Family & Beyond

Talk about family means talk about everything for me. A dunya journey that hopefully will end at jannah. How about you? -mamajagoan
Hola from Canberra yang mendingin luar biasa semenjak memasuki musim gugur (belum winter loh ini :p sudah brrrr). Laman cuaca masih menunjukkan angka yang belum terlalu rendah sebenarnya (karena saat musim dingin nanti suhu akan melorot hingga -4 dercel >,<), berkisar di angka 10-12 dercel.

Its been almost end. Our time in here. Abah per bulan lalu memasuki semester akhirnya di Crowford. Semakin tekun menghadapi data-datanya di layar notebook. Kalau tidak saling paham, rasanya sebagai satu-satunya orang dewasa selain beliau di rumah, aku bakal sering ngamuk. Aka tantrum :p Seolah-olah dikacangin. Padahal ya memang waktunya sekarang untuk fokus menyelesaikan studi. 

Kakak sudah mulai enjoy dengan sekolahnya alhamdulillah. Selalu semangat ketika pagi diminta bangun dan bersiap untuk sekolah. Di sekolah, Kakak mendapat banyak stimulasi baik kurasa, semakin hari anak gadisku terlihat makin dewasa (sesuai usianya tentu saja). Ia mulai nyaman mengungkapkan pendapatnya sendiri, berani berbeda dengan orang lain dan nyaman berteman dengan siapapun. Semakin menunjukkan bahwa dia tipe orang yang care others. Tau siapa saja yang tidak hadir ke sekolah hari ini dan kenapa tidak hadir. Juga isi ceritanya berkisar tentang bagaimana teman-temannya tadi di sekolah hari itu. Sudah tidak cemberut bila diajari atau diberitahu bahwa ada cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu. Dan bisa bermain dengan adik sangat jauh lebih akur daripada beberapa minggu sebelumnya.



Adik ? Alhamdulillah aku dan mas masih berjuang mendorong dia mau belajar pee dan poo di toilet. Masing-masing anak memang benar temperamennya berbeda, adik tipe yang cepat belajar sesuatu, tapi entah mengapa soal toilet training ini cukup menantang bagi kami untuk mengajaknya mau memulai. Sebenarnya ini bukan 100% problematika adik, memulai toilet training  di sini cukup membingungkan karena lantai granny house yang kami tinggali seluruhnya tertutup karpet (tentu saja kecuali toilet :P). Ahh ~  I just wait till we back for good on June insyaAllah. 

Akhir-akhir ini, karena kesehatanku sedang agak menurun, adik jadi lebih sering nonton TV (duh). Satu-satunya cara agar ada hal bagus yang masuk adalah mengajaknya berdiskusi tentang cerita yang sedang ia tonton. Agak bersyukurnya karena di sini stasiun TV khusus anak-anak tidak pakai iklan :p . Iklan khusus anak-anak pun tidak ada, jadi dari segi tontonan tidak begitu banyak risiko. Risikonya satu : kecanduan TV. Duh semoga ga sampai deh! Semoga aku bisa segera sehat kembali 100%, bisa lebih banyak menemani adik eksplorasi ke alam, daripada seharian memandangi layar bergerak *fiuhh 

Oiya, soal berkeluarga di Canberra, dengan kondisi suami sekolah, saya di rumah, Kakak sekolah dan adik di rumah, jelas ada enak ga enaknya. I mean, ga selalu kok tinggal di luar negeri lebih enak daripada tinggal di Indonesia. Soal akses untuk umum, jangan ditanya ya. Namanya juga negara maju, mulai dari transportasi, pendidikan, kesehatan, memang jauh lebih memuaskan di sini. Tetapi soal musim (bisa panas banget, bisa dingin banget), kalau saya pilih iklim Indonesia banget. Belum lagi kemudahan akses belajar agama dan lingkungan yang Islami. Dan jangan lupaaa : makanan, I never ever can switch Indonesian cuisine with ohers.

