ReviewNgasal : Turn Up Charlie (Is Family Always Become First?)

Sudah dua bulan terakhir ini saya berlangganan Netflix. Menimbang-nimbang biaya langganan dibandingkan menonton bioskop, akhirnya saya mantap memilih Netflix saja :p Sebelumnya saya pernah menyewa film di Youtube dan merasa rugi setelah tau Netflix :p Walaupun Netflix tidak memutar film-film yang sedang diputar di bioskop, tetapi reality show maupun film orisinilnya lebih menarik menurut saya. 

Beberapa malam lalu saya menyelesaikan salah satu film berdurasi sekitar 25 menit per espisod yang keseluruhannya ada 8 episod bila saya tidak salah ingat. Sejujurnya saya tidak mencari reviewnya terlebih dahulu dan tertarik menonton karena trailernya sepertinya seru. Filmnya berjudul "Turn Up Charlie".

Sebagai film bergenre dewasa, film ini tidak saya sarankan untuk ditonton bersama anak-anak, lumayan banyak adegan 17+ soalnya. Enaknya Netflix (bukan TV) ya tinggal di-skip saja pas adegan-adegan seperti itu. Jadi bisa lebih fokus ke alur cerita deh :p

Mulai yuk reviewnya~

Pertama, ayok kenalan sama tokoh dalam cerita. Tentu saja yang pertama ada Charlie (saya ga pinter bahas acting, lighting, pengambilan gambar, bla, bla, bla, jadi jangan berharap saya akan membahasnya ya :p), ia adalah mantan superstar yang pernah hits di masa mudanya namun jatuh miskin dan meredup semenjak terjerat obat-obatan dan wanita (hmmm, all of us know this, memang ketenaran bila tidak disikapi dengan bijak bakal melenakan dan malah menghancurkan). 

Dari kiri ke kanan : Charlie & David | Pict Source
Akibat ketidakbijakan di masa lampau, saat ini Charlie harus menumpang di rumah bibi-nya, Aunt Lidya. Menetap di London, Charlie berharap kelak karirnya akan meroket kembali. Di tengah usahanya untuk merangkak ke puncak, Charlie bertemu kembali dengan kawan lamanya, David. Berbeda dengan Charlie yang sedang redup, David adalah artis Hollywood dengan karir yang sedang di puncak. Bersama istri (Sara) dan anaknya (Gabrielle), David memutuskan menetap di London setelah beberapa tahun terakhir selalu berpindah. Di London, mereka ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk putrinya, Gabs.

Inti cerita dimulai saat scene menayangkana adegan di mana Gabs lagi-lagi membuat pengasuhnya menyerah. Gabs adalah anak yang cerdas menurut saya. Ia selalu berusaha membuat pengasuh-pengasuhnya menyerah karena jauh dalam lubuk hatinya : "ayah dan ibulah yang seharusnya mengasuhku".

 Sara dan Gabs | Pict Source 
Tepat di saat pengasuh terakhirnya memutuskan untuk berhenti, Charlie sedang bertamu ke rumah mereka. Sebagai bagian dari upaya membuat Gabs mau diajak bekerjasama, ayahnya mengajak Gabs berbelanja ke sebuah butik ternama. Di tengah keasyikan berbelanja, David terpaksa harus meninggalkan Gabs bersama Charlie untuk urusan pekerjaan. Terpaksa plus mau tak mau, Charlie pun akhirnya mengajak Gabs berbelanja. Berbeda dengan para pengasuh Gabs sebelumnya, kali ini, berhasil membuat Gabs merasa senang dan 'tidak berulah'. 

Entah atas inisiatif Sara atau David, akhirnya mereka meminta Charlie untuk menjadi 'nanny' untuk putri kesayangan mereka. Apakah Charlie akan menerimanya ? Dan Apakah akhirnya karirnya akan kembali atau sebaliknya?

Silahkan kalian menonton lebih lanjut ya, saya tidak tuliskan detil ceritanya agar kalian tetap ada rasa penasaran saat menontonnya.

Sebagai gantinya, saya akan membahas beberapa hal lain yang berasa cling menurut saya untuk dibahas dan ditulis agar #ReviewNgasal ini lebih berfaedah.

Tentang Kesuksesan : Fake it or always be honest ?
Pernah mengalami kesuksesan luar biasa, Charlie tidak siap untuk jujur pada orang tuanya bahwa ia telah lama menjadi DJ underdog. Tidak memiliki karya bahkan tidak berpenghasilan. Namun demi memastikan bahwa orang tuanya merasa bangga padanya : he fake it. Charlie mengirimkan sisa-sisa tabungannya untuk membuat orang tuanya percaya bahwa ia sesukses saat ia benar-benar sukses. Namun di tengah keputusasaannya untuk meraih kembali kesuksesannya akhirnya ia jujur mengatakan bahwa kini ia bukanlah Charlie yang dulu. 

Saat menonton adegan ini, saya merasa sebagai orang tua seringkali kita lebih bersikap menuntut dibanding menerima. Ketidaksiapan kita memiliki anak dengan level kesuksesan biasa saja sangat mungkin menjadi beban berat bagi anak-anak. Saya yakin ada banyak di antara kita yang menutupi ketidakberdayaan kita di hadapan orang tua demi membuat mereka tenang dan mungkin tidak berbeda rasa saat bertemu kita. I mean,  berapa banyak orang tua yang masih membeda-bedakan sikap terhadap anak-anaknya berdasarkan apa yang bisa anak-anak mereka berikan. Berapa banyak orang tua yang masih membandingkan antara kakak dan adik hanya karena materi. Berapa banyak orang tua yang terus menuntut agar anak sesukses anak tetangga tanpa melihat lebih jauh ke dalam hati sang anak.

