sampai ke level Bunda Cekatan, kemudian Bunda Produktif, dan terakhir Bunda Saleha. Bunda Sayang berfokus pada penetahuan mengenai pengasuhan yang mudah sekaligus menyenangkan (sebagian di antaranya : mulai dari komunikasi, finansial, bahkan mengasah kreativitas anak). Oiya, salah satu hal yang saya sukai dari sistem perkuliahan IIP, selain kurikulumnya yang terstruktur, CoC nya juga ketat -sehingga kedisiplinan serta adab menuntut ilmu benar-benar tegak. Bila ada siswa yang tidak memenuhi rambu tersebut, maka IIP berhak untuk memberhentikan perkuliahannya. Fair right?

Belajar Saat Telah Menjadi Ibu ?
Fix, its all about commitment and time management. Bagaimanapun saya memilih secara sadar tanpa paksaan dari siapapun untuk belajar di Kelas Bunda Sayang. Bahkan ketika tidak memilih untuk belajar bersama ibu-ibu lainnya di kelas ini, saya tidak mau berhenti belajar. Hanya saja dengan sistem perkuliahan yang sudah cukup matang (jadwal, kurikulum dan skema ketuntasan belajar), memang dibutuhkan strategi khusus untuk dapat mengikuti perkuliahan sebaik mungkin. Seperti sekarang -jam di laptop saya sudah menunjukkan pukul 3 pagi, kemarin saya masih nyaman di dunia mimpi, hari ini saya secara sadar memilih untuk menyelesaikan Nice Homework. So, bagi saya, belajar setelah menjadi ibu artinya harus memiliki komitmen. Kemauan untuk tetap pada jalur meski di tengah jalan ada godaan :p


Tentu saja untuk memiliki komitmen, seseorang harus memiliki niat yang kuat terlebih dahulu. Niat diikat dengan komitmen, insyaAllah tahan deh sama godaan - kecuali jika Mama menemui kondisi force major (walaupun banyak juga inspiring story dari siswa IIP yang tetap mampu menyelesaikan perkuliahan meski sedang sakit parah atau menemui kondisi lain yang sebenarnya normal baginya untuk memilih berhenti) tentu amat dimaklumi bila proses pembelajaran terkendala. 

Setelah berkomitmen, perbaiki dan jaga time management. Saat ini saya sedang menjalani cuti di luar tanggungan negara, sehingga aktivitas keseharian saya full domestik. Namun meski full domestik, bukan berarti tidak ada tugas sama sekali bukan? Xixixi, ya nyebokin, ya ngajakin main, antar jemput anak, ibadah, sehingga meski tidak diikat dengan jam kantor, saya tetap harus punya alokasi untuk seluruh kegiatan. Itulah mengapa menurut saya, setiap ibu harus mampu memilih apa yang prioritas, apa yang bukan prioritas. Bila telah memilih kegiatan sebagai prioritas, maka alokasi waktunya harus tersedia. Sedangkan hal-hal tidak prioritas hanya dilakukan bila ada sisa waktu. Bagi saya, paling nyaman ya pas anak anak bobok atau sedang main dengan Abahnya. Di sinilah -selain time management- wajib pula membangun sebuah support system. 

We are not wonder woman girl, walaupun biasa ngangkat galon sndiri juga :p. Suami dan siapapun yang berada dalam lingkungan inti di rumah tangga kita adalah sistem yang bisa kita minta tolong untuk mendukung penuntasan peran ibu. Malah bonding  kita makin lekat loh sama mereka, karena simbiosis mutualisme dalam sebuah keluarga itu penting sekali. Jadi tidak ada yang merasa jadi yang paling, yang paling banyak berkorban, yang paling berguna, yang paling kerja keras. No. Everyone has their own rule, with their own responsibilities.

