Drama Bingung Puting, Akhirnya Resmi Cerai Dengan Dot

Kalau ada momen paling menyakitkan dalam kehidupan sebagai Ibu, bagi saya itu adalah momen ketika anak menolak menyusu -mamajagoan
Beda anak beda cerita. Begitu kesan pertama yang saya rasakan saat menemui anak ketiga saya tiba-tiba susah menyusu. IYA, DIA LUPA BAGAIMANA CARANYA MENYUSU KE IBUNYA. Astaghfirullohal'adzim, seketika itu juga saya merasa lemah lunglai, stres, you name it! Sejujurnya saya takut masa-masa baby blues saat gagal menyusui anak pertama saya terulang kembali. 

Tidak mau berlarut-larut dengan pikiran buruk, saya pun segera mencari cara agar anak saya kembali mau menyusu dengan lancar. Ini semakin tidak mudah ditambah dengan kondisi saat itu puting saya lecet (karena terlalu bersemangat menaikkan level pompa >,<) dan anak saya diare (which is butuh banyak cairan -kalau kata anak jaksel :p). Bingung mau memprioritaskan yang mana, akhirnya saya memprioritaskan untuk mengajari anak saya menyusu. Sejak hari itu, kami resmi cerai dengat si dot! 

Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu, ga bisa terbayang harus memastikan anak cukup ASI, sambil sedikit sedikit mengajari anak menyusu dengan benar. Alhamdulillah selama 2 hari menunggu bidan kenalan saya datang untuk melihat kondisi kami, si bungsu aman. Dia lebih banyak menolak ketika masih terjaga, tapi saat malam/tidur sebenarnya dia auto-ingat bagaimana cara menyusu yang benar. 

Saat bidan datang, sepertinya dia semakin stres dipaksa menyusu, jadilah sesi kunjungan itu berakhir tanpa ada kemajuan berarti dari drama bingung puting. Tetapi saya cukup lega karena Mba pengasuh berhasil diajari cara memberikan ASIP dengan cupfeeder. Paling tidak, esok hari saya bisa benar-benar menceraikan dot dari anak saya.

Ternyata masalah cerai dot belum selesai. Si Mba merasa kesusahan dan si adek pun demikian, menolak diberi ASIP karena sering tersedak T,T Bagaimana ini! Browsing lah saya aneka media pemberian ASIP non dot yang disarankan oleh para konselor -WALOPUN TELAT BANGET(thanks AIMI dan buibu yang sudah mau berbagi ilmunya), lalu yang saya pasti sudah punya hanya 2 : cupfeeder dan pipet. Tapi keduanya saya rasa masih kurang praktis. Akhirnya saya putuskan untuk membeli Medela soft-cup feeder. Mahal? Banget. Tapi lebih mahal bonding saya dengan si adek. Bismillah, saya cuma bisa berdoa semoga perjalanan memberikan ASI semakin mudah dengan soft-cup feeder.

Jadi, softcupfeeder ini ujungnya seperti sendok namun empuk. Pemberi ASI bisa mengatur jumlah ASI yang keluar dengan cara memencet bagian tengah sendok tersebut. Selain praktis dari segi pemberian (tidak banyak tumpah), risiko tersedak pun menurun. Namun memang tetap membutuhkan ketelatenan karena tidak seperti dot yang hanya butuh dipegang saja. Saya rencanakan adek menggunakan ini hingga usia 6mo, setelahnya saya akan mengajarinya menggunakan sippy cup/straw  cup. Alhamdulillah, sejak hari pertama menggunakan soft-cup feeder baik Mba maupun adek merasa nyaman.

Lalu apakah setelah resmi cerai hampir 2 minggu dengan dot si adek sudah bisa menyusu kembali?

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, adek sudah bisa menyusu seperti semula. Allah Maha Baik mempermudah proses ini. Saya bersyukur Allah memberikan support system luar biasa untuk saya -mulai dari suami, orang tua, mertua, bahkan pengasuh, semuanya menyadari betul pentingnya proses menyusui ini untuk kehidupan saya dan anak saya. 

Memang proses mengajari anak yang bingung puting berbeda-beda sesuai level 'kebingungannya'. Ada yang benar-benar menolak puting, ada pula yang masih mau namun lupa caranya. Tapi insyaAllah semua bisa diperbaiki -dengan relaktasi. Yang pertama jelas biarkan bayi lupa dengan dotnya. Saat proses belajar menyusu dimulai kembali, gunakan media lain untuk tetap menjaga asupan bayi. Oiya, jangan sungkan untuk ketemu konselor laktasi ya, supaya masalahmu bisa dianalisis oleh ahlinya, tepat penanganannya. 



Eh tapi anakku pakai dot tetep bisa nyusu loh!

Iya, memang ada kok yang tetep bisa, anak saya yang kedua juga alhamdulillah ga ada masalah. Tapi beneran deh, mending mencegah daripada mengobati. Ga semua anak sama.

Dih, pakai dong dot anu, anti bingput deh~

Ga ada yang bisa menjamin gengs, beneran. Baru kerasa sedihnya kalau udah kejadian >,< Udah cukup saya aja yang merasakan.

Khu khu khu, postingan ini bukan untuk menakut-nakuti ya. karena soal bingput itu fakta medis, ga cuma isapan jempol belaka, selevel La Leche League juga bahas kok (cek sumber di bawah). Jadi akan lebih baik kalau kita lebih prefentive :)

Sekian cerita menyusui saya kali ini, semoga ga ada lagi drama-drama bingput dalam perjalanan menyusui si adek, aamiin 😊





Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Menggunakan Birthball Selama Hamil dan Melahirkan

Giveaway 3rd Anniversary : Ayo Menikah

Pengalaman Periksa Retina (Rekomendasi Dokter Mata Pro Normal Di Depok)