Memori

"Sekarang ya, harus keluar sekarang bayinya. Kalau ga, mau ga mau harus caesar."

"Anu, iya Dok. Tapi saya boleh minum dulu ga, Dok?"

---


Itulah sepenggal episod yang kuingat sekitar 3,5 tahun lalu, tepatnya saat melahirkan anakku yang kedua, Ali. Saat itu benar-benar tidak bisa kulupa hingga hari ini, itulah mengapa mungkin ada yang berkata bahwa pengalaman melahirkan bakalan last forever. Selamanya tak terlupakan. Bahkan ketika luka bekas jahitan telah mengering, air susu telah habis, dan anak anak telah menikah, masa-masa melahirkan mereka dulu bakal terus terngiang.

---

Perawat datang membawakan segelas teh manis untukku. Aku segera meneguk secukupnya. Lalu gelombang cinta itu datang lagi. Dokter pun memberikan aba-aba untuk mengejan. Kali ini masih belum berhasil. Arghhhh! Padahal rasanya aku sudah mengeluarkan energi sekuat-kuatnya. Tapi aku tidak boleh menyerah.

"Ayo matanya lihat ke ujung perut", Dokter kembali memberi aba-aba.

Lau tiba-tiba kudengar suara gunting. Episiotomi mau tidak mau harus kuterima. Tidak sakit. Bismillah kali ini ayo lahirlah, Nak!

---

Aku pernah membaca, bahkan Ibunda Maryam (seseorang yang begitu tinggi kedudukannya di hadapan Allah SWT) begitu merana saat melahirkan Nabiyullah Isa as, putranya. Hanya bersama Malaikat Jibril, sendiri di tengah padsang pasir yang tandus, iaberjuang sekuat tenaga."Bolehkah aku mati saja ya Allah", begitu pintanya. Tak pelak bila banyak wanita yang mengingat memori melahirkan sebagai memori yang cukup kelam, bahkan meninggalkan trauma. 

Tapi apakah memori ini yang kita cari dan harapkan dari proses melahirkan jundi-jundi Allah?
---

Gelombang cinta datang lagi. Kali ini aku benar-benar fokus mengejan dengan melihat ujung perutku.

"Blushhhh ~"

Allohuakbar! MasyaAllah. Akhirnya kau lahir juga, Nak!

"Boleh saya IMD, Dok".

"Udah ga usah", jawab Dokter tegas.

Bayiku pun dibawa oleh perawat untuk dibersihkan sedangkan Dokter mulai menjahit robekan yang terjadi. Proses menjahit kurasakan tidak begitu lama, alhamdulillah aku pun tidak merasakan sakit yang amat sangat ketika jarum itu keluar masuk kulit. Setelah berkutat dengan dahsyatnta kontraksi yang datang dan pergi selama 4 hari. Rasa-rasanya semua terbayar sudah saat tau akhirnya ia lahir dengan sehat dan selamat. Apalagi harapan untuk melahirkannya secara normal pun Allah kabulkan. MasyaAllah laa haula walaa kuwwata illa billah ~

---
Dulu, aku tidak tau bahwa melahirkan begitu dahsyat dampaknya terhadap diriku dan hidupku. Kukira ia sekedar peristiwa medis biasa, aku hamil selama 9 bulan lalu bayiku akan lahir. Tapi aku salah kaprah. Hamil dan melahirkan adalah tentang perjuangan. Ibarat lari marathon, aku tidak akan pernah berhasil memiliki energi untuk berlari secepat yang dibutuhkan tanpa latihan. Selama 9 bulan inilah aku wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi hari melahirkan. Di atas semua takdir yang telah Allah takdirkan sejak lebih dari 50ribu tahun lalu, adalah kewajiban manusia untuk berusaha. Maka meski Allah berjanji untuk tak menelantarkan janin yang telah ia tanamkan di dalam rahimnya, tetapi sebagai ibu dan ayahnya, kita berkewajiban untuk menjaganya, bahkan mendidiknya sejak dalam kandungan. Lebih dari itu, kita juga bersiap untuk bertransformasi, dan bagiku bersiap untuk sebuah memori yang akan kuingat selamanya.



---
Oiya, aku lupa menceritakan kepadamu. Bahwa Ibukulah yang setia mendampingiku selama aku menghadapi proses melahirkan Ali. Ia adalah orang yang tepat kukira. Karena Ibu adalah tipe wanita pejuang tangguh. Sifat yang kita butuhkan ketika rasa-rasanya hampir menyerah bukan?

Lalu beberapa saat kemudian Ibu membawakanku kacamata dan hijab (maklum saking buru-burunya hijab sampai tidak ada yang memasangkan, tadinya aku mempersiapkan diri melahirkan di rumah). Dan setelah melihat Ibu sebelah yang juga sedang berjihad melahirkan buah hatinya, Dokter datang lagi mengunjungiku.

"Eh udah cantik," Dokter tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya kepadaku. Aku melihat senyumnya sebagai sebuah rasa bangga. Mungkin saja interpretasiku salah soal itu, tapi biarlah aku menyimpan dalam ingatan seperti itu saja.





Credit :
Picture

Komentar

Postingan Populer