Mengharapkan anak untuk sukses jelas tidak dilarang, itulah tugas kita untuk terus mendampinginya. Namun bila kelak anak-anak tidak/belum mencapai kesuksesan seperti yang kita harapkan : pastikan bahwa kita menjadi orang tua yang tidak berkurang rasa cinta maupun penghormatan kepada keturunan kita sendiri.

Bukan kesuksesan anak di dunia yang membuat kita beruntung, namun kesuksesannya di akhiratlah yang akan menjadi investasi tak ternilai seberapapun tingkat kesuksesannya di dunia dulu. 

Friends : Can You Used Them To Make Your Dreams Comes True?
Demi memperoleh tujuan, ada kalanya teman menjadi benalu atau sekedar batu loncatan? Tentu saja teman saling mendukung obsesi masing-masing, friends support friends. Tetapi saya kok ga sreg ya kalau ada yang secara sengaja menggunakan teman. Ga etis gitu. Apalagi kalau diam-diam. Hemmm ...

Gimana kalau terang-terangan minta bantuan teman? Nah, untuk bisa sampai titik ini tentu kita sudah bener-bener sahabat dekat. Kalau belum, sepertinya juga harus hati-hati agar jangan sampai hubungan merenggang karena teman merasa "digunakan". Apalagi kalau setelah tercapai tujuan tetiba menghilang dari peredaran. Dah itu mah namanya benalu!

Be Their Friend : Success Tips To Face Your Teenagers
Usia teenagers dianggap sebagai usia anak paling susah diatur. Well, padahal sebenarnya kenapa mereka terasa lebih susah diatur karena mereka sudah mulai bisa memikirkan segala sesuatunya lebih komprehensif dibanding saat masih usia di bawah <10 tahun. Punya anak teenager bisa jadi terasa seru dan menyenangkan, sebaliknya bisa terasa menekan dada luar biasa.

Di film ini Charlie berhasil menunjukkan bedanya menjadi otoriter versus menjadi egaliter. Ternyata menghadapi anak-anak usia teen lebih mudah ketika kita masuk saja ke gerbong mereka dan jangan berisik (pinjam isitilah ini dari Mak Diena Pakar TM Anak). Berbicara hanya ketika mereka minta dan ikutilah arus selama tidak berbahaya.

Gab yakin bahwa dia adalah anak hebat -begitulah yang dikatakan kedua orang tuanya kepadanya. Ternyata kehidupan nyata yang sebenarnya di sekolah tidak 100% mendukung asumsi tersebut. Nyatanya dia tetap mengalami masalah di sekolah. Di sinilah Charlie berhasil masuk tanpa Gabs merasa digurui.

Saat kita berhasil menempatkan mereka sebagai sosok yang sudah mampu merasa dan berpikir, yang kita lakukan akan membuat mereka mau melakukan hal yang sama kepada kita.

Which One You Will Choose? Family or Carrier?
Saat karir mulai meroket dan memintamu memilih antara karir atau keluarga, mana yang akan kamu pilih ? Di sini kita bisa melihat bagaimana David -ayah Gabs yang sudah dewasa pun belum bisa 100% menunjukkan bahwa karir hanya akan dirasakan sebagai kebanggaan oleh istri dan anak bila mereka dilibatkan dalam pencapaian kesuksesan tersebut. Bila tidak, maka kesuksesan tersebut akan dianggap sebagai : sikap egois. Apalagi bila ternyata setelah karir dikejar keluarga tertinggal *huhhuhu -na'udzubillah

Meski masyarakat seringkali hanya menunjukkan 'kepedulian' kepada ibu, namun ayah sudah sepatutnya juga memperhatikan perannya sebagai pangayom dan pemimpin keluarga. Meski tanggung jawab mencari nafkah berada di pundaknya, menyeimbangkan peran keluar dan ke dalam tetap harus menjadi prioritas.

Dalam film ini, mom akan melihat salah satu contoh kondisi ketika seorang ayah memilih berkarir tanpa memperhatikan perasaan istri dan anaknya. Akankah David berubah pikiran?

Anak-anak akan dengan mudah memilih orang 3 bila orang tuanya tidak ada untuknya
Ini salah satu inti cerita yang patut untuk kita pikirkan bersama sama. Betapa banyak juga kasus di sekitar kita ketika anak anak menjadi korban penculikan bahkan naudzubillah pembunuhan oleh orang tak dikenal yang memberinya perhatian lewat sosial media. Hal ini membuktikan bahwa anak anak yang kurang mendapat perhatian di rumah maka akan memenuhi rasa hausnya di tempat lain. Sayangnya, tidak semua berniat baik kepada anak tersebut.

Dalam film ini, bahkan kebaikan Charlie telah membuat hati Gabs dengan mudah berpaling dari ayah dan ibu kandungnya sendiri. Saat itu, sayangnya David dan Sara tidak begitu paham apa arti "perhatian" bagi seorang anak. Jelas bukan kesempatan bebas memilih apa yang mau dibeli atau mau makan apa, sekolah dimana, atau perhiasan apa yang mereka mau, tapi perHATIan. Hati! Jadi bukan uang matternya, melainkan hati untuk anak anak.

Huwaa, akhirnya selesai juga niy #ReviewNgasal plus sedikit bahas bahas hikmah di series nya Netflix Turn Up, Charlie. Semoga ada manfaatnya ya 😍

Salam,


Komentar

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan Populer