Terong Lado Mamak Fiona

Sinar mentari menyeruak dari balik jendela. Hangat dan nyaman. Terlalu nyaman untuk bisa memaksa Fiona lepas dari selimut kesayangannya. Tapi suara Mamak memang jawara deh, kok bisa siy suaranya sampai di kamar atas. Padahal kan Mamak pasti lagi di dapur.

"Fioo! Fiooonaaa! Sudah mau jam 6 loh Nonnn. Kamu ga lupa sholat Subuh kan?", ini adalah panggilan Mamak untuk yang ketiga kalinya.

"Sholat? Sudah Makk, Fio udah sholaaa~tt. Tapi bangunnya 15 menit lagi ya Maak!", balas Fiona sambil masih memejamkan mata.

Tiba tiba ada suara kaki berdebam menaiki anak tangga.

"No, Fiona. Setelah Subuh tidak baik tidur lagi ...", jawab Mamak sambil berbisik lembut di telinga anak semata wayangnya. Tanpa babibu, tangan Mamak sigap menarik selimut dari tangan Fiona dan secepat kilat melipatnya bak menggunakan sihir. Fiona yang kaget pun hanya bisa merengek.

"Maaamaaak ...", bulu kuduk Fio seketika berdiri dan mau tak mau matanya mengernyit terkena sinar matahari.

"Sudah waktunya bersiap sekolah, Non. Yuk bangun, mandi terus pakai seragamnya. Asal Fiona tau saja, Mamak sudah tidak sabar melahap habis Terong Lado super pedes kesayangan kamu", Mamak memaparkan perintah mandi sekaligus memastikan anaknya bersemangat sarapan dengan jurus jitu, sarapan dengan lauk terong lado.

"Terong lado? Yay! Siap Bos, laksanakan!", Fiona pun segera melompat dari tempat tidurnya dan melesat masuk ke kamar mandi.

"Yes!", Mamak meninju langit sambil tersenyum puas.



Lima belas menit kemudian, Mamak dan Fiona sudah asyik menyantap masakan spesial ala terong balado super pedas. Sebagai keturunan Minang, masakan khas ini memang sudah sejak lama menjadi favorit mereka berdua. Bahkan sepanjang ingatan Fiona, ia telah mengenal rasa khas ini sejak begitu lama.

Setelah menyelesaikan hampir setengah piringnya, tiba-tiba Fiona bertanya, "Mak, tau ga siy. Dari dulu Fiona penasaran loh sama resep asli terong lado super duper enak ini. Ini ladonya dipisah apa dicampur si Mak? Terus terongnya perlu terong khusus? Terus ..."

"Ssst. Udah habisin dulu", Mamak khawatir Fiona keasyikan wawancara malah lupa sama makanan di piringnya.

"Yah, tuh kan. Kalau Fiona mulai nanya soal terong lado ini pasti Mamak berusaha menghentikan deh. Kan jadi penasaran. Sekali-kali kasih petunjuk kek!", rayu Fiona.

"Mamak yakin Fiona suatu saat juga bisa kok bikin kayak punya Mamak, bahkan lebih enak. Coba perhatikan baik-baik tampilannya dan rasakan pakai lidahmu", jawab Mamak misterius.



"Mamak, emangnya aku master chef bisa nebak gimana cara bikin masakan cuma dari ngeliat tampilan sama nyicip makanan?", Fiona tetap ngotot ingin langsung saja diberitahu rahasia dibalik terong lado khas Mamak.

"Memasak enak ga harus jadi master dulu Non. Kan setiap perempuan nanti pasti jadi ibu tho? Ya, minimal jadi istri. Kalau bisa masak kesukaan keluarga, rumah jadi hidup. Karena dapur loh!", ucap Mamak.

"Wah, tumben Mamak serius bener jawabnya", batin Fiona.

Belum sempat Fiona membalas kalimat ala quote buku-buku terkenal Mamak, tetiba jam dinding berdentang. Itu tandanya sudah pukul 06.30, waktunya berangkat ke sekolah.

"Mak, kalau cari di Google nemu ga ya petunjuk cara bikin terong lado", ceplos Fiona sambil memasukkan makan siangnya ke lunchbag. 

"Yah, masa Mamaknya sendiri dibandingin sama Google. Yakin niy di Google ga salah kasih petunjuk?", mata Mamak berputar ke atas menunjukkan mimik menantang.

"Udah sana berangkat. Lagian kalau Mamak bilang temani di dapur, kamu harusnya temani. Kan kamu jadi bisa tau rahasianya," lanjut Mamak sambil mengeluarkan sepeda Fiona.

"Makasih Mak, Fiona tanya Google aja deh! Hihihi", Fiona sengaja membuat Mamaknya naik pitam.

"Ya sudah. Fiona bikin sendiri saja terong lada hasil googl-ing", Mamak benar-benar marah.

"Ya deh, ya deh. Nanti Fio belajar ya Mak. Assalamualaykum", Fiona tersenyum nakal sambil mencium tangan Mamak.

Seketika Fiona hilang dari pandangan, Mamak pun masuk kembali ke rumah dan mulai membereskan meja makan. "Huh si Fio niy, masa masakan Mamak mau dibandingin sama resep di Google. Dulu lho Mamaknya belajar dari nol ke nenek", gumam Mamak sambil menaruh piring kotor ke bak cuci piring.

Sementara itu, Fiona masih penasaran dengan kata-kata Mamak pagi ini. "Masa siy masak doang bisa bikin keluarga jadi hidup, Mak" gumamnya dalam hati. Tapi ternyata gumaman dalam hatinya belum berhenti,"Tapi terong lado Mamak memang beda. Beberapa kali Fio makan terong lado, tidak ada yang seenak masakan Mamak". 

Beberapa hari lalu, Fiona sebenarnya tidak sengaja menemukan buku dengan kertas yang robak sana sini. Ketika ia buka, terlihat ada coretan-coretan tulisan tangan. Tapi tidak begitu jelas itu apa. Ia hanya berhasil membaca satu kalimat dan kalimat lain tak terbaca. Sepertinya buku itu sudah dipakai berulang kali hingga lusuh dan tulisannya memudar.

"Aha. Apa buku itu buku resep Mamak ya. Sepertinya dari kalimat yang bisa kubaca ada kaitannya dengan masak memasak", Fiona mencoba mengingat lagi bentuk buku itu.

"Ah. Kenapa tiba-tiba aku makin penasaran ya. Aku harus menemukan buku itu lagi. Sepertinya itu satu-satunya petunjuk", Fiona berjanji kepada dirinya sendiri. 



Picture Source :
Ruang makan Photo by Wes Hicks on Unsplash
Terong balado oleh @dhilasina

Komentar

Postingan Populer