Menolak FOMO

Wahh, hari ini merk Z ngeluarin koleksi terbarunya, dipakai sama selebgram Y kok bagus yah, duh wajib beli niy ~
Duh, kok miris ya kalau tingkat ketakutan kita akan tertinggal oleh sesuatu yang sedang hype di sosmed dijadikan sebagai pemantik untuk mengeruk keuntungan. I mean, ada ga siy orang yang meneliti tentang pengaruh banyaknya influencer/selebgram yang kamu follow dengan perilaku kamu sebagai seorang konsumen saat membeli barang? Itu baru soal barang yang mau kita pakai or konsumsi, Seberapa besar peran si influencer ini dalam pengambilan keputusan kamu dalam berbagai lini kehidupan, karir, pendidikan, keuangan, pola makan, pernikahan, sewow itu loh ternyata kita mudah ter-influence oleh kata-kata orang lain yang kita anggap dan pandang sebagai seorang panutan. 

Sayangnya, kemudahan menemukan "panutan" ini ga selalu diiringi dengan kesiapan kita dalam memilah dan memilih secara bijak. Saking banyaknya hal-hal baru di luar sana dalam tiap detiknya kita kayak merasa takut bakal ketinggalan hal-hal baru itu, thats FOMO. Aku ga tau separah apa FOMO itu bakal berpengaruh dalam hidup seseorang, tapi kalau aku baca di psychologytoday.com, seseorang yang FOMO nya parah bakal merasakan kekhawatiran berlebih, stres kalau orang lain achieve more, or being pleasure more. Parahnya, FOMO juga bikin kita ga fokus dan ga being present.
... that a relentless preoccupation with activity and novelty makes it impossible for us to be to be fully present and deeply engaged in our relationships and our life in general -Psychology Today
Aku kemana mana pegang hape siy, tapi pas ketemu orang lain, ngobrol sama orang lain, ya hape ditaroh, disimpen. Ketinggalan hape juga ga nelongso-nelongso amat. Follow orang pun mikir-mikir dulu, bakal dapat manfaat atau ga, ga sembarang follow-follow *duhjualmahal. Ketinggalan update-an orang-orang juga ga masalah. Ga merasa bersalah kalau ga ikut trend. Ga masalah ga pernah upload TikTok. Ga masalah kalau ketinggalan info terkini. Eh ada siy aku FOMO, FOMO sama hal berbau-bau parenting ((NGAKUUU)). Dan FOMO cuma di satu sisi itu aja aku ngerasanya super-insecure kadang-kadang >,< pengen baca semua buku yang orang lain baca tentang parenting, ngerasa bersalah kalau ga bisa setelaten orang lain sebagai ortu, dst, itu aja udah beradd. Makanya sekarang dikit-dikit aku ngerem ke-FOMO-an ku ini dengan lebih sadar diri. Bahasa kerennya being mindfull.

Mindfulness akhir-akhir ini mencuat sebagai bahasan bersamaan dengan selflove dan selfcare. Aku rasa salah satu penyebabnya karena paparan sosmed yang ternyata ga semuanya berdampak positif dalam kehidupan seseorang. Hari-hari ini terlalu mudah bagi seseorang untuk merasa insecure dengan dirinya sendiri, ga bersyuklur dan ngerasa kurang. Kenapa? Karena terlalu mudah kita mengakses apa yang terjadi di kehidupan orang lain (walopun sebenernya banyak juga yang fake, bahkan yang ditampilkan hanya yang "pantas" ditampilkan aja) dan dengan mudah pula membandingkannya dengan kehidupan kita.

Dengan menerapkan sikap berkesadaran, kita jadi lebih fokus dan lebih konten. Kita ga mudah terbawa arus karena kita sadar kita ga bisa asal ngikut arus. Salah-salah kecebur ke genangan berbau apa kabar ya kan ? Kita bisa memilih apa yang menjadi bagian dari hidup kita dan penting serta apa yang bisa dengan mudah kita bilang "i am not interested" aka sebodo amat. Sikap bodo amat artinya kita udah ga kaget ketinggalan info or trend or event. Kita memilih untuk percaya diri dengan pilihan kita sendiri. Ga takut bakal dicap ketinggalan atau culun atau apalah. We choose our own timeline, our own live.

Yoklah -lebih sadar diri, jangan mau kena FOMO!











Referensi

Komentar

Postingan Populer