Balik ke berkeluarga, di sini aku belajar banyak hal soal pembagian peran suami dan istri yang benar-benar ga bisa kulihat di Depok dan wilayah lain yang kukunjungi. Ayah adalah sosok normal yang mengajak bayinya belanja ke swalayan tanpa ada ibuknya. Beneran, pas pertama kali liat, aku amaze banget loh! Wow! Keren euy bapak-bapak dimari. Itu anak yang dibawa bukan balita loh ya, bayi, under 1 yo. Ya, kita ga bakal liat mereka gendong pakai jarik siy *please. Paling sering pakai stroller, kalaupun digendong, pakainya gendongan yang model carrier. Anter anak ke sekolah, dateng ke acara anak di perpustakaan, jalan-jalan di taman, biasa banget ada pemandangan kayak gini. 

Kedua, selain ayah biasa bawa anak bayi sendiri tanpa ibunya, di sini ayah ayah biasa gantian jemur baju :p Ya kalau gantian jemur baju aja biasa apalagi beberes rumah dan masak kan? Aku ga tau ini berlaku di semua rumah tangga atau ga, tapi profesor mas suami (profesor loh ini) done that at his home. Pak profesor dapat giliran masak, dapat giliran bebersih dapur/sekitar rumah, juga tentu saja jadwal ngajakin anjing peliharaannya jalan jalan keluar.

Bagiku potret keluarga kayak gini semacam jadi cermin untuk berkaca. Kalau mereka yang non-Muslim aja bisa sedamai itu membagi dan menanggung peran di dalam rumah tangga -antara orang tua dan anak-anak- masa aku dan keluargaku ga bisa siy? Padahal jelas agamaku ngajarin bahwa dalam berkeluarga artinya saling bantu dan bahu membahu. Ga ada yang merasa paling. Paling banyak berkorban, paling banyak jasanya, paling besar otoritasnya, No, semuanya punya peran dan tanggung jawab untuk jagain rumah bareng-bareng. 

Pengen banget kelak ketika balik ke Indonesia, aku bisa nerapin model pengelolaan rumah kayak di atas. Ga tabu buat laki-laki untuk mengerjakan domestic core.  Dan ga salah untuk perempuan juga punya aktivitas selain domestic core. Ga harus keluar rumah tentu saja, tetapi tetap diberi peluang untuk berinvestasi pada dirinya sendiri dan berkembang sesuai fitrahnya. 

Ahh kind of too many things I shared ya. Sejujurnya aku seneng bisa bikin blogpost yang mengalir kayak gini lagi. Otentik dari hati (ecieh), dan ga melulu serius (apalagi sampai kudu cari keywords yang lagi populer di Google, kapan-kapan deh ini :p) This time I just wanna enjoy what I want to write.

Throwback pas Kakak sama Adik masih under 3 yo semua >,<


Sebagai pesan-pesan sponsor, berkeluarga adalah tentang menemukan. Menemukan ternyata kelemahan kita diterima orang lain apa adanya dan mereka tetap sayang kita 100% (kiss kiss paksu dan anak-anak). Menemukan bahwa mencintai orang lain artinya siap saat mereka gagal. Menemukan bahwa keluarga di atas segala hal yang kita perjuangkan dalam hidup, selalu bisa membuat kita bangkit dan bangkit lagi. Kalau ga bareng keluarga, aku ga yakin ada banyak hal baik yang kuterima dan kepelajari hingga hari ini : terima kasih Abah, Kakak, Adik.


Komentar

  1. Duh, kalimat akhirnya itu lho (':

    Aku juga merasa setelah berkeluarga, aku belajar banyak tentang diri sendiri, belajar berkorban dan mengasihi. Mungkin ini cara Tuhan untuk ngajarin aku tentang bentuk cinta yang lain, yaitu keluarga.

    Semoga Mba dan sekeluarga sehat-sehat selalu, ya, di sana. Sering nulis gini juga oke lho, aku paling suka baca cerita pengalaman orang lain (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Jane, bener yaahh, berkeluarga itu SESUATU 😙 So many things to learn, so many things to feel masyaAllah

      Keluarga Kak Jane juga sehat selalu yaa, semoga bisa sering nulis beginian biar anget blognya 😁

      Hapus

Posting Komentar

Hi, nice to hear your inner-voice about my blog. Just feel free to write it here, but please dont junk :)

Postingan Populer