Ada ga siy yang tetep jalan meskipun tidak memiliki support system atau support-nya kurang kuat ? Ada pasti, itulah yang dinamakan proses. Berumah tangga pun tidak selamanya adem ayem, wanita sebagai ibu sekaligus istri kadangkala membutuhkan trik khusus untuk bisa menjalankan proses pembelajaran meski belum 100% diterima oleh lingkungannya -beri ruang untuk mereka beradaptasi juga ya, dan belajar menerima apa yang sudah kita pilih sebagai bagian dari keseharian dalam keluarga. Yeah, we cant control others. But we always can control ourself kan?

nikmatin aja, chill aja, selow aja

Saat Matrikulasi lalu, saya memilih mengirimkan semua Nice Homework (disingkat NHW) melalui Google Doc, dengan beberapa alasan (terutama terkait privasi) saya memilih untuk tidak mem-publish dokumen tersebut ke khalayak ramai. Namun, untuk kelas Bunda Sayang, selain mengikat ilmu dengan mencatat (semoga Allah memudahkan) di jurnal, saya juga bertekad untuk membaginya lewat blog ini. Itu artinya, hampir semua NHW (termasuk tantangan 10 hari yang sungguh challenging itu) bisa diakses oleh siapapun yang kebetulan/sengaja mampir kemari. Semoga bermanfaat ya nanti ~

Adab, Ilmu dan Amal
Tidaklah sempurna menjalankan amal tanpa memiliki ilmunya, dan tidaklah bermanfaat memiliki ilmu tanpa menegakkan adabnya -mamajagoan
Adab saat menuntut ilmu adalah pemahaman yang wajib dimiliki dan diamalkan oleh setiap siswa di IIP. Tuna adab berakibat pada rusaknya lingkungan belajar serta kemuliaan seseorang, dan dampak yang paling buruk yang dapat saya simpulkan adalah : ilmu-pun akan menjauh darinya.

Sesuai dengan materi pertama kelas Pra-Bunda Sayang yang disusun oleh Tim Bunda Sayang, adab menuntut ilmu mencakup 3 hal, yaitu adab terhadap diri sendiri, adab terhadap guru dan adab terhadap sumber ilmu. Berikut infografis yang saya buat untuk merangkum ketiga aspek adab tersebut.


Dari ketiga aspek yang harus dijaga oleh setiap siswa, terus terang yang saya takutkan adalah salah satu poin dalam aspek adab terhadap diri sendiri, yaitu : sikap merasa lebih tau. Padahal ilmu tidak akan masuk ke dalam gelas yang tertutup bukan? Untuk itu, kali ini dan seterusnya saya berkomitmen untuk membuka gelas dalam setiap kelas yang saya ikuti. Dengan mengubah pandangan atas sebuah ilmu, saya yakin akan selalu ada hal baru yang Allah hadirkan untuk bisa saya ambil manfaatnya lebih dari saat saya pertama kali mengetahuinya. Repetition is a glue.

Akhirnya, dengan mengucap bismillah, saya berdoa semoga perkuliahan Bunda Sayang kali ini bisa menjadi salah satu jalan yang membawa saya (serta ibu-ibu lainnya) menemukan kemuliaan peran sebagai seorang ibu dalam mengasuh putra-putri saya. Hanya dengan menapaki jalan para ibu pembelajar ini , saya yakin akan ada cahaya menuju ke sana. InsyaAllah.

You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation -Oscar Wilde

Salam dari Canberra dan langit birunya,




Pict source
www.unplash.com (creative art by me)
Infografis by me with Canva


   

Komentar

  1. Saya baru daftar batch 7 dan jalan NHW 7 hehe memang betul-betul digembleng di matrikulasi, banyak 'plak' momen bikin ngaca diri sendiri. Semangat belajar Mamajagoan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya merasakannya juga dulu Mom, tapi setelah terlewati dan lulus malah bikin ketagihan. Nanti lanjut ke BunSay ya ;p

      Salam kenal, btw ~

      Hapus
  2. semangat belajar bunda
    menjadi ibu itu tidak mudah ya ternyata untung ketemu dengan IP

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sekali tidak mudah Mom Dyah, learn alot from IP alhamdulillah ~

      Hapus
  3. belum pernah ikutan IIP. Baru dengar dan baca2 tulisan teman, yang akhirnya jadi sumber ilmu juga buat saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah ~ bila memang membutuhkan, jangan sungkan gabung ya Mom :)

      Hapus

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan Populer